Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Kekejaman Negara
Operasi Militer
Ancaman/ Terror
Militerisme
Kerjasama Militer
Terorisme Dunia
Mati Misterius
Kejahatan Milisi
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Operasi Militer

21 Anggota Separatis Menyerah, Danrem: Alasannya Karena Tidak Ada Tanda-tanda Papua Akan Merdeka
By SKH Cepos, Selasa, 08 Nov 2005
Nov 8, 2005, 11:45

 
JAYAPURA- Usaha keras yang dilakukan jajaran Korem 172/PWY untuk mengajak anggota Gerombolan Gerakan Separatis Papua (GSP) agar mau kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, tampaknya membuahkan hasilnya. Setidaknya, upaya lewat pendekatan dan penggalangan yang dilakukan selama Oktober 2005, sedikitnya 21 anggota GSB yang selama ini berjuang di wilayah Sarmi telah menyerahkan diri ke pihak TNI.

Danrem 172/PWY Kolonel Inf Asis Wanto saat ditemui Cenderawasih Pos mengungkapkan, 21 anggota Gerakan Separatis Papua (GSP) yang menyerahkan diri itu, 9 orang merupakan kelompok GSP yang bermarkas di Pantai Timur dan dan 12 orang lainnya merupakan kelompok GSP yang selama ini berjuang di wilayah Pantai Barat. " Jadi pada tanggal 24-31 Oktober lalu melalui pendekatan dan penggalangan yang dilakukan tim Intelrem 172/PWY bersama Dan Pos Tim Intelrem sektor Sarmi bekerjasama dengan Kompi Satgas Rajawali 752/VYS dengan memanfaatkan jaring intelejen eks anggota GSP yang sudah menyerah dan melakukan pendekatan terhadap para pimpinan GSP," ujarnya Asis Wanto usai menjadi pemimpin pada upacara HUT ke-42 Korem 172/PWY, kemarin.

Dijelaskan Asis Wanto, pendekatan yang dilakukan tim Intelrem terhadap para pimpinan GSP itu masing-masing dilakukan kepada Albertus Catue (Danyon GSP/B) wilayah Pantai Barat dan Manuel Saweri (Wadanyon GSP/B Pantai Timur) wilayah Pantai Barat dan timur (kelompok Marvic pimpinan Hans Uri Yuweni).

" Lewat pendekatan yang dilakukan secara intensif itulah akhirnya pada 1 November 2005, 20 orang anggota GSP yang dipimpin Manuel Saweri dan anak buahnya sebanyak 8 orang dari Pantai Timur dan Albertus Catue (Danyon GSP Pantai Barat) bersama 11 orang anggotanya dari Pantai Barat Sarmi dengan sukarela menyerahkan diri dan ingin kembali ke pangkuan ibu pertiwi lewat Muspika Sarmi, Kompi Satgas Rajawali dan Pos Tim Intelrem 172/PWY di Sarmi," paparnya.

Dikatakan, ke-8 nama anggota GSP yang menyerahkan diri pada 1 November antara lain, Manuel Saweri (Wadanyon GSP Pantai Timur (35 th) dari desa Nengke Takar Pantai Timur, Piter Dewemanser (21th), Tadius Firtar (22), Theodurus Wrefar (31), Habel Firtar (21), Kostan Wafum (26), Yakobus Dewemanser (25) dan Melky Wrefar (28). Kedelapan orang itu semua berasal dari desa Nengke Takar, Pantai Timur.

Sementara itu 12 orang anggota GSP dari wilayah Pantai Barat yang menyusul ikut menyerahkan diri ke pihak TNI pada 2 November adalah, Albertus Catue (Danyon GSP/B Marvic wilayah Pantai Barat (34), Yakomias Sawenay (31), Melyanus Wenda (31), Piter Sawenay (47), Melaky Wabrar (22), Yusri Wabrar (21), Mikail Oroway (21), Lukas Oroway (24), Yahya Wabrar (25), Kanai Yapo (23), Leo Sawenay (25) dan Mimin Sawenay (27). Mereka ini semuanya berasal dari desa Aruswar Pantai Barat.

Disinggung apa yang menjadi motivasi mereka itu menyerahkan diri dan ingin kembali ke pangkuan ibu pertiwi, menurut Asis Wanto rata-rata mereka mengaku karena sudah lelah berjuang di tengah-tengah hutan tanpa ada tanda-tanda Papua akan merdeka menjadi negara sendiri. Karena itu, mereka kembali ke masyarakat ingin menjalani hidup normal dan ingin bersama-sama membangun daerah Sarmi yang saat ini katanya telah meningkat pesat.

" Setelah mereka kembali ke pangkuan ibu pertiwi, mereka juga berharap kepada pihak pemerintah daerah Sarmi agar nasib hidupnya dapat diperhatian dan dibantu untuk menjalani hidupnya yang baru," tandas Danrem.

Disinggung berapa senjata yang berhasil diserahkan, menurut Danrem saat mereka itu menyerahkan diri ke anggota TNI, tidak satupun senjata yang dibawa karena semua senjata yang dimiliki maupun seluruh dokumen masih dipegang oleh Komandan Operasi Marvic yakni Alex Makabori dan Derek Imbiri yang saat ini keberadaanya masih di hutan.

" Saat ini semua tokoh-tokoh GSB masih dalam proses pendalaman untuk diminta keterangan lebih lanjut tentang keberadaan GSP/B lainnya yang masih ada di wilayah Sarmi sebelum akhirnya dikembalikan ke masyarakat untuk dibina dan berjanji untuk setia kepada NKRI," paparnya.

Melihat adanya anggota GSB yang menyerahkan diri secara sukarela ke pangkuan ibu pertiwa, maka kata Danrem kenyataan bahwa kelompok atau kekuatan GSB itu masih ada dan itu harus diakui bersama. Kelompok separatis itu, tidak saja dalam bentuk separtis bersenjata, tapi ada juga dalam bentuk separatis politik.

" Separatis politik itu bentuknya yakni selalu melakukan aksi demo-demo dengan beberapa tuntutan-tuntutan yang ujung-ujung adalah adalah papua ini lepas dari NKRI. Sedangkan untuk separatis bersenjata itu sendiri karena melihat kekuatan TNI yang berada di perbatasan-perbatasan cukup aktif melaksanakan kegiatan, maka sementara ini kelompok GSB itu tidak muncul," jelasnya.

Tapi dengan ditandai peristiwa yang lalu dimana banyak senjata-senjata milik TNI yang hilang atau direbut oleh anggota GSB, maka dengan sendirinya mereka itu masih ada kekuatan. Karena itulah untuk mengantisipasi munculnya GSB itu, maka prajurit yang berada di perbatasan maupun daerah terpencil harus meningkatkan kewaspadaan, keamanan dan aktif melakukan monitoring situasi perkembangan wilayah serta ikut dalam kesempatan itu juga ikut membantu masyarakat.,

" Karena itu saya minta kepada prajurit-prajurit yang berada di pelosok-pelosok atau pedalaman agar tetap menjalin kerjasama dan kebersamaan dengan masyarakat, kepala desa dan kepala distrik setempat untuk membangun desanya disamping meningkat keamanaan di wilayahnya. Sebab kalau situasi wilayah aman, maka roda atau kegiatan ekonomipun akan berjalan lancar yang sendirinya akan membantu meningkatkan kualitas kehidupan masyarakatnya," ungkapnya.

Karena itu menurut Danrem, situasi aman itu sangat penting dan harus ada ditengah-tengah masyarakat. Sehingga TNI sengaja ada dan ditempatkan di daerah-daerah yang masih rawan, sehingga perlu dijaga dan diawasi. (mud)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece