Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Isu Kesehatan
Isu Perempuan
Isu Kesukuan
Isu Terkait
Acheh
Maluku
Timor Timur
Riau
Palu
Duka/ Belasungkawa
Isu Umum
Isu Melanesia
Isu Keagamaan
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Acheh

Purnawirawan TNI/Polri Gelar Pertemuan Tolak MoU
By SP Daily
Sep 14, 2005, 12:59

 
JAKARTA - Sejumlah jenderal purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Selasa (13/9) menggelar pertemuan dengan agenda menolak nota kesepahaham (memorandum of understanding/MoU) pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Para jenderal itu mendesak DPR dan rakyat bersatu menolak MoU di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tersebut.

Selain para jenderal, pertemuan khusus di ruang Gemini, Hotel Hilton, Senayan, Jakarta yang dimotori Mayjen (Purn) Pol Sidharto Danusubroto dan Jenderal TNI Kiki Syahnakri tersebut, juga dihadiri sejumlah anggota Komisi I DPR, aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Organisasi Masyarakat (Ormas).

Para jenderal purnawirawan yang hadir dalam pertemuan itu di antaranya, A Kemal Idris, Sayidiman Suryohadjo, Fachrul Razi, Mutojib, Surjadi Soedirdja, Saleh Bazarah, Benny Mandalika, RK Sembiring, M Andi Ghalib, Ian Santoso, Bibit Waluyo, Budi Sudjana, Joko Subroto, A Afifuddin Thaib. Sedangkan, Eddy Sudradjat dan mantan Wapres Try Sutrisno serta Ali Sadikin, tidak kelihatan.

Sementara para politisi dan anggota DPR yang hadir di antaranya, AS Hikam dan Effendy Choirie dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB), Tjahyo Kumolo, Permadi, Panda Nababan, Max Moein, Amris Hasan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDI-P) serta Firman Jaya Daeli Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI-P. Sedangkan aktivis LSM dan Ormas yang hadir adalah Rosita Noer, Arfin Hakim (Anshor/NU) dan Sayid Mohammad (Sekretaris FKKPI).

Meski membahas masalah serius, pertemuan para purnawirawan tersebut berlangsung dalam suasana penuh tawa dan canda. Pertemuan diawali dengan pemaparan isi MoU RI-GAM di Helsinki, Finlandia 15 Agustus 2005 yang dinilai sangat melanggar UUD 1945 dan mengancam keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, oleh Sidharto Danusubroto, lalu dilanjutkan dengan dialog yang dipandu Kiki Syahnakri.

Sidharto Danusbroto yang juga Wakil Ketua Komisi I DPR dari FPDI-P itu juga menilai banyak hal dari isi MoU RI-GAM tersebut yang sangat merugikan Indonesia. MoU tersebut sama sekali tidak memberikan apresiasi terhadap perjuangan dan pengorbanan TNI/Polri mempertahankan wilayah NKRI di Aceh, malah akan dikorbankan dengan akan dibentuknya peradilan Hak Asasi Manusia (HAM) di Aceh.

Pemerintah dalam berbagai kesempatan kata Sidharto, memberikan jaminan bahwa peradilan HAM di Aceh itu, tidak berlaku surut, tetapi di lain kesempatan pemerintah mengatakan, peradilan HAM tersebut akan mengacu pada UU No 26/2000 tentang Peradilan HAM.

''UU Peradilan HAM itu, dibuat tahun 2005, itu artinya peradilan HAM bisa berlaku surut atau mundur ke belakang setidaknya lima, enam tahun. Ini jelas sangat berbahaya dan, mengancam korps TNI/Polri,'' tegas mantan Kapolda Jawa Barat itu.


Negara Federal

Sementara mantan Kabais, Ian Santoso dalam kesempatan tersebut memaparkan, selain GAM, ada kekuatan luar biasa di balik penanda tanganan MoU RI-GAM tersebut. Menurut dia, Amerika Serikat dan Uni Eropa ada di balik kasus ini karena negara-negara itu memang menginginkan Indonesia sebagai negara federal.

Berkaitan dengan itu, Ian Santoso meminta agar Komisi I DPR kompak menolak MoU dan mendesak pemerintah membatalkan kesepahaman tersebut.Senada dengan itu, mantan Kasau Saleh Bazarah meminta agar DPR menyelamatkan keadaan Republik ini. ''Saya tidak tahu caranya bagaimana, karena saya bukan politisi, tapi saya minta DPR membatalkan MoU tersebut,'' tegas Saleh Bazarah.

Rosita Noer menilai, MoU tersebut sebenarnya merupakan dosa turunan dari UU No 18/2001 yang melanggar UUD 1945. Karena itu, DPR harus menolak MoU tersebut, tanpa menafikkan upaya penyelesaian damai di Aceh.

Pernyataan keras lagi juga dilontarkan mantan Panglima Komando Strategi TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) Bibit Waluyo. ''Intinya adalah tolak MoU. Kenapa, kita telah ditipu GAM dengan MoU itu, tetapi kita sepertinya tidak mau tahu, lah ini bagaimana negara ini,'' tegasnya.

Dia juga menyatakan sangat tidak setuju jika pasukan TNI organik ditarik dari Aceh. Menurut dia, seandainya dia jadi Panglima TNI, sampai kapan pun, pasukan organik itu tidak akan ditarik dari sana.

Bibit mengingatkan, pembatalan MoU jangan lama-lama, sebab dengan makin berlarutnya masalah itu, GAM mempunyai ruang dan waktu menyusun kekuatan baru membeli senjata. (M-15)


© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece