|
||||||
Update
Terakhir: Sep 13th, 2005 - 17:03:22
|
|
Mati Misterius
Mengapa kasus kematian Munir ini begitu sulit diungkap, padahal hasil visum menunjukkan bukti bahwa kematian Munir disebabkan oleh racun arsenik yang sengaja diberikan tatkala Munir berada dalam pesawat ke Amsterdam. Pertanyaan ini dapat berkembang, benarkah ada mafia peradilan dan kekuasaan di balik penangangan kasus ini? Jika benar ada, siapa? Atau, memang sengaja dibungkam karena banyak sekali pejabat atau mantan pejabat penting yang terlibat? Kalau kita analisis, memang terlihat kemungkinan adanya mafia peradilan dan kekuasaan di balik misteri kematian Munir itu. Sebagaimana telah dimaklumi, keberanian Munir dalam memperjuangkan hak asasi manusia (HAM) dan kasus orang hilang seperti upaya untuk mempermasalahkan penculikan 1998, peristiwa Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II, kasus Tanjung Priuk, telah membikin gerah kalangan tertentu. Oleh karena itu, bisa jadi Munir sengaja dibunuh agar berbagai kasus pelanggaran HAM di negeri ini tidak terungkap dan prosesnya dipersulit karena menyangkut eksistensi kekuasaan itu sendiri. Bacaan Kita Secara akal sehat para pelakunya mudah ditebak, akan tetapi mengapa begitu sulit diungkap ke permukaan? Jawabannya sederhana, karena hal ini menyangkut eksistensi kekuasaan dan para pemegang rahasia negara. Siapakah mereka? Inilah yang sangat sulit kita bahasakan, tetapi logika akal sehat bisa dengan mudah membuat sebuah ilustrasi. Pertama, bisa jadi para pelaku pembunuhan adalah pemegang sentral kekuasaan negeri ini yang dulu dan kini terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pelanggaran HAM, sementara Munir terus berjuang untuk mengungkap kasus-kasus itu. Kedua, kalaupun para pelakunya seperti yang diberitakan berbagai media adalah (meski masih dalam proses pembuktian atau penyidikan) kalangan sipil, tetapi dilihat dari laporan tim TPF Munir, tidaklah mungkin mereka orang sipil dalam arti ”biasa biasa saja”. Strategi pembunuhan Munir adalah strategi kelas tinggi yang dikuasai komunitas tertentu melalui training berjenjang, proses latihan yang tekun dan sangat cermat seperti sejatinya pembinaan kerja dan aparat intelijen. Ketiga, hukum di negeri ini dapat diperjualbelikan sehingga tidak ada kasus yang menyangkut perkara hukum yang bisa diputuskan secara adil. Inilah ironi besar negara hukum Indonesia ini. Tata aturan pengadilan tidak detail dan terinci sehingga terbuka peluang bagi kalangan tertentu untuk bermain mata dengan para hakim atau penegak hukum. Yang paling parah apabila terdapat campur tangan pejabat negara atau kekuasaan. Dalam konteks inilah, keadilan menjadi sangat sulit ditegakkan karena hukum telah diperjualbelikan. Penyebarannya lintas sektoral sehingga tidak ada satu kasus atau perkara hukum pun di negeri ini yang terlepas dari mafia peradilan. Dalam konteks inilah bacaan kita terhadap kasus Munir itu. Minimnya Kejujuran Satu aspek penting lain mengapa kasus Munir ini terlalu berlarut-larut sehingga kebenaran menjadi sangat sulit dihadirkan apa adanya. Faktornya adalah minimnya kejujuran para pemimpin bangsa di negeri ini. Ini disebabkan oleh tidak adanya mekanisme hukum yang memberi jaminan bagi seseorang yang mengakui kesalahannya bisa hidup dengan baik. Bisanya mereka akan terus menjadi bulan-bulanan, sasaran pemerasan para bandit yang acap kali duduk di belakang meja para hakim. Apa jadinya kalau para penegak hukum itu sendiri perilakunya justru melanggar hukum seperti menerima suap dan korupsi? Sementara pada sisi lain, tidak ada jaminan bagi seseorang yang mengakui kesalahannya bisa hidup dengan baik di negeri ini telah menyebabkan ia tidak mau berterus-terang mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Lagi-lagi situasi seperti ini merupakan celah bersemainya perilaku korupsi. Lingkaran setan mafia peradilan dan kekuasaan selama ini disebabkan oleh terjadinya krisis kepemimpinan bangsa. Dalam arti kata, hirarkhi kultural dan struktural dalam kepemimpinan kehidupan berbangsa di negeri tidak memiliki mekanisme hukum sosial yang relevan dengan upaya untuk memberantas kian mengejalanya perilaku korupsi selama ini. Saya khawatir, kasus Munir sengaja dibungkam untuk memberi efek jera bagi para aktivis HAM yang vokal dan berani memberi advokasi kepada masyarakat luas, terutama mereka yang menderita tindak kekerasan di negeri ini. Dalam konteks inilah, banyak sekali orang yang ketakutan kasusnya dibongkar Munir sehingga keinginan kuat untuk menghabisi jiwa Munir menjadi tidak terbendung. Saya khawatir pula di negeri ini banyak penegak hukum dan pemegang kekuasaan lainnya yang kasusnya menjadi target untuk diungkap Munir telah mempersulit proses penyelidikan misteri kematiannya. Secara singkat dapat kita katakan hal ini semua disebabkan oleh adanya mafia peradilan dan kekuasaan di negeri ini. Penulis adalah anggota Komisi II DPR dari Fraksi PAN © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|