|
||||||
Update
Terakhir: Jan 6th, 2006 - 03:32:11
|
|
Duka/ Belasungkawa
Kecelakaan itu berawal dari pesawat berbadan kecil itu melakukan penerbangan dari Sentani (Kabupaten Jayapura) dengan tujuan Bormeb (Pegunungan Bintang). Pesawat dengan flight III ini membawa tripleks dan barang lainnya dengan beban 300 Kg, sesuai dengan kapasistas pesawat tersebut. Pesawat itu dikemudikan pilot Willy Kocu (29 th) bersama satu penumpang bernama Alex Tony Rumbarar, yang diketahui tinggal di jalan Kodam Baru, Ardipura, Polimak III A, Kota Jayapura. Sesuai schedule, pesawat tersebut berangkat dari Sentani sekitar pukul 09.00 WIT dengan tujuan Bormeb, namun pesawat tersebut dikhabarkan mengalami kecelakaan di dekat perkampungan di Ombron, Bormeb (Pegunungan Bintang). "Belum diketahui apa penyebab kecelakaan pesawat ini, saat penerbangan cuaca di laporkan terang benderang,"kata Direktur AMA Joseph Leroux, kepada wartawan, kemarin. Ditanya apakah sebelum kecelakaan, pilot pernah melakukan kontak terakhir dengan menara Bandara. Menurunya, dirinya sudah tidak ingat lagi, karena saat itu perhatiannya tertuju pada bagaimana menyelamatkan atau mengevakuasi pilot dan penumpangnya. Menurut informasi yang diperoleh petugas di lokasi kejadian menyebutkan bahwa pesawat yang dipiloti Willy Brodus Kocu (28) itu jatuh sekitar pukul 10.00 Wit. Saat kejadian, cuaca dilokasi itu sangat bagus dan cukup cerah. "Informasi dari petugas radio di sana (Desa Omban), pesawat itu jatuh di daerah perkampungan. Apakah di perkampungan banyak rumah atau tidak, kita belum tahu. Tapi yang jelas saat itu pesawat itu membawa barang-barang dengan berat sekitar 300-an kilo," katanya. Menurut Josep Leroux, para korban maupun pesawat yang jatuh itu pertama kali ditemukan oleh warga setempat. Kebetulan saat itu, ada salah seorang Pilot AMA yakni Erick Robert yang melakukan penerbangan dari Oksibil ke Sentani langsung diperintahkan menuju ke lokasi kejadian untuk mengevakuasi para korban. Dikatakan bahwa pilot yang mengalami naas itu adalah pilot yang belum lama ini mengalami kecelakaan di Sorong, hanya saja pesawat AMA yang jatuh saat itu tidak satupun korban yang meninggal. Dia merupakan Alumni Sekolah Penerbangan Curug, Yogyakarta tahun 1999. "Kendati dia pernah jatuh, tapi secara prosedur dan penerbangann dia sudah memadai. Sebab dia ini sudah pernah melakukan medical chek ke Jakarta oleh dokter kesehatan penerbangan dan dia sudah test laik, bahkan sudah ada surat kelaikan dari Jakarta," katanya. Menurut Joseph Leroux yang dalam wawancara ini didampingi Chief Mekanik Norbertus Tunyanan, kondisi mesin saat penerbangan juga dalam keadaan baik. Bahkan, mesin pesawat tersebut terbilang baru karena masih kurang dari 50 jam terbang. "Untuk mengetahui secara pasti penyebab kecelakaan ini, kami masih menunggu hasil penyidikan Komisi Nasional Kelayakan Terbang (KNKT),"ujar Leroux. Dengan jatuhnya pesawat itu, dua korban bisa langsung dievakuasi. Dua korban pesawat yang mengalami naas ini, tiba di Bandara Sentani sekitar pukul 13.10 WIT. Dalam evakuasi itu, korban diangkut dengan pesawat Cesna yang dikemudikan pilot Eric. Sesaat setelah turun dari pesawat, kedua jenazah langsung diangkut ke ambulance menuju ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura. Ketika Cenderawasih Pos hendak mengorek keterangan dari Pilot yang membawa korban ke Sentani itu, Eric enggan memberikan keterangan. Dari balik kaca pintu masuk yang ditutup rapat, terlihat Erik mengangkat tangan saat pintunya diketuk, dengan maksud menahan untuk tidak masuk ke ruangan. Begitu pun saat KP3 Udara hendak menemui, Eric yang masih ada di dalam ruangan juga enggan untuk menerima. KONDISI KORBAN PARAH Sementara itu, sesaat setelah semua korban dibawa ke kamar mayat RSUD Dok II, isak tangis dari keluarga Willy Kocu (pilot) tak bisa dibendung lagi. Satu per satu keluarga korban dari Sorong yang berada di Jayapura terus berdatangan dan langsung menuju kamar otopsi tempat korban disemayamkan. Mereka langsung memeluk jasad korban yang saat itu masih berada di dalam kantong mayat. Mereka terlihat sangat shock, kaget dan seakan belum menerima atas musibah tersebut. Dengan musibah ini, pilot Willy Kocu meninggalkan 1 istri bernama Suzan dan seorang anak yang masih berumur 1 tahun. Suzan, istri korban yang kemarin ikut berada di kamar jenazah, meski tidak bisa menahan kesedihannya, namun terlihat agak tegar menghadapi musibah yang dialami suaminya. Ketika kantong plastik yang membungkus jasad suaminya mulai dibuka petugas dokter, Suzan yang masih menangis tersedu-sedu langsung mendekati jasad suaminya, sambil tangannya mengelus elus dadanya. Setelah kantong plastik dibuka, terlihat jelas bahwa kondisi korban (Pilot) luka parah. Kedua kakinya patah, di bagian pergelangan kaki kirinya nyaris putus, kepalanya tampak hancur, termasuk mata kirinya terlihat sudah tidak ada lagi. Meski korban dibawa ke kamar otopsi, namun mayat korban tidak dilakukan otopsi, hanya sekadar dilihat untuk mengetahui luka korban untuk kepentingan identifikasi. Infomasi yang diperoleh dari keluarga korban, rencananya jasad korban akan dibawa ke Sorong untuk dimakamkan di kampung kelahirannya. Sementara itu salah seorang penumpang pesawat yang ikut tewas, Alex Toni Rumbarar berasal dari Biak, hingga sore kemarin masih disemayamkan di Kamar Mayat RSUD Dok II. Hingga berita ini diambil, belum ada satupun dari pihak keluarga korban yang datang ke kamar mayat untuk melihat langsung kondisi korban. (tri/mud/ade) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|