Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Kekejaman Negara
Operasi Militer
Ancaman/ Terror
Militerisme
Kerjasama Militer
Terorisme Dunia
Mati Misterius
Kejahatan Milisi
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Militerisme

Liborius Oka Dibunuh Oleh Praka Zulkarnain Lubis, Anggota Kostrad Yonif 643/WNS Di Assikie – Boven Digoel
By SPMNews Maro
Dec 5, 2005, 06:51

 
Laporan B.W.Ambotweng
Koresponden SPMNews Maro
Merauke – Papua Selatan

"Nyawa Orang Papua tidak ada harga kalau Papua tetap menjadi bagian Integral dari NKRI", itulah kalimat yang diucapkan oleh Rakyat Papua Selatan ketika mendengar berita kematian maupun melayat secara langsung sebagai tanda belasungkawa atas kematian Liborius Oka (35 Thn).

Liborius Oka, Pria Suku Muyu yang akrab dipanggil Lib Oka (Lib), dibunuh oleh Praka Zulkarnain Lubis, Anggota Kostrad Yonif 643 Wanara Sakti (WNS), pukul 03.30 WPB, Kamis (1/12) lalu. Kostrad Yonif 643/WNS adalah Satuan TNI yang ditugaskan untuk mengamankan Operasional PT. Korindo Group, sebuah Perusahaan Kongsi Korea Selatan dan Indonesia yang sedang merampok Hutan milik Suku Awyu, Wambon, Muyu dan Marind Ndek di Assikie – Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Almarhum Lib adalah Karyawan PT. Korindo Group di Bagian Personalia dan sekarang terdaftar sebagai Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Boven Digoel pada Dinas Pertanian, Sub Bid. Peternakan.

Praka Lubis Pernah Dipergoki Sedang "Makan" Farida, Istri Tajuddin

Praka Lubis bisa mengamuk secara membabi buta sampai mencabut nyawa Lib karena dirinya diketahui sering "Makan" (berselingkuh) dengan Farida, adik ipar Lib. Kejahatan Praka Lubis itu bermula ketika sekitar pukul 03.00 WPB, Lib dan istrinya yang sudah tidak tahan mendengar pembicaraan orang tentang perselingkuhan antara Farida dan Praka Lubis (mereka pernah dipergoki sedang "main" di hutan sekitar areal Perusahaan), pergi ke rumah Farida dan Tajuddin dengan maksud untuk menegur Farida di depan suaminya karena tindakannya sangat memalukan dan telah menjadi buah bibir orang.

Sampai di rumah Tajuddin di BTN – Korindo Assikie, Anna Marlisa (istri Lib) langsung mengetuk pintu depan sambil memanggil nama Farida berulang kali, sedangkan Lib langsung menuju pintu belakang. Sekitar 15 menit, tidak ada jawaban dari dalam rumah. Tetapi, rupanya Farida telah mengetahui bahwa kakak perempuan dan iparnya bermaksud menegur dirinya di depan suaminya (Lib dan Anna pernah beberapa kali menegur Farida). Secara mendadak Farida langsung membuka pintu belakang dan kabur menuju Pos Badak - Kostrad Yonif 643/WNS yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah Tajuddin. Farida berlari sambil berterik-teriak : "Libo kejar saya, Libo kejar saya"!

Saat Farida tiba di Pos Badak sekitar pukul 03.20 WPB, Praka Rusdianto yang sedang melaksanakan tugas jaga langsung membangunkan 3 rekannya, masing-masing Praka Zulkarnain Lubis, Praka Rosadi dan Serda Rony Heryanto. Mendengar pengaduan dari Farida bahwa dia dikejar oleh Lib, keempat Anggota Kostrad itu langsung bergegas menuju rumah Tajuddin. Tiba di rumah Tajuddin, Praka Lubis yang sudah beringas langsung bertanya kepada Anna sambil berteriak : "Mana Libo, Mana Libo"?. Anna kemudian menjawab : "Kenapa cari Libo, ini ada saya, isterinya". Mendengar jawaban Anna, Praka Lubis langsung melepaskan tembakan ke arah Anna tetapi Anna sempat menghindar dan langsung menahan laras senjata jenis SS-1 itu. Terjadilah tarik-menarik antara Anna dan Praka Lubis dan saat itu, Praka Lubis langsung memukul Anna di bagian bibirnya. Karena mendapat pukulan, Anna berteriak sama Lib bahwa dia dipukul oleh Praka Lubis.

Lib yang melihat istrinya dipukul oleh Praka Lubis datang mendekati mereka dengan maksud melerai pertengkaran dan perkelahian yang tidak seimbang itu. Tetapi, pada saat Lib mendekat, Praka Lubis langsung menembak ke arah lutut kiri Lib dan saat itu, Lib terjatuh. Lib kemudian berusaha berdiri dengan susah dengan teriakkan : "Kenapa kamu tembak saya"? Lib berusaha mendekati Praka Lubis, tetapi Praka Lubis mengeluarkan tembakan kearah dada Lib. Lib langsung jatuh terkapar di tanah, dan Praka Lubis melompat mendekati Lib yang sudah dalam keadaan tidak berdaya itu dan menendang mukanya. Setelah menendang, Praka Lubis kemudian memukul muka Lib dengan Popor Senapan. Akibatnya, mata dan bibir bagian kiri Lib mengalami luka robek. Melihat suaminya sudah terkapar di tanah, Anna mendekat dan mendapati suaminya sudah tidak bergerak, meninggal di tempat.

Saat Lib dieksekusi langsung oleh Praka Lubis, ketiga rekan Lubis yang lain masing-masing Praka Rusdianto, Praka Rosadi dan Serda Rony Heryanto tetap mengawasi dan mengamankan lingkungan sekitar. Mereka menjaga, jangan sampai ada bantuan terhadap Lib dari keluaraga dekatnya, teman-temannya maupun Orang Papua lain.

Berdasarkan pemeriksaan luar oleh dr. Firman dari Poliklinik PT. Korindo Group di Assikie, Lib mengalami luka di bagian dada agak ke kanan (peluru menembusi jantungnya), luka di bagian lutut kiri (juga ditembusi peluru). Selain luka di dada dan lutut, Lib juga mengalami luka robek di bagian mata kiri (3 cm) dan di bagian bibir kiri. Menurut dr. Firman, Lib mengalami luka akibat tembakan dan pukulan dengan benda keras, dan korban meninggal di tempat kejadian.

Atas permintaan keluarganya, jenazah Lib diberangkatkan ke Merauke hari itu juga pada pukul 17.15 WPB dengan menggunakan mobil. Jenazah disemayamkan selama 1 hari dan kemudian dimakamkan di Merauke pada hari Sabtu, (3/12) lalu.

Pembohongan Kasrem Untuk Melindungi Pembunuh

Kematian Lib yang tragis itu, sekalipun terbukti bahwa dirinya dieksekusi oleh Praka Lubis tanpa kesalahan yang setimpal dengan hukuman tembak di tempat, Kasrem 174 Anim Ti Waninggap Letkol Kav. Toto Surono ketika dikonfirmasi oleh para wartawan, seenaknya menyatakan bahwa Lib ditembak mati karena menyerang dan ingin merampas senjata milik Praka Lubis. Menurut Kasrem, sebelum menembak Lib, Praka Lubis sempat memberikan tembakan peringatan sebanyak 3 kali, namun tidak dihiraukan oleh Lib maka akhirnya Praka Lubis mengarahkan senjata ke dada Lib dan menembaknya. Kasrem Surono juga menyatakan bahwa Anna dan seorang anak tiri Lib bernama Eko juga sempat menyerang Praka Lubis, memukuli dan merobek bajunya.

Pernyataan Kasrem 174 Anim Ti Waninggap ini tidak benar dan bertentangan dengan kronologis kejadian yang sebenarnya. "Dia (Kasrem-red) bermaksud untuk melindungi Praka Lubis, makanya dia seenaknya bicara begitu sama para wartawan", ujar seorang kerabat dekat Almarhum kepada SPMNews Maro.

Kasrem Toto Surono juga sedang melakukan pendekatan keluarga dengan meminta bantuan Wakil Bupati Boven Digoel, Marcel Yomkondo, untuk membujuk keluarga Lib agar tidak perlu mempersoalkan penembakan ini sampai ke tingkat yang bisa membahayakan Korps TNI. Marcel diminta bantuannya karena selain masih punya hubungan keluarga dengan Lib Oka, beliau adalah Tentara Aktif berpangkat perwira yang dikaryakan sebagai Wakil Bupati. Sebelum kembali ke Papua pada tahun 1998, Marcel Yomkondo berbasis di Mabes Kostrad Pusat. Lulusan pertama SMA Negeri 1 Merauke ini mendapat kesempatan menempuh pendidikan Perwira karena keberhasilannya membantai Rakyat Melanesia di Timor Leste saat operasi-operasi TNI yang penuh darah dilancarkan di sana.

Sampai informasi ini di-upload ke Website ini, belum ada penyelesaian yang tuntas terhadap kejahatan ini karena Kronologis kejadian yang sesungguhnya, yang disampaikan oleh Anna Marlissa, Istri Lib yang adalah saksi utama, ternyata dianggap sebagai pembohongan. Dandim 1707 Merauke, Danyon Satgas 643/WNS, Dantim Intel Korem 174 Anim Ti Waninggap yang langsung bertolak menuju Assikie setelah mendapat informasi penembakan ternyata lebih mempercayai informasi versi TNI seperti disampaikan oleh Kasrem 174 Anim Ti Waninggap Letkol Kav. Toto Surono.****

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece