Update Terakhir: Dec 22nd, 2005 - 06:05:31
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Otonomi Khusus
Pemekaran
Kebijakan Penjajah
Hubungan LN
Hukum & Demokrasi
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Otonomi Khusus

Kebijakan Militer Tak Sejalan dengan Otonomi Khusus
By Kompas
Dec 22, 2005, 06:03

 
Setelah berjalan sekitar empat tahun, otonomi khusus di Papua dinilai dilaksanakan dengan cara yang tidak konsisten. Salah satu masalah mendasar adalah kebijakan militer berikut penempatan pasukan di Papua yang dianggap tidak sejalan dengan otonomi khusus.

Temuan itu diperoleh tim kerja Panitia Ad Hoc I Dewan Perwakilan Daerah yang mengunjungi Papua pada akhir bulan November 2005. Seperti disampaikan Ketua PAH I Muspani (Bengkulu) di Jakarta, Kamis (15/12), inkonsistensi dalam implementasi otonomi khusus menimbulkan ketidakpercayaan yang berlarut-larut. Terbukti, tuntutan politik orang Papua tidak diakomodasi dengan cara yang jelas. Dialog tidak pernah terbangun dengan baik sehingga keinginan dan kebutuhan orang Papua tidak terkomunikasikan dengan baik.

Muspani mengingatkan, otonomi khusus merupakan jawaban atas tuntutan politik rakyat Papua melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi Pemerintah Indonesia, otonomi khusus dianggap sebagai penyelesaian final.

Akan tetapi, yang mengecewakan rakyat Papua adalah kebijakan militer yang tak diatur secara jelas dan malah menambah resah rakyat. Ada gugatan, apakah memang penempatan tentara di Papua memang harus sebanyak sekarang. Ada anggapan, ada atau tidak ada otonomi khusus, militer tetap menjadi kekuatan menakutkan bagi rakyat Papua.

Penempatan tentara sampai ke pelosok kampung dan tindakan represif yang dilakukannya semakin membuat masyarakat Papua tidak nyaman sehingga banyak di antara mereka lari ke perbatasan karena trauma. Jika kondisi itu dibiarkan, maka keinginan untuk merdeka kembali tumbuh menguat. Kami menyarankan kebijakan ini dievaluasi kembali, ungkap Muspani.

Muspani juga menyebutkan tuntutan rakyat Papua terhadap Pemerintah Indonesia, termasuk pelurusan sejarah pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 yang dinilai tidak demokratis. Penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia juga masih terus berlarut, terbukti dengan pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang belum juga terwujud. (dik) (Sumber: Kompas - Jumat, 16 Desember 2005)



© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece