Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Freeport MacMoRan
LNG BP Bintuni
Kegiatan Logging
Pembangunan
Alam Berbicara
Ekologi/ Ekosistem
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Freeport MacMoRan

KONSPIRASI PENEMBAKAN DI MIL 62-63 TEMBAGAPURA
By Heriyanto Pr
Aug 30, 2005, 08:15

 
- Karena Iri hati dan Kepentingan Jabatan Di PT.Freeport Indonesia, Atas Persekongkolan Antara Pimpinan PT. Freeport Indonesia dan Kopasus Melakukan Penembakan di Mil, 63 Tembagapura –

Dari Saya: Heriyanto Pr
Buat : Kawan-Kawan di KPP Jakarta Pusat

Timika – Tembagapura, 28 Agustus 2005. Dua (2) tahun saya berada di Tembagapura, dan kabar saya baik. Maafkan saya kalau saya tidak memberikan kabar kepada kawan-kawan di KPP. Saya harap perjuangan masih tetap berjalan dengan baik. Hampir dua tahun menjadi karyawan PT.Freeport Indonesia, yang memang enak dan terjamin dalam hal financial, namun batin saya kadang menderita dengan melihat kondisi masyarakat di Tembagapura. Selain berbagai macam diskriminasi yang terjadi antara karyawan maupun pelayanan terhadap masyarakat Pribumi sebagai hak pemilik dari pada wilayah Penambangan PT.Freeport Indonesia.

Kali ini laporan pertama saya adalah salah satu kasus pengadudombaan yang dilakukan oleh Militer Indonesia yang notabene adalah pengayom masyarakat Indonesia yang termasuk didalamnya adalah masyarakat Papua. Dari kondisi ini saya sebagai orang Indonesia asal Jawa sangat menyadari akan betapa besar perbedaan yang dilihat oleh kacamata Jakarta kepada masyarakat Papua. Untuk itu, pertama kalinya saya mau sampaikan konspirasi apa yang sebenarnya terjadi di balik kasus Penembakan di Mil 62-63. Kiranya ini akan menjadi sebuah pembenaran yang berarti dalam perjuangan kawan-kawan di Pulau Jawa dan Bali serta kawan-kawan pro Demokrasi lainnya.

Sudah hampir 3 tahun kasus penembakan di Mil, 63 belum terungkap juga, kasus ini menjadi misteri bagi seluruh dunia untuk mengetahui siapa sesungguhnya pelaku penembak warga negara Asing di Mil 63. Beberapa lembaga Independent maupun lembaga pemerintahan baik Indonesia maupun Amerika datang ke Mil, 63 untuk mengetahui secara langsung dan menyelidiki kasus penembakan ini, namun tidak pernah menempatkan hasil yang baik untuk mengara pada pelaku penembakannya. Dalam Kilasan Konspirasi Penembakan di Mil 63 ini saya mau memberikan sedikit kerangka konspirasi yang sedang saya ikuti dan saya cobah menggambarkannya.

Kasus ini menjadi suatu bahan cerita yang hangat di kalangan politisi, pengamat, pendidik dan bahkan di masyarakat awam. Dari perkembangan analysis baik oleh pihak pengamat, yang menangani persoalan dan masyarakat sangat bervariasi. Kelompok baru yang hari ini sedang dan juga rupanya mengetahui banyak persoalan kasus 63 mulai bersuara dimana-mana, karena rupa-rupanya target mereka melenceng dari apa yang mereka ingin untuk terlibat dalam kasus ini. Walau target lain sudah tercapai.

Tembagapura yang dingin ini membawa kami bertiga bercakap-cakap di pojok kota Tembagapura. Kami duduk dan bercerita tentang kasus Mil. 63 yang misteri tersebut. Dari beberapa diskusi yang kemudian kami cobah kaitkan dengan isu yang berkembang, baik dari pihak provocateur maupun pihak bukan provocateur yang bisa di pegang bahasa mereka, mengatakan bahwa yang paling bertanggungjawab dengan kasus penembakan Mil 63 adalah pertama, Pihak Pejabat Tertinggi asal Indonesia di Manajemen Perusahan PT.Freeport Indonesia dan Yang kedua sebagai executor adalah Kopassus.

Dari dana pencetus ides penembakan ini adalah rupa-rupanya Pejabat-Pejabat tinggi di PT.Freeport Indonesia. Hanya karena alasan (Iri Hati) bahwa, kenapa dari Pejabat tertinggi PT. Freeport Indonesia mulai dari New Orleans hingga di Indonesia-Tembagapura. Tergetnya dengan penembakan ini, kemudian orang bule jaga ada di Tembagapura “Indonesia” dan Jabatan Strategy mereka di ambil alih oleh orang Indonesia. Isu ini muncul di Timika beberapa bulan lalu setelah mendengar bahwa Janda Korban sedang menuntut pelaku pembunuhan terhadap suaminya di Parlemen Amerika Serikat Bulan lalu.

Dari beberapa cerita yang alur ceritanya memang berbeda namun intinya adalah sama ini kemudian menjadi pemberian dengan beberapa gejala-gejala target yang terjadi selama ini. Target Jabatan dan Sekuriti yang rencana di ambil Alih oleh Kepolisian menjadi lemah ketika kasus penembakan Mil, 63 mulai mencuak. Demikian juga dengan beberapa jabatan penting di Jajaran PT.Freeport Indonesia.

Kasus yang pada awalnya mau melibatkan TPN Buatan Indonesia yang dikenal di Tembagapura dengan nama khas mereka AIBON. Namun rupanya akan ketahuan kalau mereka yang anion masuk menjadi pejabat di PT.Freeport Indonesia, maka kemudian Para Pejabat yang mengincar Jabatan tersebut membayar Pembunuh bayaran dari Pihak Kopassus sepengetahuan Pimpinan Kopassus sendiri.

Strategy yang mereka pake disini adalah menggunakan nama-nama pasukan TPN-OPM seperti Anton Waman dan lainnya. Caranya adalah Kelompok Anton yang ditahan di Mil 32 Sala satu anggota TPN/OPM dari Kali kopi asal Duga. Menurut beberapa saksi mata, bahwa anggota TPN yang ditahan di Mil 32 tersebut ditembak di dalam Tahan Lalu di bawah ke Mil, 63 dan dibuang disana agar skenario pembunuhannya adalah oleh Pihak OPM. Karena menurut masyarakat yang berburuh pada saat itu yang melihat ada seseorang yang diusung keluar dari rumah tahanan di Mil 32 adalah yang mereka lihat di Koran Radar dan Timika Pos.

Sehingga menurut cerita yang berkembang dikalangan masyarakat maupun beberapa pejabat di PT.Freeport Indonesia bahwa, kasus ini adalah konspirasi kepentingan Jabatan para pimpinan di Perusahan emas raksasa milik Amerika Serikat tersebut. Cerita konspirasi ini kemudian beberapa nama-nama yang muncul, yang menurut masyarakat maupun para karyawan PT.Freeport Indonesia yang pantas untuk disebut-sebut Namanya disini antara lain adalah, Priyadi Santoro, Leksi, Andreas, Beni, J.Panataba, Movu dan kroni-kroni mereka di Security dan Manajemen PT.Freeport Indonesia.

Bukti ini muncul ketika kasus ini muncul dan tiba-tiba manajemen Freeport berubah total. Misalnya menurut Masyarakat, kalau sebelum kasus Mil, 63 terjadi mereka mudah untuk ke Tembagapura dan sebaliknya ke Timika, namun setelah terjadi kasus penembakan ini, fungsi dari CLO diambil alih oleh Pihak Security. Antara lain angkutan dari Tembagapura ke Timika, menurut mereka, kalau dulu mereka lewat CLO, mereka tidak bayar, mereka mendapat fasilitas gratis. Tapi sekarang semuanya harus di ketahui lewat Andreas dan Basuki.

Sehingga kalau mereka mau turun ke Tembagapura harus membayar Rp. 300.000, - per-orang. Setelah membayar baru mendapat surat jalan yang ditandatangani oleh Andreas. Sama halnya dengan kesaksian lainnya, Misalnya para pendulan Emas yang dulunya bebas, namun sekarang menurut mereka. Militer mulai melakukan Swiping di sepanjang Kali Kabur di Tembagapura. Security bersama ABRI membuang peralatan mereka, membakar dan bahkan menyiksa masyarakat.

Ringkasan ini sebagai Gambaran yang saya sampaikan kepada kawan-kawan Prodemokrasi di Kantor Pusat. Kemudian hari setelah saya mendapat berita lengkap saya akan mengirim lebih temperance. Sebagai Catatan akhir saya ini bahwa, Pelaku Penembak di MIL.63 adalah KOPASUS. Selain kopasus adalah berita tidak benar kawan-kawan. (Laporan Secara Lengkap Akan Saya Sampaikan Kemudian hari setelah mendapatkan data yang lengkap dari masyarakat)


© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece