|
||||||
Update
Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
|
|
Terorisme Dunia
Apakah memori rakyat ini dianggap pendek? Sehingga dianggap suka melupakan masa lalu. Dari mulai musibah berbagai penyakit (muntaber, demam berdarah, HIV, Flu Burung dll), hingga terakhir diambilnya kebijakan kenaikan harga BBM yang spektakuler. Tapi , tidak ekuivalen. Yang kali ini masih terasa anomali . Meski dilihat dari kacamata ilmu publikasi yang paling mendasar sekalipun, ada juga getaran yang mengarah ke situ. Tapi, siapa pelakunya? Apakah semua kejadian social politik terjadi begitu saja tanpa sebuah rekayasa? Apakah para pelaku ledakan bom termasuk kelas seorang pemimpi nasional ? Pesan apa yang disampaikan oleh pelaku pemboman di Bali? Apakah yang terjadi 12 Oktober 2002 sudah mulai dilupakan orang bahwa Bali adalah tempat yang bukan aman lagi di tanah air? Apakah ini termasuk dari “perjuangan” pihak-pihak yang ingin menghancurkan nusantara melalui teknologi memecah belah gaya modern? Bila dulu Belanda memecah belah dengan cara dukung mendukung salah satu raja yang berdekatan dengan sebuah kerajaan, maka kali ini dengan ledakan bom, membentuk sebuah opini publik, pinjaman luar negeri, penguasaan saham. Semua adalah mayoritas langkah yang sangat jitu merontokkan keperkasaan nusantara. Di Yugoslavia , setelah Tito wafat dalam waktu sekejap mereka terpecah belah. Demikian pula di Irak,setelah tumbang kekuasaan Saddam Husein, Irak menjadi Negara yang paling tidak aman di dunia. Demikian pula yang lain. Apakah Indonesia akan mengalami nasib yang sama? Sehingga usulan berganti nama menjadi Nusantara agar “nasib naas” berangsur hilang? Implikasi bom di R.AJA’S Bar and Restaurant, Kuta Square, dan Nyoman Café di dekat Hotel Four Seasan Jimbaran, Bali akan membuat kondisi Bali menjadi kembali ke titik nol dari yang diupayakan bertahun-tahun memulihkan pilu kemanusiaan setelah ratusan orang tewas pada 12 Oktober 2002. Ada kesan, rasanya tidak cukup kita membangun Tugu Peringatan terjadinya tragedi 12 Oktober 2002, menjadi kenangan kemanusiaan dan dikunjungi sanak-keluarga. Apakah dengan demikian , setelah peristiwa 1 Oktober 2005 akan membangun kembali sebuah tugu baru? Demikian seterusnya, sehingga tanah di Bali penuh puri dan tugu? Ah, inikah model bangsa yang lebih suka meninggalkan peninggalan benda-benda bukan pemikiran besar yang bermanfaat? Sekurangnya ada 5 dugaan masyarakat yang mengembara dalam menanggapi ledakan 1 Oktober 2005 : Pertama, ada kekuatan yang menggiring dan menyudutkan sekelompok orang atau pihak-pihak tertentu dengan memakai stigma teroris. Melihat dari para pelaku pemboman di Bali 2002, secara lambat laun menjadi “proposal” bagi pihak asing untuk melakukan intervensi melalui berbagai macam atensi dan asistensi. Kedua, bom dimaksudkan melemahkan perhatian masyarakat terhadap persoalan berat terhadap dampak kenaikan BBM yang di atas 100 %. Apakah ada benang merah antara kenaikan BBM dengan upaya yang dilakukan dalang pemboman? Ketiga, terungkaplah ketidakmampuan kepolisian Indonesia atas segala kejadian bom selalu kepolisian asing membantu melakukan penyisiran di lokasi kejadian. Keempat, hukum di tanah air tidak mampu mengungkap dalang pemboman yang terjadi selama ini di tanah air. Yang tertangkap barulah sekelas pelaku pemboman. Hingga kini kita tidak pernah tahu siapa sebenarnya dalang utama dari pelaku peledakan. Kelima, ada grand design internasional yang sangat berkepentingan melemahkan Indonesia. Apakah mungkin bangsa sendiri mampu melakukan tindakan secanggih tindakan intelijen kelas cyber? Apakah mutu pelaku kejahatan bangsa Indonesia mencapai telah kelas yang sangat tinggi tersebut? Bila dilihat dari kenyataan sehari-hari itu sangat tidaklah mungkin. Rekayasa opini publik sangat menentukan membentuk pandangan masyarakat. Giliran ada bom, pemerintah minta rakyat membantu untuk mencari pelaku. Giliran menaikkan harga BBM, pemerintah gak minta persetujuan rakyat. Giliran gak mampu tangani persoalan minta bantuan rakyat . Dan giliran mampu maka tekan rakyat. Inilah kelemahan intelijen saat ini. Mereka rontok bersamaan kejatuhan Soeharto. Dulu, bermimpi pun bisa terjerat pasal subversive. Lain dengan sekarang, membakar foto presiden pun dianggap ungkapan demokrasi. Sayangnya pengaruhnya tetap sama, kebijakan tidak berubah dan sang pembakar harus meringkuk ke dalam tahanan. *) Penulis adalah Direktur Eksekutif Konsorsium untuk Transparansi Informasi Publik email Kutip2003@yahoo.com,0817 145 093 © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|