|
||||||
Update
Terakhir: Sep 10th, 2005 - 06:47:43
|
|
Kecelakaan
Akibat insiden ini, badan pesawat berusia 25 tahun itu nyaris hancur. Moncong depan bisa dibilang remuk, kedua sayap rusak parah terutama sayap kanan, dan baling-baling tak lagi berbentuk. Roda pesawat bahkan terlepas beberapa meter dari tempat pesawat menghunjam tanah. Jatuhnya pesawat ini diduga akibat terbang terlalu rendah dan tak mampu menanjak lagi, dalam manuver latihan antara Bandara Temindung, Samarinda dan seputar kota, diawaki Manager Operation DAS Capt K.S Waluyo yang sedang melatih Kapten (Pnb) Asturatta. Waluyo menderita luka serius di kepala dan patah pergelangan kaki kiri, sedangkan Asturatta robek di bagian mulut dan luka di bagian kaki. Beberapa saksi mata yang melihat jatuhnya pesawat itu menuturkan, sebelum jatuh, pesawat terlihat berputar-putar di udara. "Saya sedang di kantin Kantor Dinas Pendidikan bersama teman-teman. Kami mendengar suara pesawat keras sekali," ujar Slamet Suryadi. Dinas Pendidikan hanya berjarak beberapa puluh meter dari lokasi jatuhnya pesawat, bahkan dinding belakangnya berjarak hanya sekitar 25 meter dari moncong pesawat. Semula Yadi, panggilan Slamet Suryadi dan teman-temannya menyangka suara pesawat jet tempur. Ketika menoleh ke udara, alangkah kagetnya Yadi, melihat pesawat yang kemudian diketahui milik DAS tersebut terbang sangat rendah dalam posisi miring, hanya belasan meter dari tanah. Dalam hitungan sepersekian detik, pesawat menghantam tepi lapangan sofbol tersebut, kurang 10 meter dari rumah Mustariah, pemilik warung tenda di komplek olahraga tersebut. Jatuhnya pesawat yang menimbulkan suara mirip letusan itu, membuat warga sekitarnya kaget dan berteriak-teriak. Ratusan warga berlarian menuju ke lokasi jatuhnya pesawat yang juga jaraknya hanya sekitar 25 meter dari Kantor Dinas Pendidikan Samarinda. Namun warga tak langsung berani mendekati pesawat. "Kami takut pesawatnya meledak seperti di Medan," ujarnya menyebut jatuhnya pesawat Mandala Airlines Senin lalu. Warga sempat menyaksikan 2 orang terkapar di lapangan, yang kemudian diketahui sebagai Capt KS Waluyo dan Kapten (U) Asturatta. Setelah sekian menit menunggu dan dirasakan cukup aman, barulah warga memberikan pertolongan."Aduh Pak, tolong. Pinggang saya sakit sekali," tutur Waluyo kepada warga yang menolongnya. Beberapa saat kemudian, polisi dan warga sekitarnya mengangkat Waluyo dengan sebuah papan tripleks untuk mendapatkan perawatan medis. Sedangkan Asturatta terlihat dipapah beberapa warga lainnya dengan berjalan kaki. Polisi yang tiba di lokasi lapangan di bawah komando Kabag Ops Poltabes, Kompol Lukas Gunawan SIK dan beberapa perwira lainnya langsung membuat blokade terhadap lokasi jatuhnya pesawat dengan pita pembatas (police line). Dengan ambulans milik KONI Kaltim, Waluyo langsung dilarikan ke RS Dardjad Samarinda untuk mendapatkan perawatan intensif. Sedangkan Kapt Asturatta dilarikan ambulans lainnya ke RSUD AW Sjahranie Samarinda. Menurut rekan kerja kedua korban, Kapt Purwanto yang ditemui harian ini (grup Cenderawasih Pos) di ruang UGD RSUD AW Sjahranie, kedua korban sedang melakukan latihan terbang di areal Samarinda. Waluyo sebagai Manager Operasi sedang melakukan training kepada Asturatta, yang akan mendapatkan tugas sebagai kapten pilot dengan rute terbang sekitar Kaltim. Sebagai sesama pilot, Purwanto menyebutkan belum bisa memperkirakan penyebab jatuhnya pesawat berusia 25 tahun itu. Akan tetapi, diakui Purwanto, Waluyo sebagai Manager Operasi DAS memang punya tugas khusus melatih calon kapten pilot. Sejumlah warga di sekitar Bandara Temindung menyebutkan, mereka melihat pesawat itu mulai pukul 10.00 Wita terbang sekitar Bandara, bahkan beberapa kali melakukan take off dan landing"Saya waktu itu berada di bawah tower dan sempat melihat pesawat itu take off dan landing beberapa kali. Secara tiba-tiba kami diberitahu kalau pesawat itu jatuh di lapangan," ujar pegawai DAS Samarinda, Wanto. Gubernur Kaltim Suwarna AF yang meninjau lokasi sekitar satu jam setelah pesawat tersebut jatuh mengatakan, musibah ini seyogianya memperbesar semangat pemindahan Bandara Temindung ke lokasi baru di Sei Siring, Samarinda Utara. "Mungkin, jatuhnya pesawat ini memang bukan karena faktor bandara. Namun bagaimana pun Temindung memang tidak layak lagi," kata Suwarna yang ekspresi wajahnya tampak amat prihatin. Ia pun langsung menjenguk Waluyo yang dirawat di RSUD Darjad. Sementara itu Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Wilayah III Temindung Samarinda, Yusman menandaskan cuaca Samarinda kemarin dalam kondisi baik. Ia memperkirakan jatuhnya pesawat BN-2A itu bukan akibat cuaca. Hal senada juga diungkapkan Sutamsi, pengamat geometeorologi BMG Samarinda. "Dari catatan kami pada pukul 09.00 cuaca bagus, angin dari selatan hanya 10 knot. Pada pukul 10.00, kondisi tetap sama, cuma suhu yang berubah. Pada pukul 11.00, visibility dari 10 kilometer angin bertiup dari selatan dengan kecepatan 8 knot. Pada saat itu sedikit berawan pada 1.500 kaki dan cuaca benar-benar normal," tandas Sutamsi. Sementara itu Ida, petugas di menara pengawas Bandara Temindung menyebutkan pesawat tersebut sempat dua kali take off. Sekitar pukul 09.44 pesawat meninggalkan bandara, kemudian berputar-putar dan tiga kali landing. Tidak berhenti, begitu sampai di bandara langsung terbang lagi. Insiden kemarin membuat satu penerbangan DAS ke Berau ditunda. Tentang kondisi penerbang pesawat naas itu, spesialis bedah di RS Darjad, dr Darwin SpB mengungkapkan, Waluyo memerlukan operasi karena terdapat luka robek di bagian kepala depan dan pergelangan kaki kirinya patah. "Kondisi korban belum stabil, tetapi relatif baik. Korban mengalami luka robek di bagian kepala depan dan pergelangan kaki kirinya patah, tepatnya di engkel," bebernya. Ditanya luka lainnya, karena korban sempat menjerit kesakitan di daerah pinggang, Darwin belum bisa memastikan hal tersebut karena sedang dilakukan foto rontgen. "Kemungkinan lainnya kaki sebelah kanan juga patah, tetapi hal itu hanya dapat dipastikan melalui operasi bedah," katanya. (wis/ams/eff/zom/ar/ss) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|