Update Terakhir: Nov 18th, 2005 - 13:53:58
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi
Sejarah Papua Barat
Links
Buku/ Paper



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Sejarah Papua Barat

Dua Politisi Belanda Beda Pendapat Soal Sejarah Papua
By http://www2.rnw.nl/rnw/id
Nov 18, 2005, 13:44

 
Sebastiaan Gottlieb, 16 November 2005

Di Negeri Belanda, laporan Profesor Pieter Drooglever tentang Pepera di Papua tahun 1969 menyebabkan ketegangan politik antara Menteri Luar Negeri Ben Bot dengan pendahulunya, Jozias van Aartsen yang sekarang memimpin partai konservatif VVD. Menlu Bot menolak menerima laporan Profesor Drooglever, karena menurutnya laporan itu tidak ditugasksan oleh pemerintah tapi oleh parlemen Belanda de Tweede Kamer. Jozias van Aartsen membantahnya dan memandang penelitian itu sebagai penugasan pemerintah.
Ben Bot (kiri) dan Van Aartsen (kanan)


Bukan inisiatif pribadi

Ketika menjabat Menteri Luar Negeri pada tahun 2000, Jozias van Aartsen menugaskan Institut Sejarah Belanda ING untuk meneliti kejadian persisnya bagaimana Negeri Belanda pada tahun 1962 sampai setuju menyerahkan Papua kepada Indonesia. Keputusan penugasan itu diambil berdasarkan mosi Eimert van Middelkoop, dari fraksi partai kristen kecil GPV, sehingga menurut Van Aartsen itu bukan inisiatif pribadinya.

Penelitian Profesor Drooglever menyimpulkan bahwa Negeri Belanda tidak berbuat banyak dalam menolong orang Papua. Di bawah tekanan Amerika Serikat, Belanda pada tahun 1962 akhirnya setuju menyerahkan Papua yang waktu itu disebut Irian Barat kepada Indonesia. Syaratnya adalah, orang Papua harus menyatakan apakah mereka memang bersedia untuk masuk NKRI. Menurut Drooglever, Pepera yang diadakan tahun 1969 adalah sandiwara belaka. Indonesia memanipulasi dan menindas rakyat Papua sehingga referendum itu secara unanim menghasilkan dukungan bagi kekuasaan Indonesia di Papua.

Inti perbedaan pendapat

Baik Menteri Luar Negeri Bernard Bot maupun pendahulunya Jozias van Aartsen setuju bahwa penelitian sejarah ini tidak akan membawa dampak politik. Keduanya tidak melihat alasan untuk mengubah kebijakan pemerintah Belanda terhadap Papua dan integritas wilayah Indonesia. Yang jelas, perbedaan pendapat antara Bot dengan Van Aartsen hanya berkisar pada pertanyaan apakah penelitian itu atas penugasan pemerintah Belanda atau tidak. Bot menyangkal pemerintah Belanda mengeluarkan penugasan itu, karena itu ia tidak bersedia menerima hasil akhirnya. Terutama juga karena ia tidak ingin mengorbankan hubungan Belanda dengan Indonesia. Sehari sebelumnya Ben Bot sudah mengeluarkan kertas kerja tentang kehendaknya untuk memperlebar hubungan bilateral Jakarta dengan Den Haag.

Bot patut disalahkan

Eimert van Middelkoop anggota partai protestan kecil GPV yang sekarang bernama Christen Unie menyebut Bot patut disalahkan karena tidak hadir pada peluncuran buku rofesor Drooglever. "Menlu Bot seharusnya bisa menggunakan kesempatan untuk melanjutkan karya ayahnya," demikian van Middelkoop. Maklum ayah Menlu Bot pernah menjadi pegawai negeri Belanda di Hindia Belanda dan pada tahun 1959 sampai 1963 juga pernah menjabat Menteri Muda urusan Papua.

Diam saja

Parlemen Belanda, de Tweede Kamer, juga tidak ingin berbuat apa-apa dengan laporan Profesor Drooglever. Parlemen Belanda tidak ingin mengutik-utik integritas teritorial Indonesia. De Tweede Kamer berpendapat Indonesia harus melanjutkan rencana pelaksanaan Undang-Undang Otonomi Khusus Papua. Walaupun semua pihak setuju bahwa laporan itu tidak layak mendapat langkah politik, beberapa kalangan di Papua justru mendesakkan kemerdekaan wilayahnya. Menlu Bernard Bot kembali bergegas untuk menyatakan bahwa Negeri Belanda tidak akan mendukung kehendak semacam ini. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa laporan Profesor Drooglever tidak lebih dari lampiran kesekian kalinya dalam sejarah kolonial Belanda, tanpa ada tindak lanjutnya, apalagi upaya memperbaiki perlakuan tak terpuji Belanda terhadap rakyat Papua.


© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece