Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Isu Kesehatan
Isu Perempuan
Isu Kesukuan
Isu Terkait
Acheh
Maluku
Timor Timur
Riau
Palu
Duka/ Belasungkawa
Isu Umum
Isu Melanesia
Isu Keagamaan
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Acheh

Soal MoU Aceh, Ryamizard Ingatkan TNI untuk Patuh dan Waspada
By SP Daily
Sep 12, 2005, 15:23

 
JAKARTA - Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Ryamizard Ryacudu mengingatkan prajurit TNI untuk mematuhi keputusan pemerintah terkait Nota Kesepahaman dengan pimpinan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Meski demikian, prajurit TNI diminta untuk tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang terjadi di Aceh.

Pandangan Ryamizard itu disampaikan kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (10/9). "TNI harus patuhi perintah atasan tapi kemudian harus tetap waspada. Jangan dibohongi terus. Itu saja pendapat saya," kata dia.

Namun, Ryamizard tidak merinci hal-hal apa saja yang perlu diwaspadai prajurit TNI terkait isi MoU itu. Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto mengatakan, ada faksi atau sempalan GAM yang tidak konsekuen melaksanakan Nota Kesepahaman itu.

Di sisi lain, ujar Panglima TNI dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR, pekan lalu, pimpinan TNI sudah bisa meyakinkan segenap prajurit di lapangan untuk mematuhi kesepakatan damai itu.

Menurut Ryamizard, kalau anggota GAM mau menyerah dan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, tentu akan diterima dengan baik. Saat dia masih menjadi Kasad, anggota GAM telah berulang kali diminta untuk menyerah dan kembali bersama-sama membangun Aceh.

Pada kesempatan yang berbeda, Ryamizard juga mengingatkan agar Bangsa Indonesia mewaspadai potensi ancaman dari sejumlah negara tetangga. Negara-negara yang perlu diwaspadai antara lain dari Malaysia, Singapura, dan Australia.

"Negara-negara itu bisa mengganggu keutuhan kesatuan negara Indonesia. Kita sudah memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dengan Malaysia, khususnya terkait masalah perbatasan," katanya, di sela-sela seminar bertema Menggali Semangat Sumpah Pemuda untuk Tegaknya Kedaulatan NKRI, Sabtu.

Pengalaman yang tidak menyenangkan dengan Malaysia itu antara lain dalam kasus sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan. Selain itu, Malaysia juga memiliki kepentingan atas Selat Malaka.

Dari kawasan selatan Indonesia, Australia berpotensi menjadi ancaman bagi Indonesia. Saat ini, pembangunan kekuatan Australia terus mengarah ke Utara, ke arah wilayah Indonesia.

Ancaman dari Australia juga telihat dari kebijakan pre-emptive negara itu yang menggunakan konsep Australian Maritime Indentification Zone (AMIZ). Selain itu, Australia juga sering merespon setiap ada gejolak di Papua.

Ancaman dari Singapura terjadi karena belum ada ketegasan tentang garis batas negara dengan Indonesia. Singapura juga sering dijadikan tempat pencucian uang oleh para konglomerat hitam dari Indonesia.

"Dengan Malayasia, Singapura, dan Australia kita bersahabat. Tapi, kepentingan nasional harus menjadi hal yang utama," kata dia. (O-1)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece