|
||||||
Update
Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
|
|
Acheh
Pandangan Ryamizard itu disampaikan kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (10/9). "TNI harus patuhi perintah atasan tapi kemudian harus tetap waspada. Jangan dibohongi terus. Itu saja pendapat saya," kata dia. Namun, Ryamizard tidak merinci hal-hal apa saja yang perlu diwaspadai prajurit TNI terkait isi MoU itu. Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto mengatakan, ada faksi atau sempalan GAM yang tidak konsekuen melaksanakan Nota Kesepahaman itu. Di sisi lain, ujar Panglima TNI dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR, pekan lalu, pimpinan TNI sudah bisa meyakinkan segenap prajurit di lapangan untuk mematuhi kesepakatan damai itu. Menurut Ryamizard, kalau anggota GAM mau menyerah dan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, tentu akan diterima dengan baik. Saat dia masih menjadi Kasad, anggota GAM telah berulang kali diminta untuk menyerah dan kembali bersama-sama membangun Aceh. Pada kesempatan yang berbeda, Ryamizard juga mengingatkan agar Bangsa Indonesia mewaspadai potensi ancaman dari sejumlah negara tetangga. Negara-negara yang perlu diwaspadai antara lain dari Malaysia, Singapura, dan Australia. "Negara-negara itu bisa mengganggu keutuhan kesatuan negara Indonesia. Kita sudah memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dengan Malaysia, khususnya terkait masalah perbatasan," katanya, di sela-sela seminar bertema Menggali Semangat Sumpah Pemuda untuk Tegaknya Kedaulatan NKRI, Sabtu. Pengalaman yang tidak menyenangkan dengan Malaysia itu antara lain dalam kasus sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan. Selain itu, Malaysia juga memiliki kepentingan atas Selat Malaka. Dari kawasan selatan Indonesia, Australia berpotensi menjadi ancaman bagi Indonesia. Saat ini, pembangunan kekuatan Australia terus mengarah ke Utara, ke arah wilayah Indonesia. Ancaman dari Australia juga telihat dari kebijakan pre-emptive negara itu yang menggunakan konsep Australian Maritime Indentification Zone (AMIZ). Selain itu, Australia juga sering merespon setiap ada gejolak di Papua. Ancaman dari Singapura terjadi karena belum ada ketegasan tentang garis batas negara dengan Indonesia. Singapura juga sering dijadikan tempat pencucian uang oleh para konglomerat hitam dari Indonesia. "Dengan Malayasia, Singapura, dan Australia kita bersahabat. Tapi, kepentingan nasional harus menjadi hal yang utama," kata dia. (O-1) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|