|
||||||
Update
Terakhir: Nov 16th, 2005 - 07:15:52
|
|
Sejarah Papua Barat
Mereka menggelar doa syukur dan orasi politik serta pernyataan politik di Lapangan Trikora, Selasa (15/11). Buku yang diluncurkan itu berjudul Een Daad van Vrije Keuz De Papoea’s van westelijk Nieuw-Guinea en de grenzen van bet zelfbeschijjingsrecht. Ratusan massa yang awalnya akan menggelar unjuk rasa ke kantor DPRD Papua merasa kecewa karena tidak diizinkan pihak kepolisian. Namun setelah menerima penjelasan dari Sekjen Front Pepera Papua Barat, Selfius Bobi, akhirnya massa tenang meski sebelumnya ada yang sempat menolak. Mereka membawa poster dan spanduk dengan berbagai tulisan, yang intinya ucapan syukur dan terimah kasih kepada pemerintah dan Parlemen Belanda (Prof P.J. Drooglever) atas perhatiannya terhadap Papua Barat melalui kajian dan penelitian hasil Pepera. Massa yang dijaga ketat Satgas Papua juga membawa sejumlah bendera dari kain hitam tertuliskan ’M’. Massa yang berkumpul sejak pukul 08.00 menggelar orasi secara bergantian dilanjutkan dengan doa syukur. Mereka mengucap syukur dengan peluncuran buku hasil penelitian Prof Drooglever tersebut. Massa bubar pada pukul 13.30 setelah menggelar doa bersama secara teratur. "Kami berharap bahwa hasil penelitian Prof Drooglever akan ikut berperan dalam mengungkapkan kebenaran sejarah Papua Barat yang selama ini terus diabaikan, ditutupi, dan tidak mau didialogkan oleh berbagai pihak, terlebih pemerintah Indonesia," papar Selfius Bobi saat membacakan tuntutan politiknya. Kepada wartawan Selfius Bobi mengatakan, hasil penelitian tersebut akan ditindaklanjuti pihaknya dengan melakukan konsolidasi secara damai. Bahkan, menurutnya, pada 28 November nanti pihaknya akan mengeluarkan seruan mogok sipil besar-besaran di Papua. "Pada 28 November kami akan mengelurkan seruan mogok nasional secara besar-besaran. Aksi-aski ini kami lakukan sebagai tindak lanjut hasil penelitian Pepera tersebut," katanya. (ito) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|