Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Otonomi Khusus
Kebijakan Penjajah
Hubungan LN
Hukum & Demokrasi
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Kebijakan Penjajah

Ryamizard Ryacudu Minta Pemerintah Waspadai Perang Modern
By MIOL
Aug 29, 2005, 06:31

 
YOGYAKARTA--MIOL: Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu mengimbau pemerintah dan seluruh komponen bangsa untuk selalu mewaspadai perang modern yang dilancarkan negara lain terhadap Indonesia.

Menurut pria kelahiran Palembang, 21 April 1950 itu, perang modern dilancarkan dalam beberapa tahap, yaitu infiltrasi melalui beberapa bidang seperti intelijen, pendidikan, ekonomi dan politik, kemudian ekploitasi adu domba dalam bentuk opini, provokasi, kekacauan hingga perang saudara, dilanjutkan dengan cuci otak, dan menghancurkan jaringan intelijen, ekonomi, politik dan budaya.

"Perang modern harus dihadapi dengan persatuan dan kesatuan, serta penguatan wawasan kebangsaan dan nasionalisme," kata menantu mantan wapres Try Sutrisno itu ketika menjadi pembicara pada Sarasehan 60 Tahun Indonesia Merdeka yang diselenggarakan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta,

Sabtu (27/8).

Dengan nasionalisme yang kuat, kata ayah tiga anak itu, selain mampu menghadapi perang modern, juga akan mampu memulihkan kembali kehormatan Indonesia sebagai sebuah negara yang saat ini diabaikan oleh negara lain.

Lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan serta kasus sengketa blok Ambalat dengan Malaysia merupakan bukti bahwa negara tetangga itu tidak menghormati negara Indonesia.

Ketika menyinggung tentang Aceh dan Papua, suami dari Drg. Nora Trystiana itu mengatakan, jika kedua wilayah itu sampai lepas dari Indonesia maka keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan terancam, karena wilayah lain dipastikan akan menuntut kemerdekaan.

Karena itu, ujar lulusan Sesko ABRI 1996 itu, pemerintah harus segera menyelesaikan masalah yang terkait dengan dua wilayah itu agar tidak berlarut-larut dan akhirnya membahayakan keutuhan NKRI. (Ant/OL-03)
_________
Berita Terkait:
Ryamizard: Jangan Sampai Ada Negara Dalam Negara

Kapanlagi.com - Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, mengemukakan sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) senantiasa menghadapi tantangan, sehingga harus dihadapi jangan sampai berkembang praktik negara dalam negara.

"Semua kebijakan resmi di negeri ini harus kita junjung tinggi, tetapi kita harus waspada jangan sampai ada negara dalam negara, karena dalam agama Islam pun termasuk bughot atau makar," katanya dalam silaturahmi dengan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) se-Indonesia, di Jakarta, Kamis (1).


Ryamizard menyatakan, untuk menghindari perpecahan NKRI, maka bangsa Indonesia ada baiknya menjunjung tinggi silaturahmi antar-anak bangsa, sehingga dapat mencegah sedini mungkin kesalahpahaman.


"Bibit perpecahan di antara kita bisa terjadi gara-gara hilangnya silaturahmi yang menimbulkan kecurigaan macam-macam. Padahal, bisa jadi kita semua ini sebetulnya memiliki niat baik," ujar Panglima Komando Strategis dan Cadangan TNI-AD (Kostrad) periode 2000-2002 itu.


Hanya saja, kata mantan Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Jaya periode 1999-2000 tersebut, bangsa Indonesia harus mewaspadai kecenderungan diterapkannya perang modern yang mengarah ke perpecahan bangsa dan negara ini.


Konsep perang modern, menurut dia, tidak memanfaatkan senjata berbentuk alat atau fisik, melainkan menerapkan serangkaian metode yang mempengaruhi sendi-sendi perekonomian, politik dan kebudayaan.


"Selain itu, khusus di Indonesia, konsep ini berkeinginan melemahkan, bahkan menghancurkan TNI yang prinsipnya adalah tentara rakyat. Negeri ini ibarat meja, maka ekonomi, politik, budaya dan militer adalah kaki-kaki yang harus kokoh. Bila kaki ini lemah, ya hancur juga lah negeri ini," katanya.


Oleh karena itu, mantan Pangdam Brawijaya periode 1998-1999 tersebut menegaskan, bangsa Indonesia jangan sampai mau diadu domba layaknya zaman penjajahan, sehingga harus meningkatkan kesadaran moral betapa pentingnya NKRI.


"Adanya kita, karena adanya negara. Kekuatan negara akan semakin baik jika kesadaran moral bangsanya tinggi. Dalam hal ini, kita harus menutup semua celah jangan sampai ada pihak yang ingin memisahkan diri, atau berpikiran mendirikan negara dalam negara," demikian Ryamizard Ryacudu.


Sebanyak 32 anggota KPUD se-Indonesia berada di Jakarta berkaitan dengan peringatan 60 tahun Kemerdekaan RI, dan mengadakan silaturahmi dengan tokoh nasional, serta pimpinan DPR RI. (*/lpk)

Sumber: http://www.kapanlagi.com/h/0000078028.html

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece