|
||||||
Update
Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
|
|
Operasi Militer
Bagian korban yang kena pukulan benda (kayu) mengalami luka terkupas, darah mati, kepala terganggu bila bergerak kekiri dan ke kanan atau goyang selalu sakit. juga dialami Hermina Jitmau ( 52) ini, sebagai seorang Janda yang sehariannya jual kangkung juga diserang Marinir yang dapat mengakibatkan kaca rumahnya bagian depan gugur, seketika dari atas sampai bawah atas penyerangan militer. Dengan penyerangan Marinir tersebut yang memakai kayu, sangkur, dan pistol dalam penyerangan tersebut. Abraham Kambu (20) yang berjalan santai, seusai pulang mengisi pulsa telp. genggamannya yang sedang komunikasi dengan teman-teman namun tiba-tiba serbuan Marinir atas dirinya. Tapi kata Abraham bahwa pa saya tidak salah, apa-apa ! bagaimana bapak pukul saya, dimana kehadiran Pasukan Marinir (AL) yang begitu besar membuat perhatian masyarakat khususnya Kota, Kabupaten Sorong dan Papua umumnya, yang mana melihat situasi dan gerakan serta aktifitas mereka, akhir membuat masyarakat Papua tidak menerima karena dimana ; kerja, jalan, makan, minum di setiap jam baik pagi, siang, sore dan malam. dimana warga sorong pusat (Sorpus) nyatakan sikap, atas perlakuan aparat militer marinir (AL) yang berada di wilayah RW II Kelurahan Klaligi, Distrik Sorong Barat Kota Sorong, yang merasa keberatan atas keberadaan aparat militer. memprotes dengan sikap menolak sikap arogan yang dilakukan oknum aparat militer (Marinir) terhadap Elias Yumame pada sabtu 8/10/2005. Pernyataan sikap yang disampaikan oleh tokoh masyarakat, pemuda dan perempuan merupakan sikap menentang atas keberadaan angkatan militer di lingkungan mereka. Dengan pernyataan sikap ini, dapat memberi perhatian bahwa ketidakterimanya masyarakat terhadap pasukan yang begitu banyak. Yang dapat dan akan menambah korban dipihak masyarakat kecil, yang perlunya dilindungi malahan dikejar, dianiaya, diseret maupun dicacati, terhadap rakyat kecil, yang ada di tanah Papua. Atas kehadiran pasukan Marinir (AL)p ada tanggal 18 Agustus 2005, dimana Markas besar satuan angkatan laut (Mabesal) RI mengirim Personil ke Sorong, dengan menggunakan Kapal KRI Tanjung Dalpele 972. Tujuan kedatangan personil Marinir adalah untuk membangun Armada angkatan Laut di bagian kawasan Timur RI yang berkedudukan di Sorong. Kehadiran personil marinir ke Sorong sekaligus dalam rangka merubah nama Lanal menjadi Eskader. Tim Yonif I Brigif I Marinir Surbaya serta Yonif Marinir dari Lantamal V Jayapura sebagai kehadirannya sebagai tim sorvei untuk mendukung prasarana markas komando (Mako) Marinir di Papua yang berkedudukan di Sorong. Kondisi ini berkaitan dengan tim yang berjumlah 5 orang beberapa waktu yang lalu yang dipimpin langsung oleh Danyonof I Brigif I Marinir Surabaya Letkol Mar. Hendro yang didampingi Danpol Lanal Sorong Kapten laut (kh) Golkar Nowo, adapun kehadiran tim untuk melihat secara dekat/langsung sarana dan prasarana mana yang mendukung atas kehadiran satuan tugas (satgas) Marinir yang digeserkan di Sorong. Maka sementara ini, para personil Marinir ditempatkan di Aula milik Pertamina Sorong atau disamping SPBU coco Sorong pusat Klademak I. Personil yang berjumlah 360 ini, datang lebih awal guna untuk mempersiapkan dab membangun tempat terkait pengembangan Lanal Sorong yang akan di rubagh nama menjadi Armada, personil marinir yang akan ditempatkan di armada Sorong dan rencananya akan ditempatkan 1 Brigif yang berjumlah sebanyak 3.000 ribu personil/orang. Sedangkan yang ada pada saat ini, yang berjumlah 360 untuk mempersiapkan sarana pembangunan Mako Marinir terkait pengembangan lanal Sorong. Dan personil akan ditambah tetapi waktunya belum ditentukan. Dan melalui markasa komando (mako) Marinir ini juga untuk melakukan pengamanan di kawasan Asia-Pasifik dan khususnya diseluruh tanah Papua. Sehingga pada tanggal 18 Agustus 2005. telah dihadirkan 360 personil Angkatan Laut yang dilengkapi dengan peralatan perang ; seperti kendaran jenis panser 6 truk, yang parkir didepan kem-kem depan aula Pertamina (pusat kota Sorong). Serta satu kapal perang AL yang sandar di pelabuhan Sorong. Kehadiran Pasukan Marinir yang begitu besar, yang dapat membuat masyarakat bertanya apa semuanya ini, yang disampaikan oleh seorang tokoh ( AN) 52, yang mengkomentari kegiatan atau kehadiran Pasukan yang begitu banyak di Papua dan menanggapi mungkin di Papua ini, ada sesuatu yang sangat darurat ka apa, akhirnya doran datang dengan peralatan perang yang lengkap. Sebab dilihat bahwa kami di Papua inikan aman-aman, masyarakat berkerja mencari makan, berkantor, mengajar tidak ada gangguan yang berarti. Namun mengahdirkan aparat militer yang berjumlah banyak akan membuat masyarakat takut, bingun, resah setelah melihat gerak-gerakan atau aktifitas yang dapat dan tidak diterimanya masyarakat. Misalnya jalan, jaga, kerja, makan semua dengan penjagaan yang dilengkapi dengan senjata (siap tempur), penjagaan terjadi pada setiap jam, pagi, siang, sore dan malam dengan kekuatan militer yang ada. Menurut tokoh masyarakat bahwa bila pemerintah menurungkan Pasukan Militer (TNI) ke suatu daerah, perlu adanya pemberitahuan terdahulu kepada masyarakat luas atas kehadiran pasukan TNI, Polri melalui media masa, elektronik yang ada di Kota atau Kabupaten Sorong atau Provinsi atas kehadiran mereka (ABRI). Sehingga masyarakat tahu kehadiran pasukan, serta penempata. Selanjutny dikerahkan Pasukan ke suatu daerah perlu disiapkan suatu tempat atau markas yang sudah dibangun, bukan menempatkan baru dibangun marakas. Kehadiran Marinir (AL) di Papua (Sorong) yang berjumlah 360, yang telah ditempatkan 7 buah tenda dan satu Aula (Gor) Pertamina (biasa diadakan pertandingan Volly Ball) sambil menunggu penggusuran, bangunan markas komando Marinir di kawasan Timur Indonesia (Papua-Sorong) di km 16 Jl, Kalamono Sorong Kota. Hadirnya markas komando (mako) marinir Angkatan Laut yang ditempatkan diIndoensia bagian Timur ini, termasuk urutan ke 7 di Asia Paisifik, sedangkan kehadiran markas komando (mako) ini, demi menjaga keutuhan NKRI dibagian Asia Pasifik yang diketuai oleh Presiden RI (SBY). Harapan masyarakat Papua pada umumnya, bahwa dengan adanya kehadiran Pasukan Marinir yang ditempatkan di Papua (Sorong) dapat mengayomi, melindungi, memberi kepastian keamanan menjadi harapan semua komponen masyarakat. Bukan kehadiran militer membuat masyarakat bingun, ragu, takut, gelisah malahan aktifitasnya tidak jalan. Lebih lagi aparat militer membuat keonaran yang dapat merugikan masyarakat yang dianggap lemah, tidak berdaya, akhirnya terjadi (trauma, sakit, patah maupun meninggal) yang perlu dihindarkan sebagai lembaga yang memberi terjaminnya suatu kemanan bagi rakyat secara umum dan papua khususnya. Akhirnya rasa keamanan, keadilan, keselarasan, terjadi dimuka bumi ini. /engels © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|