|
||||||
Update
Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
|
|
Terorisme Dunia
Jakarta, Kompas - Peringatan perjalanan (travel warning) yang dikeluarkan Pemerintah Australia kepada warga negaranya agar berhati-hati dan menghindari perjalanan ke Indonesia dinilai Kepala Desk Antiteror Kantor Menko Politik Hukum dan Keamanan Inspektur Jenderal Ansyaad Mbai sebagai hal yang wajar. Pernyataan itu disampaikan Ansyaad, Sabtu (5/11), saat dihubungi per telepon menanggapi travel warning Pemerintah Australia, seperti dilansir dan dikutip dari situs ABC online, Jumat. Dalam pemberitaan itu Departemen Luar Negeri Australia menyatakan telah menerima informasi baru tentang kemungkinan adanya serangan teroris di Indonesia sebelum akhir tahun ini. ”Wajar saja mereka bersikap begitu. Dalam beberapa kejadian teror bom, warga negara mereka jadi korban, misalnya, kasus Bom Bali lalu. Apalagi kedutaan besar mereka juga pernah jadi sasaran,” ujar Ansyaad. Ansyaad tidak membantah kemungkinan kekhawatiran Australia muncul menyusul maraknya pemberitaan lolosnya Omar Al-Farouq dari Penjara Bagram, Afganistan, beberapa waktu lalu. Farouq, menurut Ansyaad, dikenal sebagai perwakilan jaringan teroris Al Qaeda di Asia Tenggara. Dilaporkan pula orang itu pernah bermukim dan menikah dengan perempuan Indonesia. Ansyaad belum berani memastikan apakah kementeriannya sudah menerima pemberitahuan tentang informasi dan peringatan kemungkinan aksi teror di Indonesia menjelang akhir tahun itu. Masalahnya, saat ini masih dalam suasana libur hari raya. ”Aparat Australia selama ini kan bekerja sama dengan aparat keamanan kita, terutama terkait upaya mengungkap beberapa kasus teror bom. Dengan begitu, sedikit banyak mereka tahu informasi soal apa saja yang juga kita tahu,” lanjut Ansyaad. Menurut Ansyaad, beberapa bulan terakhir Kepolisian Negara RI membongkar dan menangkap jaringan baru pelaku teror di beberapa lokasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Itu juga dijadikan bahan masukan oleh Australia. Pihak Australia tampak khawatir melihat perkembangan di beberapa daerah di Indonesia, menyusul sejumlah peristiwa, seperti di Maluku, Poso, dan Palu. Antisipasi Sementara itu, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaluddin mengatakan, berkaitan dengan kasus pelarian Omar Al-Farouq, Imigrasi dan aparat keamanan serta pihak terkait lainnya di seluruh wilayah Indonesia disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya Farouq. Antisipasi itu di antaranya dengan menyebarkan foto-foto dan informasi mengenai Farouq di seluruh pintu masuk ke Indonesia. ”Kami sudah berupaya mengantisipasi kemungkinan masuknya Farouq ke Indonesia dengan menyiagakan petugas-petugas Imigrasi di seluruh wilayah Indonesia. Petugas Imigrasi juga bekerja sama dengan aparat keamanan dan pihak terkait lainnya,” kata Hamid Awaluddin. Menurut Hamid, untuk soal Farouq, pemerintah berupaya menangkal masuknya buron itu ke Indonesia. ”Di antaranya bekerja sama dengan para pihak, terutama aparat keamanan. Semoga upaya ini berhasil karena sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, sudah 6.700 orang, dengan berbagai latar belakang ditangkal masuk ke Indonesia,” katanya. (DWA/REN) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|