Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Gerilya
Dukungan Dunia
Usaha Diplomasi
Dialog Politik
Demo/ Protes
Petisi/ Surat
Gugat Pepera 69
Penegakan Hukum
Kisah Perjuangan
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Dialog Politik

LIPI Sarankan Keterlibatan Internasional Dalam Menyelesaikan Masalah Papua
By Kompas
Dec 23, 2005, 20:08

 
Jakarta, Kompas - Tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyebutkan, keterlibatan pihak internasional diperlukan untuk menyelesaikan masalah Papua. Alasannya, persoalan Papua memiliki dimensi internasional yang tinggi. Bukan hanya karena desakan politis yang muncul saat ini, tetapi sejumlah negara asing pun memiliki kepentingan terhadap Papua.

Koordinator tim peneliti LIPI untuk kasus Papua, Adriana Elisabeth, menyampaikan hasil penelitian riset kompetitif LIPI tersebut di Jakarta, Rabu (21/12). Menurut dia, peranan dan dukungan negara asing dan lembaga internasional penting dalam penentuan masa depan Papua, terkait dengan status politik dan hukumnya setelah selama ini diakui merupakan bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adriana menyebutkan, persoalan implisit dalam kasus Papua adalah soal ekonomi. Kekayaan sumber daya alam membuat banyak pihak berkepentingan dengan tanah Papua. Hal itu terlihat dengan masuknya raksasa pertambangan Freeport sejak tahun 1967.

Temuan tim peneliti LIPI, dialog internasional yang diusulkan meliputi pihak Indonesia, Belanda, Amerika Serikat, dan wakil rakyat Papua. Namun, Adriana mengakui dialog internasional merupakan alternatif yang relatif sulit. Harus ada perhitungan matang sejak awal, agenda yang jelas, dan proses yang menerus. ”Formulasinya harus dipikirkan karena jika jalan buntu malah bisa membahayakan,” kata Adriana.

Sementara itu, Ketua Aliansi Demokrasi untuk Papua Latifah Anum Siregar yang tampil sebagai pembahas menilai dialog internasional masih terlalu jauh, terutama potensi resistensi dari Pemerintah Indonesia. Dialog nasional mungkin menjadi pilihan lebih memungkinkan. Kalaupun saat ini desakan dialog internasional menguat, hal itu terjadi karena rakyat Papua tidak melihat ada pilihan lain. Keinginan merdeka juga menjadi pelarian bagi orang Papua yang menanggung ketidakadilan. Tuntutan pelurusan sejarah terkait dengan proses Penentuan Pendapat Rakyat 1969 juga sulit dihindarkan.

Tim peneliti LIPI juga menyebut kekurangan media dalam peliputan mengenai Papua yang menjadikan media dinilai telah ikut berperan melanggengkan Papua sebagai daerah bermasalah. Sejauh ini, peliputan media lebih tertuju pada soal politik dan keamanan. Media kurang menyampaikan pertarungan kapitalis internasional dan keterkaitannya dengan pemerintah. (dik)

Source Link: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/22/Politikhukum/2308027.htm
_______________________

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece