Update Terakhir: Jan 3rd, 2006 - 03:41:16
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Pesan Khusus
Opini Umum
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Opini Umum

Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
By Coen Husain Pontoh, E-mail: pontoh_2002@yahoo.co.uk
Jan 3, 2006, 03:22

 
Para aktivis gerakan sosial, khususnya yang bergerak di sektor sumberdaya air, sedikit banyak pasti pernah mendengar dua kata ini: Cocachamba dan Cocaleros.

Cocachamba adalah sebuah tempat di Bolivia, yang menjadi pusat perlawanan terhadap kebijakan privatisasi air yang digelar rejim neoliberal negeri itu. Sedangkan Cocaleros adalah sebutan bagi para penduduk asli suku Indian, yang umumnya adalah petani coca. Mereka adalah aktor utama dari perlawanan terhadap kebijakan yang didiktekan oleh Bank Dunia dan IMF. Cocachamba dan Cocaleros, telah menjadi salah satu ikon bagi perjuangan rakyat di seluruh dunia dalam melawan kebijakan neoliberal.

Tetapi, di samping dua kata itu, muncul nama lain yang bersinar terang di langit Bolivia. Dialah Juan Evo Morales Aima, yang oleh pendukungnya cukup disapa Evo. Lelaki kelahiran 26 Oktober 1959 di Aymara, Bolivia, adalah anak suku Indian pertama yang menjadi presiden di salah satu negeri termiskin di Amerika Latin. Dengan berkendara Partai Gerakan Menuju Sosialisme (Movement Toward Socialism/MAS), pada 22 Desember lalu, Evo ditahbiskan sebagai pemenang pemilu Bolivia. Jumlah suara yang diperolehnya mencapai 53,899 persen. Jumlah ini melampaui angka perolehan suara yang diraih oleh Jorge Tuto Quiroga, mantan wakil presiden di bawah diktator Hugo Bánzer, dan Samuel Doria Medina, salah satu orang terkaya di negeri itu. Dengan peorlehan suara mayoritas, Evo dipastikan tak membutuhkan lagi pemungutan suara di Kongres untuk mengesahkannya sebagai presiden Bolivia berikutnya.

Apa sebenarnya yang menarik dari kemenangan Evo Morales ini? Bukankah pemilu adalah sebuah peristiwa biasa, sebuah proses yang wajar dari sebuah negara yang menganut sistem politik demokrasi? Menariknya, justru muncul dalam sosok Evo sendiri dan sejarah perjuangan rakyat Bolivia keseluruhan. Sejarah panjang dalam menentang kolonialisme, neoliberalisme dan campur tangan pemerintah AS yang sangat besar di negeri itu. Sejarah rakyat yang terpinggirkan akibat dogma kemaslahatan pasar bebas. Evo adalah salah satu figur yang berada di garis depan perlawanan itu. Ia tidak saja menyuarakan kepentingan masyarakat adat Indian yang merupakan populasi terbesar penduduk Bolivia tapi, juga terlibat aktif dalam mengorganisir, menggerakkan, dan memimpin perlawanan rakyat tersebut.

Sebelum terjun dalam arena perjuangan elektoral, Evo Morales adalah anggota dari gerilya bersenjata Tupac Katari, pada tahun 1990an. Keterlibatannya itu, mengantarkan dirinya ke penjara selama lima tahun. Selepas masa kurungan, sosok Evo tampil sebagai figur pembela kepentingan masyarakat adat Indian yang paling konsisten, khususnya dari suku terbesar Quecha dan Aymara. Pada saat yang sama, Bolivia menjadi target utama bagi penerapan kebijakan neoliberal, seperti privatisasi sektor air dan pertambangan, dan pemotongan anggaran untuk publik. Akibat dari kebijakan neoliberal ini, kesenjangan sosial semakin melebar, tingkat kesejahteraan hidup penduduk asli Indian semakin rendah, dimana menurut laporan Bank Dunia pada 2004, 74 persen masyarakat adat Bolivia hidup di bawah garis kemiskinan.

"Hampir dua per tiga masyarakat Indian adalah miskin di antara 50 persen penduduk termiskin. Jika distribusi berjalan sempurna, masyarakat adat Bolivia harus menerima pendapatan dua kali lipat lebih banyak di banding penduduk yang bukan masyarakat adat. Hanya dengan cara itu, mereka bisa tercerabut dari kemiskinannya," demikian tulis laporan itu.

Kebijakan neoliberal ini, berjalan beriringan dengan kepentingan pemerintah AS untuk menancapkan kukunya di kawasan Andean, dimana Bolivia menjadi batu loncatannya. Di negeri itu, Amerika mengampanyekan perang melawan narkotika. Itu artinya perang melawan masyarakat adat Indian, yang sebagian besar secara tradisional merupakan petani koka. Perang melawan kokain itu diwujudkan dengan dibentuknya satuan polisi khusus yang menangani perang melawan kokain ini. Tetapi, di balik kampanye bersenjata ini, tersembunyi kepentingan bisnis yang luar biasa besar yakni, menguasai sumberdaya alam terutama pertambangan, gas dan air. Itu sebabnya, walaupun ada operasi militer besar-besaran, produksi kokain di Bolivia kian meningkat dari tahun ke tahun. Ironi ini terus berjalan dari tahun ke tahun.

Sejarah panjang perjuangan, kemiskinan dan diskriminasi masyarakat adat, serta kepungan neoliberalism dan hegemoni AS, tidak menyurutkan langkah Evo Morales untuk terlibat dalam perjuangan rakyat. Ia bahkan tampil sebagai pemersatu gerakan sosial yang terkotak-kotak. MAS sendiri bukanlah sebuah partai politik yang solid dan terstruktur kuat. Ia lebih merupakan koalisi dari berbagai gerakan sosial, mulai dari gerakan tani, gerakan buruh hingga yang terkuat, gerakan masyarakat adat. Koalisi gerakan sosial dipandang sebagai metode terbaik untuk menghadapi gempuran neoliberalisme yang menghancurkan seluruh sektor kehidupan masyarakat. Dari sisi ini, tidak dikenal adanya kekuatan pelopor yang khusus, karena semuanya adalah pelopor. Mereka dipersatukan oleh kepentingan yang sama yang tercermin dalam platform MAS: nasionalisasi industri-industri strategis; pengurangan harga dan pembekuan harga barang-barang rumah tangga; penyediaan pelayanan dasar bagi semua; pembelaan terhadap pendidikan dan kesehatan gratis bagi publik; peningkatan pajak bagi kaum kaya; penghapusan korupsi; redistribusi lahan kerja; aparatus politik yang baru; penghapusan kebijakan ekonomi neoliberal; dan penentangan terhadap tenaga kerja "fleksibel."

Demikianlah, peranannya sebagai organiser, penggerak, dan pemimpin gerakan rakyat menjadikan Evo sebagai musuh nomor satu pemerintah AS. Ia dituduh sebagai seorang "narco-teroris," dan merupakan "ancaman bagi stabilitas" di kawasan itu. Mantan duta besar AS di Bolivia, Manuel Rocha, dalam pemilu presiden 2002, pernah mengancam rakyat Bolivia agar tidak memilih Evo, yang disebutnya sebagai "narco-cocaine producer" and "instrument" dari Hugo Chavez dan Fidel Castro. Jika rakyat tetap memilih Evo, maka pemerintah AS akan mempertimbangkan untuk menghentikan bantuannya kepada Bolivia ("I want to remind the Bolivian electorate that if you elect those who want Bolivia to become a major cocaine exporter again, this will endanger the future of U.S. assistance to Bolivia"). Hasilnya, dalam pemilu tahun itu, Evo hanya menempati posisi kedua.
Di sisi sebaliknya, Evo adalah perlambang dari sebuah masyarakat adat yang terpinggirkan, terisolasi dan terdiskriminasi. Ia adalah tokoh yang diharapkan bisa mengatasi kemiskinan dan marginalisasi masyarakat adat yang merupakan mayoritas.Dalam bahasa Luis Macas, presiden dari Confederation of Indigenous Nationalities of Ecuador (CONAIE), sebuah organisasi gerakan sosial yang paling kuat, kemenangan Morales merupakan peristiwa sejarah yang belum pernah terjadi sejak negeri itu merdeka dari penjajahan Spanyol sebad lalu. Kemenangan Evo bukan hanya kemenangan rakyat Bolivia tapi, juga kemenangan seluruh wilayah Amerika Latin. Ungkapan senada dilontarkan oleh Rigoberto Menchú, seorang aktivis suku Indian Mayan, penerima hadiah nobel perdamaian pada 1992. Baginya, kemenangan Morales merupakan angin segar bagi penduduk asli , bahwa kemenangan Morales "merupakan sebuah preseden penting bagi perjuangan sosial di seluruh wilayah." Tetapi Menchú mengingatkan, tugas yang dihadapi Evo sangatlah kompleks dan ribet.

"Karena ia akan memimpin sebuah negeri dimana rasisme dan diskriminasi telah begitu dalam berakar, disamping masalah-masalah ekonomi yang serius, kemiskinan dan pembelahan sosial dan politik."

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece