|
||||||
Update
Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
|
|
Duka/ Belasungkawa
Sedikit ulasan dari hasil pengamatan prosesi pemakaman Dr. JP Salossa, M.Si di Jayapura dan sedikit ulasan tentang pemakaman-pemakaman tokoh Papua lainnya di Port Numbay katakan Theys Hiyo Eluay dan Arnold C Ap (seorang Budayawan dan Musikus Legendaris Papua). Semoga bermanfaat dan akhirnya saya sampaikan Selamat Natal 25 Desember 2005 dan Selamat Menyambut Tahun Baru 1 Januari 2006. Salam Perjuangan Piri Ndobo ____________________________________ Port Numbay, December 21, 2005 Semenjak Gubernur Provinsi Papua Dr. Jacobus P. Solossa, M.Si meninggal 19 Desember 2005 lalu di Kota Port Numbay, Jayapura Provinsi Papua 2 hari berturut-turut yakni tanggal 20-21 Desember 2005 aktivitas perkantoran dan pusat perbelanjaan lumpuh total. Belakangan diketahui bahwa Pemerintah Provinsi Papua mengumumkan hari libur istimewa bagi para pegawai negeri dan pegawai swasta di Provinsi Papua. Keistimewaan bagi Pejabat Papua Berbeda dengan ketika penculikan dan pembunuhan terhadap Theys Hiyo Eluay (Ketua PDP) dan sekaligus pemimpin Adat Keondoafian di daerah Sentani dan bahkan telah diakui melalui pengakuan Pemerintah Provinsi Papua almarhum Papua adalah Ketua Lembaga Masyarakat Adat Papua yang dalam peranan dan fungsi pengabdian pada masyarakat tidak kalah penting dengan posisi seorang Gubernur, tidak ada hari libur istimewa walaupun beliau dibunuh secara tidak manusiawi dan keji seluruh Pegawai Negeri tetap menjalankan tugas kesehariannya dan aktivitas ekonomi jalan normal di seantero kota Port Numbay kecuali Sentani dengan terjadinya amuk massa dan beberapa toko dibakar massa sehingga tidak jalan secara lancar. Ketidakadilan dalam segala aspek Dari realita ini membuktikan kepada kita bahwa ketidakadilan di Papua tidak hanya dari satu sisi seperti pelanggaran hak asasi manusia (penganiayaan, intimidasi, teror, penangkapan sewenang-wenang, penahanan dan pembunuhan) tetapi juga terjadi pada pada aspek lain seperti sosial, ekonomi, kebudayaan, kesehatan dan pendidikan. Ketika mau jujur maka alm. Theys Hiyo Eluay sebagai seorang tokoh dan pemimpin masyarakat Papua dan Indonesia lain yang hidup di Papua dengan perjuangan cita damai, sopan, santun dan nilai-nilai HAM dan Demokrasi waktu itu dibunuh secara tidak terhormat di tanah kelahirannya sendiri dan hak adatnya untuk dikenang dengan memberikan libur istimewa sehari pun tidak namun peristiwa kali ini dengan meninggalnya Gubernur JP Solossa hampir seluruh aktivitas mati seolah-olah masyarakat semua harus hidup dan dapat menghidupi seluruh warga. Disinilah ketidakadilan itu muncul dengan sendirinya nilai manusia yang sama dan kapasitas sebagai tokoh yang dihormati dan didengar dibedakan seolah yang satu malaikat atau tuan tanah sedangkan yang lainnya pendatang baru dari dunia lain yang sedang mencari makam di Papua Barat. Pelanggaran hak asasi manusia yang besar dan sangat diskriminatif karena nilai manusia dibeda-bedakan antara satu sama lain di bumi Papua walau semua adalah anak negeri Papua Barat. Selain itu realita seperti ini menggambarkan kepada kita bahwa orang Papua yang menjadi agen penindas dan pengisap daerah manusia Papua bersama Indonesia itu lebih mempunyai harkat dan martabat yang tinggi dan harus dihormati ketimbang para tokoh-tokoh Papua pewaris dan pemilik hak ulayat dikesampingkan maka Papua benar-benar ada dalam cengkaraman bangsa lain yang secara historis dan genealogis tidak ada relasi sama sekali dengan orang Papua yang harus berantakan di negerinya sendiri luar biasa memang kalau saja kita mengevalusi dan merefleksi apa yang sedang terjadi di Tanah Papua Barat. Melanggar Hak Kebebasan Mencari Nafkah Lumpuhnya aktivitas ekonomi di Kota Port Numbay tersebut bukan dianggap hal yang wajar karena kebebasan masyarakat untuk bekerja dan mencari nafkah terbengkelai hanya karena seorang Gubernur meninggal merupakan suatu tindakan pelanggaran hak asasi manusia karena secara sah dan meyakinkan pemerintah Provinsi Papua melalui kebijakan resminya memberitahukan khalayal umum bahwa Provinsi Papua libur 2 hari sebagai hari perkabungan nasional untuk Provinsi Papua. Pertanyaannya apakah nilai dan kiprah perjuangan alm. Theys Hiyo Eluay beda dengan apa yang dikerjakan oleh alm. Dr. JP Salossa M.Si? Sementara kita bandingkan kiprah dari kedua tokoh Papua ini prinsipnya berkarya bagi rakyat dan bangsa Papua, yang secara prinsip alm. Dr. JP Salossa, M.Si memanfaatkan berbagai kemudahaan yang diberikan oleh Indonesia untuk mensejahterakan rakyat Papua sebelum Otsus dan sesudah Undang-Undang Otsus No. 21 Tahun 2001 dengan milyaran Rp yang notabene “uang darah” dari orang Papua yang berteriak siang malam tentang Kemerdekaan Papua Barat kemudian direspon oleh Jakarta (RI) dengan triliyunan Rp namun 3 tahun pelaksanaan Otonomi Khusus Rakyat Papua masih dalam kondisi kesejahteraan yang memprihatinkan (lih. Kasus Kabupaten Yahukimo, 55 orang meninggal dunia) akibat kekurangan makanan. Sedangkan tokoh alm. Theys H. Eluay yang berjuang mempertahankan eksistensi dan identitas orang Papua diatas tanah leluhurnya sendiri namun dibunuh RI tidak ada hari libur nasional bagi rakyat Papua. Kejanggalan ini jelas-jelas melakukan tindakan diskriminasi dan pelecehan hak hidup orang Papua diatas tanahnya sendiri. Selain itu, Theys H. Eluay dan kawan-kawan pejuang Papua lainnya yang mengalami nasib serupa dianggap sebagai pencuri dan penjahat lalu dibuang atau dimakamkan secara tidak terhormat tetapi para agen-agen Jakarta yang melanggengkan kekuasaan Jakarta di Papua dieluh-eluhkan baik selama masih hidup sampai diantar ke tempat peristerahatan yang terakhir masih berkuasa atas orang yang masih hidup merupakan hal-hal yang tidak terpuji dan melanggar hak asasi manusia. Dua Tokoh Papua yang Kontroversial Berbicara tentang kedua Tokoh Putra terbaik Papua yang sudah almarhum ini terdapat ada persamaan dan perbedaannya. Persamaan dan perbedaan yang dimaksud baik dari sepak terjang dalam politik, sosial, ekonomi dan perilaku pribadi sekalipun. Perbedaan pertama dilihat dari usianya alm. Theys Hiyo Eluay lebih tua ketimbang almarhum Dr. JP. Salossa, M.Si (mantan Gubernur) Provinsi Papua yang baru saja meninggal tanggal 19 Desember 2005 ketika umat Kristiani Papua menjelang Natal 25 Desember 2005 dan akan menyambut tahun Baru 1 Januari 2006. Kedua tokoh ini patut diperbincangkan tentang bagaimana sepak terjang mereka dalam menanggapi dan menyikapi soal di lingkungan mereka dan melihat pergumulan rakyat Papua serta bagaimana karakteristik mereka dalam merebut kesempatan kerja dengan menggunakan segala kesempatan serta peluang yang ada untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan pekerjaan dan pelayanan. Theys yang mengawali karier politiknya pada masa penentuan status politik Papua Barat kedalam RI kala itu menjadi tokoh penting yang menentukan status daerah Papua bergabung dengan RI dan selama menjadi pro-integrasi kala itu sebagian tua-tua adat Sentani Timur dan daerah pedalaman Sentani seperti Genyem dan daerah sekitarnya pak Theys telah terlibat dalam pembantaian rakyat Papua yang kontra dengan NKRI kala itu. Setelah itu beliau dianggap sebagai tokoh yang berjasa besar bagi bangsa Indonesia maka selama beberapa periode semasa rezim orde lama dan orde baru berkuasa di Indonesia almarhum aktif sebagai anggota DPRD Provinsi Irian Jaya (sekarang Papua). Dengan demikian beliau menjadi “anak emas” Indonesia dulu barulah tahun 1999 sejak beliau tidak lagi dipercayakan sebagai anggota DPR dari Partai Golkar baru almarhum manuver ke aspirasi politik Papua Merdeka yang kebetulan menggema diseantero dataran Papua bersamaan dengan bergulirnya era reformasi di Indonesia oleh Mahasiswa dan masyarakat klas menegah waktu itu. Itulah yang menyebabkan pada awal sepak terjang dan manuver politik dalam aspirasi Papua Merdeka masih menjadi pertanyaan publik yang mengetahui latar belakang dia dimasa lalu. Tetapi ada nada sumbang yang juga berkembang tak kalah pentingnya waktu itu adalah biarkan saja yang penting dosa-dosanya sudah ia bayar dengan menjadi tokoh pejuang Papua Merdeka maka menurut mereka dia telah membayarnya dengan mahal apalagi almarhum dibunuh Indonesia sebagai pejuang Papua yang membahayakan integritas dan eksistensi NKRI karena dia dianggap tokoh paling berbahaya sebagai tokoh kunci yang mengetahui pembelokan sejarah politik Papua kala itu. Dalam ulasan buku Potret HAM Papua yang diterbitkan oleh Elsham Papua Barat seorang penulis khusus tentang peristiwa penculikan dan pembunuhan Theys menyebutnya Theys sebagai “Tokoh yang Ceroboh” atau dengan kata lain kontroversial dimana disatu sisi berjuang melawan NKRI atau keluar memisahkan dari RI tetapi dipihak lain akrab dengan Jakarta baik secara individu maupun atas nama negara Indonesia yang dia lawan. Sampai-sampai pada perayaan hari-hari besar nasional Indonesia turut menghadirinya termasuk perayaan Hari Pahlawan Nasional Indonesia 10 November 2001 yang menghantarnya dirinya ke tempat peristrahatan yang terakhir. Berbeda dengan Theys, Dr. JP Salossa, M.Si yang menekuni kariernya sebagai pegawai negeri Sipil di RI lalu karena apakah posisinya yang masih strategis atau pendapatan hari-harinya kurang ketika aspirasi Papua Merdeka menggema pada awal reformasi di Indonesia, Dr. JP Salossa, M.Si ikut terlibat dalam penanda tanganan pernyataan politik rakyat Papua Tim 100 tanggal 26 Februari 1999. ia ikut menanda tanganinya namun kembali menjadi Yudas dan pergi menjual perjuangan dan penderitaan rakyat Papua dengan meminta menjadi Gubernur dan direstui oleh RI dan selama menjabat sebagai gubernur menjadi tokoh pertama yang menentang aspirasi Papua Merdeka dan kutukan-kutukannya terhadap orang Papua yang menentang Indonesia bukan sedikit sampai-sampai lupa diri seakan-akan menjadi orang Indonesia disinilah kecerobohan alm. Dr. JP. Salossa, M.Si yang menyebabkan dirinya tiba di tempat peristrahatan yang terakhir selama-lamanya. Manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Secara lahiriah setiap manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatan dimasa hidup dan pekerjaannya. Ada dua mekanisme pertanggungjawaban baik yang bersifat konkrit maupun yang bersifat abstrak. Kedua proses penghakiman atau pertanggungjawaban itu adalah setiap orang dapat diadili di depan hukum kalau terbukti melakukan perbuatan yang merugikan orang lain misalnya; kasus pembunuhan, pencurian dan belakangan ini gencar-gencarnya adalah kasus korupsi. Kesemuanya itu bisa mencapai pada proses peradilan dan penghakiman karena secara defacto dan dejure dapat dibuktikan kelaliman dan perbuatan manusia yang merugikan kepentingan masyarakat ataupun negara. Tetapi perbuatan-perbuatan manusia yang tidak bisa diketahui oleh manusia dan tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam proses peradilan hukum akan menjadi masalah batinia atau gangguan psikologis bagi orang yang melakukannya dan akan membawa orang itu pada pertanggungjawaban hukum secara alamiah. Tetapi tidak sampai disini karena banyak kalangan orang bijak dan mempercayai betul bahwa secara rohaniah ada penghakiman bagi setiap perbuatan manusia semasa hidupnya di dunia dengan kata lain kalau di dunia tidak mempertanggungjawabkan perbuatannya maka di akhirat nanti manusia akan pertanggungjawabkan segala perbuatan kenajisannya. Disini sadar atau tidak sadar sebenarnya secara nyata (duniawi) dan abstrak perilaku dan gerak-gerik manusia dibatasi dan diawasi agar manusia selalu jujur dan berbuat baik terhadap sesama dan lingkungannya namun ketidaksadaran dan kelalaian manusialah yang selalu membawa manusia dalam misteri hidup yang sangat sengsara dan misterius. Manusia masih belum bertobat dan masih mentah Dalam masalah kematian Dr. JP Salossa, M.Si kemarin masih saja orang protes dan bahkan melakukan aksi serta mengancam manusia lain. Semua ini tidak terlepas dari ketidaksadaran dan rasa curiga yang selalu menghantui manusia bahwa kematian Gubernur itu tiga kelompok manusia yang dituduh adalah orang Serui (keluarga istri), orang Pegunungan Tengah (alasan lawan politik PILKADA) dan yang terakhir orang Jawa (sopir/ajudan). Lalu satu hal yang tidak disadari adalah akal sehat tidak jalan dan introsveksi diri terhadap perjalanan hidup manusia visi dan misi yang diemban sementara ini sebagai pemimpin banyak orang apakah telah jalankan fungsi dengan jujur, adil dan membawa perdamaian bagi sesama kita atau kita menanamkan benih-benih kebencian, kemarahan, kutukan dan lain sebagainya atas pelayanan kita sebagai pemimpin yang harus bersuara dan memiliki hati untuk orang yang sedang menderita karena ketidakadilan dan perbuatan manusia yang tak bermoral dengan menghabisi lawan-lawan politik? Kembali kepada kesadaran kita untuk membedakannya karena secara realitasi kita bisa membuktikan langsung musibah yang kita alami baik itu kelalaian manusia dalam berlalu-lintas, dibunuh langsung oleh manusia secara langsung, atau kita mati berdiri karena klimaks dari apa yang kita tanam di dalam tubuh dan otak kita yang kapasitasnya terbatas ini? Tulisan ini hanya menggambarkan unsur-unsur diskriminasi yang muncul di tanah Papua dengan tokoh-tokoh Karismatik Papua yang kontroversial baik dihadapan rakyatnya dan penguasa yang menjadi lawan serta teman main dalam sandiwara hidup manusia dewasa ini. Selain itu berusaha mengungkapkan bahwa apabila mau jujur keadilan itu harus sama di tanah Papua karena semua tokoh yang mati di negeri mempunyai sejarahnya masing-masing termasuk perilakunya terhadap orang-orang yang hidup di negeri ini. Khusus untuk prosesi pemakaman dari tokoh-tokoh Papua seperti ini sangat beda dimana ketika Arnolf Clemens Ap dibunuh di Pantai Base G pinggiran kota Port Numbay dan Theys dibunuh di Jantung Kota Port Numbay dan dibuang di pinggiran kota Port Numbay yakni Koya Koso banjirnya manusia tidak sedikit tetapi Dr. JP Salossa meninggal bukan kebanjiran manusia namun kebanjiran mobil-mobil hasil Otsus seperti air sampai jalan tidak kelihatan selama 2 jam. Perilaku lain dari kedua tokoh kontroversial ini adalah ketika masing-masing mempertahankan komitmen politiknya maka Dr. JP Salossa tidak peduli dengan rakyat atau pejuang-pejuang Papua Merdeka sekalipun tetapi menempel ketat dengan Indonesia baik di Papua maupun di Jakarta sementara Theys ada di tengah masyarakat Papua dan bisa juga bertemu dengan pejabat Indonesia yang dia lawan karena kata senior Octovianus Mote dalam Komunitas Papua mengatakan bahwa beliau bukan “gila hormat” seperti khalayak umum katakan tetapi dia dekat dengan wartawan dan rakyat untuk komunikasikan apa yang diperjuangkannya. Selain itu lepas dari kata Yafet Kambay dari Elsham Papua Theys “ceroboh” artinya keterbukaan dia menerima lawan yang membahayakan dirinya sebagai pejuang Papua namun kembali kepada kepribadian Theys adalah ia percaya bahwa nilai-nilai yang dia kedepankan dalam perjuangan kasih mau dia begitu mudah bergaul dengan kawan maupun lawan yang sesungguhnya sangat licik dan sedang mengatur strategi untuk menghabisinya. Dan dia tunjukkan disini kejantanan dia untuk menghilangkan ketidakpercayaan rakyat Papua terhadap sepak terjang sebelumnya lalu dia berani mengakui bahwa saya akan dibunuh oleh Indonesia kepiawaian dan keberanian ini tatkala dia menyatakan kepada rakyatnya bahwa saya menebus perbuatan saya dimasa lalu dengan pertobatan dan kesadaran ini. Untuk mengakui kebenaran ini seorang aktivis Papua Rex Rumakiek kepada Komunitas Papua bahwa apa yang dilakukan oleh Theys adalah hal luar biasa dan mungkin generasi kami sulit mengimbanginnya. Rakyat mengakui kelebihan Theys karena keprihatinan dan kesadarannya untuk menyatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Sementara Indonesia mengakui JP. Salossa karena loyalitasnya kepada Indonesia atau Jakarta bukan kepada rakyat Papua. Semoga kedua tokoh ini menjadi pelajaran untuk tokoh Papua lain yang masih hidup dan menggumuli persoalan rakyatnya di negeri sekarat Papua Barat*** ____________________ © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|