Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Gerilya
Dukungan Dunia
Usaha Diplomasi
Dialog Politik
Demo/ Protes
Petisi/ Surat
Gugat Pepera 69
Penegakan Hukum
Kisah Perjuangan
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Usaha Diplomasi

Ryamizard : Aceh Dan Papua Berpontensi Lepas Dari NKRI
By Penulis: agus utantoro (MIOL)
Aug 31, 2005, 13:15

 
YOGYAKARTA--MIOL: Aceh dan Papua memiliki potensi untuk lepas dari Negara Kesatuan Republik Indones (NKRI). Pasalnya, saat ini beberapa persyaratan untuk menjadi sebuah negara telah dimiliki oleh kedua daerah tersebut.

Hal itu disampaikan mantan KSAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu di Yogyakarta, Sabtu (27/08). "Untuk

menjadi sebuah negara merdeka, Aceh dan Papua hanya tinggal deklarasi dan pengakuan internasional saja. Karena itu masalah ini harus kita sikapi dan kita renungkan dengan serius demi kecintaan kita terhadap NKRI," katanya.

Di depan peserta sarasehan terbatas 60 tahun Indonesia Merdeka di kampus UGM itu, Ryamizard mengemukakan sebuah wilayah yang ingin menjadi sebuah negara

merdeka, harus memenuhi sejumlah persyaratan. Misalnya pemerintahan, wilayah, tentara, bendera, lagu kebangsaan dan pengakuan internasional.

"Sebagian syarat itu sudah dimiliki oleh Aceh dan Papua. Hanya tinggal deklarasi dan pengakuan internasional saja yang belum," tambahnya.

Menurut dia, di Aceh sekarang dalam proses pelaksanaan dari MoU perdamaian. Dijelaskan, perdamaian memang harus tercipta tetapi harus dalam bingkai NKRI. "Negara dalam negara hukumnya adalah haram. Sementara di Papua negara asing ikut campur agar Papua menjadi

merdeka. Kalau ini dibiarkan berlarut-larut, Papua pasti merdeka," katanya.

Menurut dia, jika kelak Papua dan Aceh merdeka atau lepas dari NKRI, bisa dipastikan daerah-daerah lainnya juga akan menuntut untuk merdeka. "Jika itu

betul-betul terjadi, maka cikal bakalnya NKRI pecah semakin nyata," tegasnya.

Menurut dia, hal itu akan menyebabkan terjadinya perang saudara, pembersihan etnis dan pembunuhan massal serta pelanggaran HAM berat lainnya seperti yang terjadi di Rwanda, Somalia dan sebagainya.

Lebih jauh, ia mengibaratkan NKRI sebagai sebuah meja. Saat ini empat kaki yang menopangnya sedang goyah. Keempat kaki yang menopang itu adalah politik, budaya, ekonomi dan TNI. Pilar politik nasional pada saat ini, lanjutnya sangat kuat oleh intervensi asing. Demikian pula ekonomi yang sangat tergantung dengan luar negeri dan pilar budaya saat ini tidak jelas. "Sementara TNI secara sistematis terus dihancurkan," ujarnya.

Ryamizard juga mengingatkan, pada saat sekarang ini sedang terjadi perang modern yang secara tidak langsung mengedepankan kekuatan senjata. Perang

modern, lanjutnya, melalui proses infiltrasi intelejen, pendidikan, ekonomi, ideology, politik dan sebagainya yang buntutnya akan melemahkan serta menguasai negara yang menjadi sasaran.

Hal itu, ujarnya bisa disaksikan di berbagai negara dan bukti terbaru adalah kondisi di Irak yang kondisi

kehidupannya hancur total, dijadikan negara boneka dan selalu terjadi perang saudara.(AU/OL-06)


© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece