|
||||||
Update
Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
|
|
Banjir/ Longsor
Di Entrop misalnya, di tengah kegembiraan Natal 25 Desember itu, banjir memporak-porandakan kegembiraan itu berganti duka setidaknya bagi sekitar 8 KK (Kepala Keluarga) di Kelurahan Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura. Mereka menjadi korban keganasan banjir menyusul hujan yang melanda Kota Jayapura pada Minggu malam (25/12) itu. Penuturan salah seorang korban Tony Laropa (40) yang juga pengusaha bengkel Gaya Motor, air dalam jumlah besar yang disertai material, menerjang kediamanya dan tempat usahanya sekitar pukul 02.00 WIT malam itu. Akibatnya, air bah yang datang bak gelombang yang katanya seperti gelombang tsunami itu menghanyutkan sebagian harta benda warga serta semua peralatan bengkel. "Air datangnya seperti tsunami, turun gunung terus menyeberang jalan terus masuk rumah," katanya. Air bah yang tingginya mencapai 1,5 meter dan bercampur dengan lumpur tersebut langsung menghanyutkan harta benda termasuk alat-alat bengkel dan sebagainya yang ada di rumah dan halaman rumah. "Semua yang ada di rumah dibawa banjir termasuk topples kue, kursi, alat-alat dapur dan semua persediaan untuk perayaan Natal. Demekian pula pohon Natal yang ada di rumah," tuturnya miris. Kata Tony, tidak ada yang bisa diselamatkan dari rumahnya kecuali almari pakaian dan beberapa kursi. ''Itupun semua sudah terendam lumpur,''lanjutnya. Menurut Tony, akibat banjir tersebut, kerugiannya mencapai Rp 100 juta. Yang paling membuatnya sedih adalah kini mata pencahariannya sudah tidak ada lagi, karena semua peralatan hanyut terbawa air dan kini hilang entah kemana. "Tidak tahu saya mau cari kemana, yang jelas sekarang karena alat-alat tidak ada lagi saya tidak bisa usaha bengkel lagi," katanya sedih. Tak hanya itu, sekitar 5 unit rumah warga di sekitar wilayah itu juga kini terendam banjir, bahkan sekitar 4 unit rumah ambruk karenanya. Tak pelak karena rumahnya ambruk, maka kini sekitar 4 KK kehilangan tempat tinggal. Bado (60) salah satu korban yang rumahnya ambruk terlihat sangat prihatin menyaksikan rumahnya yang kini tinggal puing-puing. Semua harta bendanya ludes terbawa banjir, tragisnya lagi tak sehelai pakaianpun berhasil diselematkan. Bado hanya bisa menyelematkan dirinya dengan baju di badan, itupun kini basah. Bado yang sebatang kara itu hanya bisa termenung menatapi puing-puing rumahnya. Ia bingung. Bahkan ketika Cenderawasih Pos hendak menghampirinya, ia hanya diam dan engan berkomentar. Ia trauma dan hanya terdiam entah apa yang dipikirkannya Korban lainnya Fredy Rahayal, juga sangat terpukul dan menderita kerugian yang tidak sedikit dengan musibah itu. Kini ia bingung karena sebagian harta bendanya hanyut terbawa air. "Saya mau bagaimana lagi sekarang semuanya terbawa arus, bagaimana ini," tuturnya miris. Meski begitu, satu yang disyukurinya adalah semua anggota keluaganya selamat. Harapan warga ini, pemerintah harus segera mengambil langkah serius untuk mengantisipasi hal itu kedepan agar tidak terjadi lagi. "Kami harapkan pemerintah kota bisa melihat masalah ini dan bisa segera mengambil tindakan untuk segera mengantisipasi masalah ini," tandas Frengky. Masih ditempat yang sama, akibat diterjang banjir dan longsor, sebuah gudang milik Hamid Salim yang berada di pinggir gunung, tepatnya di dekat Jalan Raya depan Gapura Walikota Jayapura, roboh. Menurut Hamid, sejak Minggu malam (25/12) sekitar pukul 22.00 WIT air sudah mulai meluap dan masuk ke dalam gudang dan puncaknya sekitar pukul 02.00 WIT dini hari kemarin. Air membludak yang disertai lumpur sehingga bangunan yang tepat di bawah jalur air tersebut langsung roboh. Selain merobohkan gudang, air banjir itu juga masuk ke dalam rumahnya. Yang lebih parah lagi, air telah merobohkan gudangnya itu juga menghantam rumah warga yang berada di sebelah jalan hingga ketinggian lebih dari 1,5 meter, sehingga barang-barang rumah tangga banyak yang basah, termasuk kasur dan lain-lainnya. Bahkan akibat banjir itu hampir memakan korban jiwa, namun untungnya anak kecil yang sempat diterjang banjir itu cepat diselamatkan. "Saya telah tinggal di sini sekitar 30 tahun. Sebelumnya belum pernah terjadi banjir yang seperti ini. Ini akibat ulah manusia (Perusahaan) yang merusak bukit-bukit di atas yang tidak memperhatikan dampak lingkungannya," ujar Hamid. Ditanya soal kerugian material akibat banjir itu, pihaknya enggan menyebutkannya. "Kerugian non material yang saya rasakan di hati lebih berat. Sebagai warga saya berhak mendapatkan kehidupan yang nyaman. Tetapi akibat ulah pengrusakan hutan di bukit-bukti di atas, kondisi ini berdampak pada saya. Saya akan temui wali kota untuk bicara langkah selanjutnya. Sebagai warga kota saya berhak," tandasnya. Dalam pantauan Cenderawasih Pos, keluarga Hamid dari pagi hingga sore kemarin melakukan pembersihan terhadap lumpur yang masuk ke dalam rumahnya, sementara alat berat dari Bintang Mas juga tampak membersihkan lumpur yang masuk ke badan jalan dan juga dengan membuat saluran air. ARUS LALULINTAS DI NAFRI LUMPUH TOTAL Penderitaan akibat turun hujan, tampaknya memang terus berlanjut. Akibat hujan yang turun terus menerus dengan volume hujan yang sangat tinggi itu, membuat sejumlah tebing di daerah Nafri mengalami longsor. Longsor yang terjadi itu, bukan saja dalam bentuk tanah, tapi juga bebatuan. Parahnya lagi, bebatuan yang ikut longsor itu memiliki ukuran sangat besar hingga menutupi seluruh badan jalan tersebut. Terang saja, seluruh kendaraan baik roda empat maupun dua yang dari arah Nafri hendak ke Arso/Koya dan sebaliknya, tidak bisa jalan (Lumpuh Total). Menurut beberapa warga Nafri, longsornya batu besar yang menutupi seluruh badan jalan itu terjadi sekitar pukul 02.00 Wit Senin dini hari yakni ketika hujan turun sangat lebat. Sebelumnya, Jumat (22/12) lalu, di lokasi tersebut juga mengalami longsor. Hanya saja longsor tanah yang terjadi saat itu tidak terlalu parah, sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas. Ny Lasna (38) warga Koya Barat saat ditemui Cenderawasih Pos mengaku sejak pukul 04.00 WIT Senin dini hari terpaksa harus menunggu hingga puluhan jam di dalam mobil, karena kendaraan yang ditumpanganinya tidak bisa melewati jalan tersebut. Ny Lasmi yang sehari-hari membawa sayur mayur dari Koya untuk dijual di Pasar Youtefa Kotaraja itu, terpaksa harus menurunkan dagangannya dari kendaraan yang ditumpanganinya untuk diseberangkan dengan berjalan kaki. Setelah itu mencari kendaraan lain yang bisa membawanya ke arah Abepura. Selain Ny Lasmi, masih banyak lagi ratusan warga lain yang terjebak di tempat itu hingga seharian penuh. Mendengar laporan peristiwa longsor tersebut, pimpinan Kodam XVII/Trikora langsung sigap dan bertindak cepat. Senin pagi kemarin, jajaran Denzipur -10 Waena, langsung diperintahkan Kasdam XVII/Trikora Brigjen TNI Sudarmaidy untuk menurunkan kendaraan alat beratnya guna memindahkan batu besar yang menghalangi badan jalan tersebut. Selanjutnya sekitar pukul 11.00 WIT, satu dozer milik Denzipur-10 tiba di lokasi. Perlahan-lahan, lumpur maupun tanah yang menghalangi jalan tersebut mulai bisa disingkirkan. Proses pengerukan tanah dan batu itu, disaksikan langsaung Dandenzipurdam XVII/Trikora Mayor CZI Winarno. Saat ditemui Cenderawasih Pos, Winarno mengungkapkan, diturunkannya alat berat dari Denzipur itu merupakan wujud kepedulian pimpinan Kodam terhadap kesulitan yang dihadapi warga. "Sebab, jika masalah ini tidak segera diatasi, sudah pasti warga akan kesulitan untuk melaksanakan aktivitas kehidupannya, terlebih lagi ini masih dalam suasana perayaan Natal," katanya. Kendati alat berat dari Denzipur telah didatangkan, namun belum mampu memindahkan batu besar yang menghalangi badan jalan. Akhirnya tidak lama kemudian, satu lagi alat berat eskavator milik CV. Bintang Emas tiba di lokasi dan ikut membantu proses pemindahan batu tersebut. Akhirnya lewat bantuan tenaga dua mesin alat berat itu, tepat sekitar pukul 14.30 WIT, batuan besar yang menghalangi badan jalan itu berhasil disingkirkan. Saat itu juga, arus transportasi Nafri-Arso/Koya dapat normal kembali seperti biasanya. Pada kesempatan itu, sejumlah Muspida Kota Jayapura diantaranya Wakil Walikota H Sudjarwo, BE, Wakapolresta dan Kasdim 1701/Jayapura ikut meninjau langsung ke lokasi longsor. Sayangnya, kehadiran Wakil Walikota di lokasi itu mendapat caci maki salah seorang warga Nafri yang sedang mabuk. Bahkan warga itu, nyaris memukul Wawali. Beruntung Dandenzipur Mayor Czi Winaro cepat menahan warga tersebut. Warga itu emosi, karena Pemkot dinilai terlambat dalam bertindak mengatasi peristiwa longsor tersebut. BLOKIR JALAN Sementara itu, merasa tak digubris oleh pemerintah setelah mengadu ke DPRD Kota Jayapura, Jumat (23/12) pekan lalu, maka sekitar 100 orang yang merupakan warga Perumahan Organda, Hedam, Abepura, Kota Jayapura, Senin (26/12) memblokir jalan raya utama Abepura - Sentani (Depan Pintu Masuk USTJ). Aksi yang dilakukan itu sebagai wujud ketidakpuasan warga kepada pemerintah yang dinilai lamban menindaklanjuti keluhan masyarakat, sementara banjir bertambah parah mengingat hunjan secara terus-menerus. Akibat banjir, sekitar 200 an rumah warga terendam air bahkan sebagian besar warga mengungsi dengan mengevakuasi barang-barangnya ke keluarganya masing-masing. Pemblokiran yang dilakukan ini berlangsung kurang lebih satu jam. Akibat aksi ini, arus kendaraan macet total. Warga tetap bersikukuh tidak mau mengelurkan kayu dan daun-daun yang digunakan memblokir jalan itu hingga ada kesepakatan dari Pemerintah Kota Jayapura mengeruk saluran pembuangan yang dinilai sumber banjir tersebut. "Kami blokir jalan karena pemerintah tidak mengambil sikap. Apalagi empat hari yang lalu (Jumat 23/12) masalah banjir ini sudah kami sampaikan ke dewan, namun tidak ada tindaklanjutnya. Malah banjir yang terjadi tambah parah, masyarakat sudah tidak bisa tinggal lagi di rumah, karena di rumah, air naik sampai satu meter lebih," kata Alimuddin yang diiyakan teman-temannya kepada Cenderawasih Pos. Tak lama setelah pemlokiran jalan itu, Wakil Walikota Jayapura H. Sudjarwo, BE dan Wakapolresta Kompol Aris Purbaya melakukan negosiasi dengan warga. Setelah melalui negosiasi, warga akhirnya bersedia membuka jalan raya itu dengan catatan Wakil Walikota memberikan jaminan untuk dilakukan pengerukan saluran air di kompleks tersebut. "Keluhan yang disampaikan masyarakat ini pasti akan ditindaklanjuti secepatnya. Kami juga tidak akan tinggal diam, semuanya akan dilakukan secara baik dan terkoordinasi," kata Wakil Walikota, Sudjarwo, menjawab pertanyaan wartawan. Dua ratusan rumah yang terendam di Organda ini sebenarnya sudah berlangsung sejak Kamis (22/12) pekan lalu. Warga tidak bisa berbuat apa-apa karena saluran air yang ada di pemungkiman tepatnya di belakang Kantor Koramil Abepura tersumbat, sudah mengalami penyempitan dan dangkal. Tragisnys lagi, akibat banjir itu warga tidak bisa merayakan Natal. Apalagi menerima tamu-tamu yang berkunjung. Rumah-rumah mereka tidak bisa lagi ditempati, bahkan segala isi rumah tidak bisa diselamatkan. "Begini kondisi rumah, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Harusnya pemerintah menyikapi persoalan ini, namun mereka terkesan diam dan tidak secepatnya bertindak. Ini suasana Natal, gara-gara banjir semua tamu-tamu kami terpaksa pulang," kata Agum Sanggenafa. SEWAKAN PERAHU Selain di Perumahan Organda, perumahan yang ada di belakang Kampus Universitas Cenderawasih juga ikut terendam. Puluhan rumah warga di lokasi tersebut ikut terendam air, bahkan air naik sekitar 1,5 meter. Masyarakat yang bermungkin di bagian yang lebih tinggi terpaksa menggunakan perahu yang terbuat dari balok-balok dan pohon pisang untuk menyeberangkan barang-barangnya. "Anak-anak buat perahu untuk disewakan sebesar Rp 2000 bagi masyarakat yang ingin menyeberang. Ini kalau hujan lagi pasti banjir tambah parah, makanya harus ada tindakan dan bantuan dari pemerintah," kata Max Sesa. Dari pantauan Cenderawasih Pos kemarin, aksi yang dilakukan masyarakat itu langsung ditindaklanjuti dengan melakukan pengerukan saluran air tepatnya di belakang Kantor Koramil Abepura. (ta/mud/ito/fud) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|