Update Terakhir: Sep 13th, 2005 - 17:03:22
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Kekejaman Negara
Terorisme Dunia
Mati Misterius
Kejahatan Milisi
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Mati Misterius

Setahun Kasus Munir
By Mohammad Yasin Kara
Sep 13, 2005, 16:56

 
Setahun sudah kasus kematian pejuang HAM Munir berlalu, namun hingga kini misteri kematiannya belum juga terungkap. Aparat penegak hukum belum mampu menemukan motif dan pelakunya meskipun telah ada rekomendasi dari Tim Pencari Fakta (TPF) terkait dengan kematian Munir itu.

Mengapa kasus kematian Munir ini begitu sulit diungkap, padahal hasil visum menunjukkan bukti bahwa kematian Munir disebabkan oleh racun arsenik yang sengaja diberikan tatkala Munir berada dalam pesawat ke Amsterdam.

Pertanyaan ini dapat berkembang, benarkah ada mafia peradilan dan kekuasaan di balik penangangan kasus ini? Jika benar ada, siapa? Atau, memang sengaja dibungkam karena banyak sekali pejabat atau mantan pejabat penting yang terlibat? Kalau kita analisis, memang terlihat kemungkinan adanya mafia peradilan dan kekuasaan di balik misteri kematian Munir itu.

Sebagaimana telah dimaklumi, keberanian Munir dalam memperjuangkan hak asasi manusia (HAM) dan kasus orang hilang seperti upaya untuk mempermasalahkan penculikan 1998, peristiwa Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II, kasus Tanjung Priuk, telah membikin gerah kalangan tertentu. Oleh karena itu, bisa jadi Munir sengaja dibunuh agar berbagai kasus pelanggaran HAM di negeri ini tidak terungkap dan prosesnya dipersulit karena menyangkut eksistensi kekuasaan itu sendiri.

Bacaan Kita
Secara akal sehat para pelakunya mudah ditebak, akan tetapi mengapa begitu sulit diungkap ke permukaan? Jawabannya sederhana, karena hal ini menyangkut eksistensi kekuasaan dan para pemegang rahasia negara. Siapakah mereka? Inilah yang sangat sulit kita bahasakan, tetapi logika akal sehat bisa dengan mudah membuat sebuah ilustrasi.

Pertama, bisa jadi para pelaku pembunuhan adalah pemegang sentral kekuasaan negeri ini yang dulu dan kini terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pelanggaran HAM, sementara Munir terus berjuang untuk mengungkap kasus-kasus itu.

Kedua, kalaupun para pelakunya seperti yang diberitakan berbagai media adalah (meski masih dalam proses pembuktian atau penyidikan) kalangan sipil, tetapi dilihat dari laporan tim TPF Munir, tidaklah mungkin mereka orang sipil dalam arti ”biasa biasa saja”. Strategi pembunuhan Munir adalah strategi kelas tinggi yang dikuasai komunitas tertentu melalui training berjenjang, proses latihan yang tekun dan sangat cermat seperti sejatinya pembinaan kerja dan aparat intelijen.

Ketiga, hukum di negeri ini dapat diperjualbelikan sehingga tidak ada kasus yang menyangkut perkara hukum yang bisa diputuskan secara adil. Inilah ironi besar negara hukum Indonesia ini.

Tata aturan pengadilan tidak detail dan terinci sehingga terbuka peluang bagi kalangan tertentu untuk bermain mata dengan para hakim atau penegak hukum. Yang paling parah apabila terdapat campur tangan pejabat negara atau kekuasaan.

Dalam konteks inilah, keadilan menjadi sangat sulit ditegakkan karena hukum telah diperjualbelikan. Penyebarannya lintas sektoral sehingga tidak ada satu kasus atau perkara hukum pun di negeri ini yang terlepas dari mafia peradilan. Dalam konteks inilah bacaan kita terhadap kasus Munir itu.

Minimnya Kejujuran
Satu aspek penting lain mengapa kasus Munir ini terlalu berlarut-larut sehingga kebenaran menjadi sangat sulit dihadirkan apa adanya. Faktornya adalah minimnya kejujuran para pemimpin bangsa di negeri ini. Ini disebabkan oleh tidak adanya mekanisme hukum yang memberi jaminan bagi seseorang yang mengakui kesalahannya bisa hidup dengan baik. Bisanya mereka akan terus menjadi bulan-bulanan, sasaran pemerasan para bandit yang acap kali duduk di belakang meja para hakim.

Apa jadinya kalau para penegak hukum itu sendiri perilakunya justru melanggar hukum seperti menerima suap dan korupsi? Sementara pada sisi lain, tidak ada jaminan bagi seseorang yang mengakui kesalahannya bisa hidup dengan baik di negeri ini telah menyebabkan ia tidak mau berterus-terang mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Lagi-lagi situasi seperti ini merupakan celah bersemainya perilaku korupsi.

Lingkaran setan mafia peradilan dan kekuasaan selama ini disebabkan oleh terjadinya krisis kepemimpinan bangsa. Dalam arti kata, hirarkhi kultural dan struktural dalam kepemimpinan kehidupan berbangsa di negeri tidak memiliki mekanisme hukum sosial yang relevan dengan upaya untuk memberantas kian mengejalanya perilaku korupsi selama ini.
Saya khawatir, kasus Munir sengaja dibungkam untuk memberi efek jera bagi para aktivis HAM yang vokal dan berani memberi advokasi kepada masyarakat luas, terutama mereka yang menderita tindak kekerasan di negeri ini.

Dalam konteks inilah, banyak sekali orang yang ketakutan kasusnya dibongkar Munir sehingga keinginan kuat untuk menghabisi jiwa Munir menjadi tidak terbendung.

Saya khawatir pula di negeri ini banyak penegak hukum dan pemegang kekuasaan lainnya yang kasusnya menjadi target untuk diungkap Munir telah mempersulit proses penyelidikan misteri kematiannya. Secara singkat dapat kita katakan hal ini semua disebabkan oleh adanya mafia peradilan dan kekuasaan di negeri ini.

Penulis adalah anggota Komisi II DPR dari Fraksi PAN

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece