Update Terakhir: Jan 6th, 2006 - 03:32:11
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Isu Kesehatan
Isu Perempuan
Isu Kesukuan
Isu Terkait
Duka/ Belasungkawa
Isu Umum
Isu Melanesia
Isu Keagamaan
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Duka/ Belasungkawa

Di Pegunungan Bintang, Pesawat Jatuh, 2 Tewas : Belum Lama ini, Pilotnya Pernah Kecelakaan di Sorong
By SKH Cepos, Jumat, 06 Januari 2006
Jan 6, 2006, 03:21

 
Jenazah Willy Kocu dalam kondisi parah
SENTANI-Musibah jatuhnya pesawat, Kamis (5/1) kemarin terjadi di Pegunungan Bintang, Papua. Pesawat Cesna RCV 185 milik Associated Mission Aviation (AMA) dilaporkan jatuh di Kampung Ombron, Distrik Bormeb, Kabupaten Pegunungan Bintang, sekitar pukul 10.00 WIT. Dari peristiwa ini, sedikitnya dua orang tewas seketika. Kedua korban itu, masing-masing pilot Willy Brodus Kocu (29 th) dan penumpang bernama Alex Tony Rumbarar.

Kecelakaan itu berawal dari pesawat berbadan kecil itu melakukan penerbangan dari Sentani (Kabupaten Jayapura) dengan tujuan Bormeb (Pegunungan Bintang). Pesawat dengan flight III ini membawa tripleks dan barang lainnya dengan beban 300 Kg, sesuai dengan kapasistas pesawat tersebut.

Pesawat itu dikemudikan pilot Willy Kocu (29 th) bersama satu penumpang bernama Alex Tony Rumbarar, yang diketahui tinggal di jalan Kodam Baru, Ardipura, Polimak III A, Kota Jayapura.

Sesuai schedule, pesawat tersebut berangkat dari Sentani sekitar pukul 09.00 WIT dengan tujuan Bormeb, namun pesawat tersebut dikhabarkan mengalami kecelakaan di dekat perkampungan di Ombron, Bormeb (Pegunungan Bintang). "Belum diketahui apa penyebab kecelakaan pesawat ini, saat penerbangan cuaca di laporkan terang benderang,"kata Direktur AMA Joseph Leroux, kepada wartawan, kemarin.

Ditanya apakah sebelum kecelakaan, pilot pernah melakukan kontak terakhir dengan menara Bandara. Menurunya, dirinya sudah tidak ingat lagi, karena saat itu perhatiannya tertuju pada bagaimana menyelamatkan atau mengevakuasi pilot dan penumpangnya.

Menurut informasi yang diperoleh petugas di lokasi kejadian menyebutkan bahwa pesawat yang dipiloti Willy Brodus Kocu (28) itu jatuh sekitar pukul 10.00 Wit. Saat kejadian, cuaca dilokasi itu sangat bagus dan cukup cerah.

"Informasi dari petugas radio di sana (Desa Omban), pesawat itu jatuh di daerah perkampungan. Apakah di perkampungan banyak rumah atau tidak, kita belum tahu. Tapi yang jelas saat itu pesawat itu membawa barang-barang dengan berat sekitar 300-an kilo," katanya.

Menurut Josep Leroux, para korban maupun pesawat yang jatuh itu pertama kali ditemukan oleh warga setempat. Kebetulan saat itu, ada salah seorang Pilot AMA yakni Erick Robert yang melakukan penerbangan dari Oksibil ke Sentani langsung diperintahkan menuju ke lokasi kejadian untuk mengevakuasi para korban.

Dikatakan bahwa pilot yang mengalami naas itu adalah pilot yang belum lama ini mengalami kecelakaan di Sorong, hanya saja pesawat AMA yang jatuh saat itu tidak satupun korban yang meninggal. Dia merupakan Alumni Sekolah Penerbangan Curug, Yogyakarta tahun 1999.

"Kendati dia pernah jatuh, tapi secara prosedur dan penerbangann dia sudah memadai. Sebab dia ini sudah pernah melakukan medical chek ke Jakarta oleh dokter kesehatan penerbangan dan dia sudah test laik, bahkan sudah ada surat kelaikan dari Jakarta," katanya.

Menurut Joseph Leroux yang dalam wawancara ini didampingi Chief Mekanik Norbertus Tunyanan, kondisi mesin saat penerbangan juga dalam keadaan baik. Bahkan, mesin pesawat tersebut terbilang baru karena masih kurang dari 50 jam terbang. "Untuk mengetahui secara pasti penyebab kecelakaan ini, kami masih menunggu hasil penyidikan Komisi Nasional Kelayakan Terbang (KNKT),"ujar Leroux.

Dengan jatuhnya pesawat itu, dua korban bisa langsung dievakuasi. Dua korban pesawat yang mengalami naas ini, tiba di Bandara Sentani sekitar pukul 13.10 WIT. Dalam evakuasi itu, korban diangkut dengan pesawat Cesna yang dikemudikan pilot Eric. Sesaat setelah turun dari pesawat, kedua jenazah langsung diangkut ke ambulance menuju ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura.

Ketika Cenderawasih Pos hendak mengorek keterangan dari Pilot yang membawa korban ke Sentani itu, Eric enggan memberikan keterangan. Dari balik kaca pintu masuk yang ditutup rapat, terlihat Erik mengangkat tangan saat pintunya diketuk, dengan maksud menahan untuk tidak masuk ke ruangan. Begitu pun saat KP3 Udara hendak menemui, Eric yang masih ada di dalam ruangan juga enggan untuk menerima.

KONDISI KORBAN PARAH

Sementara itu, sesaat setelah semua korban dibawa ke kamar mayat RSUD Dok II, isak tangis dari keluarga Willy Kocu (pilot) tak bisa dibendung lagi. Satu per satu keluarga korban dari Sorong yang berada di Jayapura terus berdatangan dan langsung menuju kamar otopsi tempat korban disemayamkan.

Mereka langsung memeluk jasad korban yang saat itu masih berada di dalam kantong mayat. Mereka terlihat sangat shock, kaget dan seakan belum menerima atas musibah tersebut. Dengan musibah ini, pilot Willy Kocu meninggalkan 1 istri bernama Suzan dan seorang anak yang masih berumur 1 tahun.

Suzan, istri korban yang kemarin ikut berada di kamar jenazah, meski tidak bisa menahan kesedihannya, namun terlihat agak tegar menghadapi musibah yang dialami suaminya. Ketika kantong plastik yang membungkus jasad suaminya mulai dibuka petugas dokter, Suzan yang masih menangis tersedu-sedu langsung mendekati jasad suaminya, sambil tangannya mengelus elus dadanya.

Setelah kantong plastik dibuka, terlihat jelas bahwa kondisi korban (Pilot) luka parah. Kedua kakinya patah, di bagian pergelangan kaki kirinya nyaris putus, kepalanya tampak hancur, termasuk mata kirinya terlihat sudah tidak ada lagi.

Meski korban dibawa ke kamar otopsi, namun mayat korban tidak dilakukan otopsi, hanya sekadar dilihat untuk mengetahui luka korban untuk kepentingan identifikasi.

Infomasi yang diperoleh dari keluarga korban, rencananya jasad korban akan dibawa ke Sorong untuk dimakamkan di kampung kelahirannya.

Sementara itu salah seorang penumpang pesawat yang ikut tewas, Alex Toni Rumbarar berasal dari Biak, hingga sore kemarin masih disemayamkan di Kamar Mayat RSUD Dok II. Hingga berita ini diambil, belum ada satupun dari pihak keluarga korban yang datang ke kamar mayat untuk melihat langsung kondisi korban. (tri/mud/ade)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece