|
||||||
Update
Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
|
|
Operasi Militer
Danrem 172/PWY Kolonel Inf Asis Wanto saat ditemui Cenderawasih Pos mengungkapkan, 21 anggota Gerakan Separatis Papua (GSP) yang menyerahkan diri itu, 9 orang merupakan kelompok GSP yang bermarkas di Pantai Timur dan dan 12 orang lainnya merupakan kelompok GSP yang selama ini berjuang di wilayah Pantai Barat. " Jadi pada tanggal 24-31 Oktober lalu melalui pendekatan dan penggalangan yang dilakukan tim Intelrem 172/PWY bersama Dan Pos Tim Intelrem sektor Sarmi bekerjasama dengan Kompi Satgas Rajawali 752/VYS dengan memanfaatkan jaring intelejen eks anggota GSP yang sudah menyerah dan melakukan pendekatan terhadap para pimpinan GSP," ujarnya Asis Wanto usai menjadi pemimpin pada upacara HUT ke-42 Korem 172/PWY, kemarin. Dijelaskan Asis Wanto, pendekatan yang dilakukan tim Intelrem terhadap para pimpinan GSP itu masing-masing dilakukan kepada Albertus Catue (Danyon GSP/B) wilayah Pantai Barat dan Manuel Saweri (Wadanyon GSP/B Pantai Timur) wilayah Pantai Barat dan timur (kelompok Marvic pimpinan Hans Uri Yuweni). " Lewat pendekatan yang dilakukan secara intensif itulah akhirnya pada 1 November 2005, 20 orang anggota GSP yang dipimpin Manuel Saweri dan anak buahnya sebanyak 8 orang dari Pantai Timur dan Albertus Catue (Danyon GSP Pantai Barat) bersama 11 orang anggotanya dari Pantai Barat Sarmi dengan sukarela menyerahkan diri dan ingin kembali ke pangkuan ibu pertiwi lewat Muspika Sarmi, Kompi Satgas Rajawali dan Pos Tim Intelrem 172/PWY di Sarmi," paparnya. Dikatakan, ke-8 nama anggota GSP yang menyerahkan diri pada 1 November antara lain, Manuel Saweri (Wadanyon GSP Pantai Timur (35 th) dari desa Nengke Takar Pantai Timur, Piter Dewemanser (21th), Tadius Firtar (22), Theodurus Wrefar (31), Habel Firtar (21), Kostan Wafum (26), Yakobus Dewemanser (25) dan Melky Wrefar (28). Kedelapan orang itu semua berasal dari desa Nengke Takar, Pantai Timur. Sementara itu 12 orang anggota GSP dari wilayah Pantai Barat yang menyusul ikut menyerahkan diri ke pihak TNI pada 2 November adalah, Albertus Catue (Danyon GSP/B Marvic wilayah Pantai Barat (34), Yakomias Sawenay (31), Melyanus Wenda (31), Piter Sawenay (47), Melaky Wabrar (22), Yusri Wabrar (21), Mikail Oroway (21), Lukas Oroway (24), Yahya Wabrar (25), Kanai Yapo (23), Leo Sawenay (25) dan Mimin Sawenay (27). Mereka ini semuanya berasal dari desa Aruswar Pantai Barat. Disinggung apa yang menjadi motivasi mereka itu menyerahkan diri dan ingin kembali ke pangkuan ibu pertiwi, menurut Asis Wanto rata-rata mereka mengaku karena sudah lelah berjuang di tengah-tengah hutan tanpa ada tanda-tanda Papua akan merdeka menjadi negara sendiri. Karena itu, mereka kembali ke masyarakat ingin menjalani hidup normal dan ingin bersama-sama membangun daerah Sarmi yang saat ini katanya telah meningkat pesat. " Setelah mereka kembali ke pangkuan ibu pertiwi, mereka juga berharap kepada pihak pemerintah daerah Sarmi agar nasib hidupnya dapat diperhatian dan dibantu untuk menjalani hidupnya yang baru," tandas Danrem. Disinggung berapa senjata yang berhasil diserahkan, menurut Danrem saat mereka itu menyerahkan diri ke anggota TNI, tidak satupun senjata yang dibawa karena semua senjata yang dimiliki maupun seluruh dokumen masih dipegang oleh Komandan Operasi Marvic yakni Alex Makabori dan Derek Imbiri yang saat ini keberadaanya masih di hutan. " Saat ini semua tokoh-tokoh GSB masih dalam proses pendalaman untuk diminta keterangan lebih lanjut tentang keberadaan GSP/B lainnya yang masih ada di wilayah Sarmi sebelum akhirnya dikembalikan ke masyarakat untuk dibina dan berjanji untuk setia kepada NKRI," paparnya. Melihat adanya anggota GSB yang menyerahkan diri secara sukarela ke pangkuan ibu pertiwa, maka kata Danrem kenyataan bahwa kelompok atau kekuatan GSB itu masih ada dan itu harus diakui bersama. Kelompok separatis itu, tidak saja dalam bentuk separtis bersenjata, tapi ada juga dalam bentuk separatis politik. " Separatis politik itu bentuknya yakni selalu melakukan aksi demo-demo dengan beberapa tuntutan-tuntutan yang ujung-ujung adalah adalah papua ini lepas dari NKRI. Sedangkan untuk separatis bersenjata itu sendiri karena melihat kekuatan TNI yang berada di perbatasan-perbatasan cukup aktif melaksanakan kegiatan, maka sementara ini kelompok GSB itu tidak muncul," jelasnya. Tapi dengan ditandai peristiwa yang lalu dimana banyak senjata-senjata milik TNI yang hilang atau direbut oleh anggota GSB, maka dengan sendirinya mereka itu masih ada kekuatan. Karena itulah untuk mengantisipasi munculnya GSB itu, maka prajurit yang berada di perbatasan maupun daerah terpencil harus meningkatkan kewaspadaan, keamanan dan aktif melakukan monitoring situasi perkembangan wilayah serta ikut dalam kesempatan itu juga ikut membantu masyarakat., " Karena itu saya minta kepada prajurit-prajurit yang berada di pelosok-pelosok atau pedalaman agar tetap menjalin kerjasama dan kebersamaan dengan masyarakat, kepala desa dan kepala distrik setempat untuk membangun desanya disamping meningkat keamanaan di wilayahnya. Sebab kalau situasi wilayah aman, maka roda atau kegiatan ekonomipun akan berjalan lancar yang sendirinya akan membantu meningkatkan kualitas kehidupan masyarakatnya," ungkapnya. Karena itu menurut Danrem, situasi aman itu sangat penting dan harus ada ditengah-tengah masyarakat. Sehingga TNI sengaja ada dan ditempatkan di daerah-daerah yang masih rawan, sehingga perlu dijaga dan diawasi. (mud) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|