Update Terakhir: Nov 14th, 2005 - 10:02:18
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Gerilya
Dukungan Dunia
Usaha Diplomasi
Dialog Politik
Demo/ Protes
Petisi/ Surat
Gugat Pepera 69
Penegakan Hukum
Kisah Perjuangan
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Kisah Perjuangan

Di Jayapura, Polisi Larang Aksi Front Pepera PB Dalam Rangka Penyambutan Pelurusan Sejarah Papua Barat
By SPMNews Headquarters
Nov 14, 2005, 09:49

 
Spanduk Aksi yang dipasang di samping kiri Gapura Utama Lapngan Trikora Abepura : "Act Of Free Choice is Lies. We Need Fresh Referendum!"

Jayapura – (SPMNews) –- AKSI Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat (Front Pepera PB) hari ini, Senin (14/11) di Jayapura dalam rangka menyambut peluncuran buku karya Profesor P.J. Drooglever yang berjudul Een Daad van Vrije Keuz: De Papoea’s van westelijk Nieuw-Guinea en de grenzen van het zelfbeschikkingsrecht (Amsterdam, Uitgeverij Boom, 2005) pada hari Selasa (15/11) besok di Den Haag, Belanda, dilarang oleh Aparat Kepolisian Republik Indonesia dengan alasan tidak ada koordinasi antara Polda Papua dan Polresta Jayapura dengan Polsek Abepura soal Aksi ini. Akhirnya, sekitar 200-an Massa Aksi membubarkan diri dengan tenang setelah selama 6 Jam bertahan di Lapangan Trikora Abepura dibawah guyuran hujan sambil mendengarkan Orasi-Orasi Politik.

Selpius Bobii sebagai penanggung jawab Aksi Damai tersebut dalam Konferensi Pers mengatakan kepada para wartawan bahwa dirinya sangat menyesalkan tindakan Polisi (Polda Papua dan Polresta Jayapura) yang tidak melakukan koordinasi dengan Polsek Abepura tentang Aksi Massa hari ini, padahal sudah ada kesepakatan antara dirinya dengan Dir Intelkam Polda dan Kasat Intel Polresta Jayapura bahwa Aksi Massa akan berlangsung dengan tenang dan damai.

"Secara lisan kami sudah lakukan negosiasi dan mereka (Polda Papua dan Polresta Jaypura-red) mengijinkan Aksi Massa kita dengan catatan bisa menjaga keamanan, namun informasi itu belum disampaikan kepada Kapolsek Abepura. Akhirnya, karena informasi belum disampaikan maka pihak Polsek Abepura tidak mengijinkan kita untuk ke DPR-Papua. Dengan demikian, komunikasi dan dengosiasi yang kami bangun dengan Polisi itu dimentahkan kembali. Ini yang saya sebagai penggungjawab bersama kawan-kawan dan Massa Aksi agak kecewa, mengapa kita sudah negosiasi tapi informasi belum disampaikan kepada pihak Polsek Abepura", jelas Bobii.

Ketika ditanya para wartawan tentang kegiatan selanjutnya pada hari Selasa (15/11) besok, Bobii mengatakan bahwa dirinya bersama beberapa teman akan pergi bernegosiasi lagi dengan pihak Polda dan Polresta Abepura yang akan difasilitasi langsung oleh Kapolsek Abepura.

"Kami akan pergi bernegosiasi lagi dengan Polda Papua dan Kapolresta supaya besok itu bisa dibuka ruang demokrasi yang besar bagi Rakyat Papua untuk menyambut Pelurusan Sejarah Papua Barat itu. Rakyat Papua mau melihat letak kebenarannya, karena selama ini Indonesia mengklaim bahwa Integrasi 1 Mei 1963 dan Pepera 1969 adalah Sah, tetapi rakyat Papua menilai bahwa Integrasi 1 Mei 1963 dan Pepera 1969 itu cacat hukum, maka kami mau menyambut Peluncuran Sejarah Papua Barat itu dengan gembira, lapang dada, dengan tulus hati, maka tolong buka ruang demokrasi bagi kami untuk menyambut itu", jelasnya panjang lebar.

Menurut Sekjen Front Pepera Papua Barat itu, apabila Polisi tidak mengijinkan Aksi Massa untuk ke DPR-Papua besok, maka semua Massa Aksi dari Sentani dan sekitarnya, Abepura dan sekitarnya, maupun Jayapura dan sekitarnya akan diarahkan ke Lapangan Trikora Abepura dan akan diadakan satu Perayaan besar-besaran dalam rangka penyambutan Pelurusan Sejarah Papua. Ada Doa Syukur, Orasi-Orasi Politik dan setelah itu Pembacaan Statement Politik yang sudah disiapkan dalam rangka Penyambutan Pelurusan Sejarah Papua Barat itu.

Sekedar diketahui, Massa Aksi sebelumnya berkumpul di dua titik sejak pukul 07.00 WPB, masing-masing di Lapangan Trikora Abepura dan Taman Imbi – Jayapura. Menurut rencana, Aksi Massa kali ini akan dipusatkan di Kantor DPR-Papua. Karena alasan yang tidak masuk akal dari Polisi soal ijin aksi, maka Massa Aksi di Lapangan Trikora Abepura dan Taman Imbi – Jayapura membubarkan diri sekitar pukul 13.10 WPB setelah Penaggungjawab dan Para Korlap Aksi di kedua titik kumpul itu berkoordinasi secara efektif.****

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece