|
||||||
Update
Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
|
|
Militerisme
JAYAPURA- Bertepan dengan Hari Pahlawan dan empat tahun meninggalnya Ketua Presidium Dewan Papua (PDP), Theys H Eluay 10 November 2001 yang lalu, Kamis (10/11) kemarin Front Parlemen Jalanan Rakyat Papua (FPJRP)menggelar aksi unjuk rasa damai di depan Kampus Universitas Cenderawasih (Uncen), tepatnya di Gapura Kampus. Demo damai yang rencanya akan menuju ke DPRP menyampaikan berepa tuntutan politik terpaksa dibubarkan pihak kepolisian. Aksi demo 100-an orang yang dimulai sejak pukul 09.00 dengan membentangkan spanduk berwarna merah yang isinya meminta agar ada kebebasan meyampaikan aspirasi, serta tuntutan politik lainnya itu sempat tegang, bahkan nyaris bentrok dengan aparat. Kejadian ini bermula ketika aparat kepolisian mencoba mencabut spanduk yang telah dipasang di pagar kampus. Setelah berhasil melepas spanduk tersebut aparat itu kemudian berusaha untuk mengamankan spanduk yang berwarna merah itu. Puluhan massa yang melihat spanduknya dilepas dan dibawa oleh polisi kemudian berlarian mengejar polisi tersebut guna merebut kembali spanduknya. Para pendemo itu berlarian dari arah depan kampus mengejar aparat yang membawa spanduk ke arah sebelah jembatan penyeberangan. Karena merasa dikejar, aparat yang berjaga-jaga di seputar lokasi tersebut kemudian bersiap-siap dengan tameng dan tongkatnya. Namun di tengah situasi yang memanas itu spanduk yang diambil aparat bisa dipegang kembali oleh pendemo. Sehingga meskipun para pendemo sempat marah, merekapun akhirnya kembali ke kampus Uncen dan memasang kembali spanduk. Pada saat keributan yang berlangsung tidak sampai lima menit itu juga sempat memacetkan arus lalu lintas, akan tetapi setelah beberapa menit kemudian situasi kembali normal dan aparatpun tetap berjaga-jaga. Beberapa menit berikutnya, koordinator aksi Jefrison A. Pagawak melakukan negosiasi dengan aparat keamanan yang dipimpin Kabag Ops Kompol Ronald Simamora. Karena demo tidak ada ijinnya maka jika tidak segera bubar, aparat akan membubarkannya. Setelah melakukan negosiasi tersebut, akhirnya para pendemo kemudian berkumpul di bawah pintu gapura Uncen lama dan melakukan sedikit orasi dan membacakan statemen politiknya. Dalam statemen yang dibacakan oleh Jefrison A. Pagawak itu para pendemo tersebut mendesak pemerintah Belanda untuk membuka fakta sejarah seluas-luasnya dalam tindakan politiknya tanpa mempertimbangkan hubungan diplomatic kedua negara, antara Indonesia dan Belanda. Kemudian mendesak Parlemen Balanda agar segera mengundang-undangkan kajian terhadap sejarah bangsa Papua Barat. "Buka dialog internasional bagi rakyat Papua Barat yang demokratis dan bermartabat, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dengan melibatkan seluruh komponen rakyat sipil serta negara-negara yang bersangkutan yaitu Indenesia, Amerika Serikat dan Belanda atas status politik Papua Barat yang telah dimanipulasi lewat PEPERA 1969," tutur Jefri. Selanjutnya mereka menuntut pembebasan Tapol/Napol asal Papua Barat tanpa syarat dan terakhir mereka menuntut pemberian kebebasan yang seluas-luasnya bagi rakyat Papua Barat untuk berorganisasi, menyampaikan sikap politiknya, tanpa adanya politik represif negara secara legal maupun ilegal. Setelah membaca stateman tersebut kemudian berdoa dan akhirnya membubarkan diri. (ito/fud) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|