Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Kekejaman Negara
Operasi Militer
Ancaman/ Terror
Militerisme
Kerjasama Militer
Terorisme Dunia
Mati Misterius
Kejahatan Milisi
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Operasi Militer

SEKITAR 40-AN PASUKAN MARINIR (AL)MENYERBU RUMAH WARGA SIPIL DI KLADEMAK I SORONG - PAPUA
By SPMNews Sorong
Oct 15, 2005, 03:34

 
SPMNews Sorong, 13 Oct 2005 00:27:37 -0700 - Bukti nyata bahwa kebijakan penyelesaian masalah Papua melalui pendekatan persuasif oleh rezim boneka imperialis SBY-JK hanya bertujuan memangsa korban nyawa orang Papua. Akibat frustasi karena diterlantarkan, Sekitar 40-an Pasukan Marinir menyerbu rumah warga sipil di pemukiman di Klademak Sorong-Papua yang tepatnya pada tanggal 8/10/2005, yang dilakukan aparat Marinir terhadap warga sekitar pukul 10 malam wit, telah terjadi penyerangan masal yang dilakukan oleh Militer (AL) yang berjumlah 40-an orang menyerang masyarakat disekitar kelurahan Klaligi, RT II Distrik Sorong Barat akhirnya menyeret, memukul, memecahkan kaca, menteror melalui telepon genggam (HP) seorang tokoh masyarakat Yansen Kafiar bahwa "bila satuan kami dimuat di koran nyawamu akan terancam. Dan pada saat penyerangan lampu listrik mati seketika bersamaan dan listrik hidup kembali setelah (bersamaan) penyerangan seusai. Akibat penyerangan itu, dapat mengakibatkan korban fisik (luka) yang dialami korban yakni John. F. Wanma (22) awalnya bersama adik-adiknya 3 orang santai memutar kaset (lagu), tape dipondok menungggu kacang hijau yang sedang dimasak. Tiba-tiba ada keributan berupa teriakan, yang sempat didengar bahwa kita diserbu militer. Namun sikap dari korban (John) bertahan karena tidak tahu masalah, dan sikapnya juga tidak curiga malahan siap untuk memberi keterangan atas penyerangan itu. Tapi adik-adiknya sempat melarikan diri dari penyerangan tersebut. Tidak lama lagi, korban (John) diseret sekitar 30 meter dengan memegang bajun krahnya (leher) dari tempat bersantai tadi. Dan korban dipukuli dengan kayu potongan 5-10 di bagian Testa, kepala, bahu, tulang belakang.

Bagian korban yang kena pukulan benda (kayu) mengalami luka terkupas, darah mati, kepala terganggu bila bergerak kekiri dan ke kanan atau goyang selalu sakit. juga dialami Hermina Jitmau ( 52) ini, sebagai seorang Janda yang sehariannya jual kangkung juga diserang Marinir yang dapat mengakibatkan kaca rumahnya bagian depan gugur, seketika dari atas sampai bawah atas penyerangan militer. Dengan penyerangan Marinir tersebut yang memakai kayu, sangkur, dan pistol dalam penyerangan tersebut. Abraham Kambu (20) yang berjalan santai, seusai pulang mengisi pulsa telp. genggamannya yang sedang komunikasi dengan teman-teman namun tiba-tiba serbuan Marinir atas dirinya. Tapi kata Abraham bahwa pa saya tidak salah, apa-apa ! bagaimana bapak pukul saya, dimana kehadiran Pasukan Marinir (AL) yang begitu besar membuat perhatian masyarakat khususnya Kota, Kabupaten Sorong dan Papua umumnya, yang mana melihat situasi dan gerakan serta aktifitas mereka, akhir membuat masyarakat Papua tidak menerima karena dimana ; kerja, jalan, makan, minum di setiap jam baik pagi, siang, sore dan malam. dimana warga sorong pusat (Sorpus) nyatakan sikap, atas perlakuan aparat militer marinir (AL) yang berada di wilayah RW II Kelurahan Klaligi, Distrik Sorong Barat Kota Sorong, yang merasa keberatan atas keberadaan aparat militer. memprotes dengan sikap menolak sikap arogan yang dilakukan oknum aparat militer (Marinir) terhadap Elias Yumame pada sabtu 8/10/2005.

Pernyataan sikap yang disampaikan oleh tokoh masyarakat, pemuda dan perempuan merupakan sikap menentang atas keberadaan angkatan militer di lingkungan mereka. Dengan pernyataan sikap ini, dapat memberi perhatian bahwa ketidakterimanya masyarakat terhadap pasukan yang begitu banyak. Yang dapat dan akan menambah korban dipihak masyarakat kecil, yang perlunya dilindungi malahan dikejar, dianiaya, diseret maupun dicacati, terhadap rakyat kecil, yang ada di tanah Papua. Atas kehadiran pasukan Marinir (AL)p ada tanggal 18 Agustus 2005, dimana Markas besar satuan angkatan laut (Mabesal) RI mengirim Personil ke Sorong, dengan menggunakan Kapal KRI Tanjung Dalpele 972. Tujuan kedatangan personil Marinir adalah untuk membangun Armada angkatan Laut di bagian kawasan Timur RI yang berkedudukan di Sorong. Kehadiran personil marinir ke Sorong sekaligus dalam rangka merubah nama Lanal menjadi Eskader. Tim Yonif I Brigif I Marinir Surbaya serta Yonif Marinir dari Lantamal V Jayapura sebagai kehadirannya sebagai tim sorvei untuk mendukung prasarana markas komando (Mako) Marinir di Papua yang berkedudukan di Sorong. Kondisi ini berkaitan dengan tim yang berjumlah 5 orang beberapa waktu yang lalu yang dipimpin langsung oleh Danyonof I Brigif I Marinir Surabaya Letkol Mar. Hendro yang didampingi Danpol Lanal Sorong Kapten laut (kh) Golkar Nowo, adapun kehadiran tim untuk melihat secara dekat/langsung sarana dan prasarana mana yang mendukung atas kehadiran satuan tugas (satgas) Marinir yang digeserkan di Sorong. Maka sementara ini, para personil Marinir ditempatkan di Aula milik Pertamina Sorong atau disamping SPBU coco Sorong pusat Klademak I.

Personil yang berjumlah 360 ini, datang lebih awal guna untuk mempersiapkan dab membangun tempat terkait pengembangan Lanal Sorong yang akan di rubagh nama menjadi Armada, personil marinir yang akan ditempatkan di armada Sorong dan rencananya akan ditempatkan 1 Brigif yang berjumlah sebanyak 3.000 ribu personil/orang. Sedangkan yang ada pada saat ini, yang berjumlah 360 untuk mempersiapkan sarana pembangunan Mako Marinir terkait pengembangan lanal Sorong. Dan personil akan ditambah tetapi waktunya belum ditentukan. Dan melalui markasa komando (mako) Marinir ini juga untuk melakukan pengamanan di kawasan Asia-Pasifik dan khususnya diseluruh tanah Papua. Sehingga pada tanggal 18 Agustus 2005. telah dihadirkan 360 personil Angkatan Laut yang dilengkapi dengan peralatan perang ; seperti kendaran jenis panser 6 truk, yang parkir didepan kem-kem depan aula Pertamina (pusat kota Sorong). Serta satu kapal perang AL yang sandar di pelabuhan Sorong.

Kehadiran Pasukan Marinir yang begitu besar, yang dapat membuat masyarakat bertanya apa semuanya ini, yang disampaikan oleh seorang tokoh ( AN) 52, yang mengkomentari kegiatan atau kehadiran Pasukan yang begitu banyak di Papua dan menanggapi mungkin di Papua ini, ada sesuatu yang sangat darurat ka apa, akhirnya doran datang dengan peralatan perang yang lengkap. Sebab dilihat bahwa kami di Papua inikan aman-aman, masyarakat berkerja mencari makan, berkantor, mengajar tidak ada gangguan yang berarti. Namun mengahdirkan aparat militer yang berjumlah banyak akan membuat masyarakat takut, bingun, resah setelah melihat gerak-gerakan atau aktifitas yang dapat dan tidak diterimanya masyarakat. Misalnya jalan, jaga, kerja, makan semua dengan penjagaan yang dilengkapi dengan senjata (siap tempur), penjagaan terjadi pada setiap jam, pagi, siang, sore dan malam dengan kekuatan militer yang ada.

Menurut tokoh masyarakat bahwa bila pemerintah menurungkan Pasukan Militer (TNI) ke suatu daerah, perlu adanya pemberitahuan terdahulu kepada masyarakat luas atas kehadiran pasukan TNI, Polri melalui media masa, elektronik yang ada di Kota atau Kabupaten Sorong atau Provinsi atas kehadiran mereka (ABRI). Sehingga masyarakat tahu kehadiran pasukan, serta penempata. Selanjutny dikerahkan Pasukan ke suatu daerah perlu disiapkan suatu tempat atau markas yang sudah dibangun, bukan menempatkan baru dibangun marakas.

Kehadiran Marinir (AL) di Papua (Sorong) yang berjumlah 360, yang telah ditempatkan 7 buah tenda dan satu Aula (Gor) Pertamina (biasa diadakan pertandingan Volly Ball) sambil menunggu penggusuran, bangunan markas komando Marinir di kawasan Timur Indonesia (Papua-Sorong) di km 16 Jl, Kalamono Sorong Kota. Hadirnya markas komando (mako) marinir Angkatan Laut yang ditempatkan diIndoensia bagian Timur ini, termasuk urutan ke 7 di Asia Paisifik, sedangkan kehadiran markas komando (mako) ini, demi menjaga keutuhan NKRI dibagian Asia Pasifik yang diketuai oleh Presiden RI (SBY). Harapan masyarakat Papua pada umumnya, bahwa dengan adanya kehadiran Pasukan Marinir yang ditempatkan di Papua (Sorong) dapat mengayomi, melindungi, memberi kepastian keamanan menjadi harapan semua komponen masyarakat. Bukan kehadiran militer membuat masyarakat bingun, ragu, takut, gelisah malahan aktifitasnya tidak jalan. Lebih lagi aparat militer membuat keonaran yang dapat merugikan masyarakat yang dianggap lemah, tidak berdaya, akhirnya terjadi (trauma, sakit, patah maupun meninggal) yang perlu dihindarkan sebagai lembaga yang memberi terjaminnya suatu kemanan bagi rakyat secara umum dan papua khususnya. Akhirnya rasa keamanan, keadilan, keselarasan, terjadi dimuka bumi ini. /engels

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece