Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Kekejaman Negara
Operasi Militer
Ancaman/ Terror
Militerisme
Kerjasama Militer
Terorisme Dunia
Mati Misterius
Kejahatan Milisi
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Militerisme

Demo di Uncen Nyaris Bentrok, Aparat- Massa Sempat Rebutan Spanduk
By Cepos
Nov 11, 2005, 07:31

 
Jumat, 11 Nov 2005
JAYAPURA- Bertepan dengan Hari Pahlawan dan empat tahun meninggalnya Ketua Presidium Dewan Papua (PDP), Theys H Eluay 10 November 2001 yang lalu, Kamis (10/11) kemarin Front Parlemen Jalanan Rakyat Papua (FPJRP)menggelar aksi unjuk rasa damai di depan Kampus Universitas Cenderawasih (Uncen), tepatnya di Gapura Kampus. Demo damai yang rencanya akan menuju ke DPRP menyampaikan berepa tuntutan politik terpaksa dibubarkan pihak kepolisian.

Aksi demo 100-an orang yang dimulai sejak pukul 09.00 dengan membentangkan spanduk berwarna merah yang isinya meminta agar ada kebebasan meyampaikan aspirasi, serta tuntutan politik lainnya itu sempat tegang, bahkan nyaris bentrok dengan aparat.

Kejadian ini bermula ketika aparat kepolisian mencoba mencabut spanduk yang telah dipasang di pagar kampus. Setelah berhasil melepas spanduk tersebut aparat itu kemudian berusaha untuk mengamankan spanduk yang berwarna merah itu. Puluhan massa yang melihat spanduknya dilepas dan dibawa oleh polisi kemudian berlarian mengejar polisi tersebut guna merebut kembali spanduknya.

Para pendemo itu berlarian dari arah depan kampus mengejar aparat yang membawa spanduk ke arah sebelah jembatan penyeberangan. Karena merasa dikejar, aparat yang berjaga-jaga di seputar lokasi tersebut kemudian bersiap-siap dengan tameng dan tongkatnya. Namun di tengah situasi yang memanas itu spanduk yang diambil aparat bisa dipegang kembali oleh pendemo. Sehingga meskipun para pendemo sempat marah, merekapun akhirnya kembali ke kampus Uncen dan memasang kembali spanduk.

Pada saat keributan yang berlangsung tidak sampai lima menit itu juga sempat memacetkan arus lalu lintas, akan tetapi setelah beberapa menit kemudian situasi kembali normal dan aparatpun tetap berjaga-jaga.

Beberapa menit berikutnya, koordinator aksi Jefrison A. Pagawak melakukan negosiasi dengan aparat keamanan yang dipimpin Kabag Ops Kompol Ronald Simamora.

Karena demo tidak ada ijinnya maka jika tidak segera bubar, aparat akan membubarkannya.

Setelah melakukan negosiasi tersebut, akhirnya para pendemo kemudian berkumpul di bawah pintu gapura Uncen lama dan melakukan sedikit orasi dan membacakan statemen politiknya.

Dalam statemen yang dibacakan oleh Jefrison A. Pagawak itu para pendemo tersebut mendesak pemerintah Belanda untuk membuka fakta sejarah seluas-luasnya dalam tindakan politiknya tanpa mempertimbangkan hubungan diplomatic kedua negara, antara Indonesia dan Belanda.

Kemudian mendesak Parlemen Balanda agar segera mengundang-undangkan kajian terhadap sejarah bangsa Papua Barat. "Buka dialog internasional bagi rakyat Papua Barat yang demokratis dan bermartabat, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dengan melibatkan seluruh komponen rakyat sipil serta negara-negara yang bersangkutan yaitu Indenesia, Amerika Serikat dan Belanda atas status politik Papua Barat yang telah dimanipulasi lewat PEPERA 1969," tutur Jefri.

Selanjutnya mereka menuntut pembebasan Tapol/Napol asal Papua Barat tanpa syarat dan terakhir mereka menuntut pemberian kebebasan yang seluas-luasnya bagi rakyat Papua Barat untuk berorganisasi, menyampaikan sikap politiknya, tanpa adanya politik represif negara secara legal maupun ilegal.

Setelah membaca stateman tersebut kemudian berdoa dan akhirnya membubarkan diri. (ito/fud)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece