|
||||||
Update
Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
|
|
Usaha Diplomasi
Hal itu disampaikan mantan KSAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu di Yogyakarta, Sabtu (27/08). "Untuk menjadi sebuah negara merdeka, Aceh dan Papua hanya tinggal deklarasi dan pengakuan internasional saja. Karena itu masalah ini harus kita sikapi dan kita renungkan dengan serius demi kecintaan kita terhadap NKRI," katanya. Di depan peserta sarasehan terbatas 60 tahun Indonesia Merdeka di kampus UGM itu, Ryamizard mengemukakan sebuah wilayah yang ingin menjadi sebuah negara merdeka, harus memenuhi sejumlah persyaratan. Misalnya pemerintahan, wilayah, tentara, bendera, lagu kebangsaan dan pengakuan internasional. "Sebagian syarat itu sudah dimiliki oleh Aceh dan Papua. Hanya tinggal deklarasi dan pengakuan internasional saja yang belum," tambahnya. Menurut dia, di Aceh sekarang dalam proses pelaksanaan dari MoU perdamaian. Dijelaskan, perdamaian memang harus tercipta tetapi harus dalam bingkai NKRI. "Negara dalam negara hukumnya adalah haram. Sementara di Papua negara asing ikut campur agar Papua menjadi merdeka. Kalau ini dibiarkan berlarut-larut, Papua pasti merdeka," katanya. Menurut dia, jika kelak Papua dan Aceh merdeka atau lepas dari NKRI, bisa dipastikan daerah-daerah lainnya juga akan menuntut untuk merdeka. "Jika itu betul-betul terjadi, maka cikal bakalnya NKRI pecah semakin nyata," tegasnya. Menurut dia, hal itu akan menyebabkan terjadinya perang saudara, pembersihan etnis dan pembunuhan massal serta pelanggaran HAM berat lainnya seperti yang terjadi di Rwanda, Somalia dan sebagainya. Lebih jauh, ia mengibaratkan NKRI sebagai sebuah meja. Saat ini empat kaki yang menopangnya sedang goyah. Keempat kaki yang menopang itu adalah politik, budaya, ekonomi dan TNI. Pilar politik nasional pada saat ini, lanjutnya sangat kuat oleh intervensi asing. Demikian pula ekonomi yang sangat tergantung dengan luar negeri dan pilar budaya saat ini tidak jelas. "Sementara TNI secara sistematis terus dihancurkan," ujarnya. Ryamizard juga mengingatkan, pada saat sekarang ini sedang terjadi perang modern yang secara tidak langsung mengedepankan kekuatan senjata. Perang modern, lanjutnya, melalui proses infiltrasi intelejen, pendidikan, ekonomi, ideology, politik dan sebagainya yang buntutnya akan melemahkan serta menguasai negara yang menjadi sasaran. Hal itu, ujarnya bisa disaksikan di berbagai negara dan bukti terbaru adalah kondisi di Irak yang kondisi kehidupannya hancur total, dijadikan negara boneka dan selalu terjadi perang saudara.(AU/OL-06) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|