Update Terakhir: Jan 12th, 2006 - 00:48:52
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Isu Kesehatan
Isu Perempuan
Isu Kesukuan
Isu Terkait
Duka/ Belasungkawa
Isu Umum
Isu Melanesia
Isu Keagamaan
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Isu Umum

Air Efata Segera Layani Penerbangan Jakarta-Papua
By Media Indonesia
Jan 12, 2006, 00:38

 
Jakarta, Maskapai penerbangan swasta, Air Efata segera melayani penerbangan dari Jakarta ke Papua melalui Surabaya atau Makasar sejak 9 Januari 2006 dengan frekuensi 14 kali per minggu.

"Penerbangan akan ditempuh sekitar 4-5 jam atau lebih pendek dari yang disediakan oleh operator lain yang memakan waktu kurang lebih 8 jam karena harus singgah di beberapa kota selain Makassar seperti Surabaya, Manado dan Ambon atau Biak," kata Dirut PT Efata Papua Airlines, Frank Taira Supit kepada pers di sela Syukuran Air Efata di Jakarta.

Sementara Air Efata, lanjutnya, dengan pesawat jet besar seperti MD-88 maka penerbangan dari Jakarta hanya akan transit di Makassar, Surabaya atau Biak yang selanjutnya akan berakhir di Jayapura dan Timika, Papua.

Ia menjelaskan, Air Efata yang memperoleh Airline Operating Certificate (AOC) dari Departemen Perhubungan pada 2004 dan segera diperbaharui mulai 9 Januari 2006 ini sengaja mengenalkan ke pasar domestik sebagai maskapai tradisional yang mengandalkan pelayanan (full service) dengan harga tiket memadai atau fair.

"Kami bukan LCC (maskapai berkonsep murah/low cost carrier), tetapi maskapai tradisional yang mengedepankan pelayanan dengan harga tiket memadai," katanya.

Oleh karena itu, tegasnya, maskapai ini akan menjual tiket untuk rute Jakarta-Papua mulai Rp1,6 juta di kelas ekonomi dan 'deluxe efata' sekitar Rp2,5 juta atau lebih murah dibanding kompetitor sejenis di kelas bisnis hingga Rp3,3 juta dan kelas ekonomi Rp2,1 juta.

"Harga Rp1,6 juta itu dalam masa promosi satu bulan ini. Efata akan menjual lima sub kelas dalam setiap penerbangannya," katanya.

Ia juga mengatakan, penumpang Efata akan menikmati kelegaan terbang dengan pesawat MD-88 dan MD-83 yang senga didisain "tidak lelah" bagi penumpang karena pesawat yang harusnya mampu diisi dengan 165 penumpang, ternyata hanya 142 tempat duduk.

"Jarak antar tempat duduk di kelas Deluxe Efata 36 inci dan kursi berlapis kulit dari Italia seharga Rp8 juta per tempat duduk, sedangkan di kelas ekonomi jarak antar tempat duduk 32 inci. Jadi, lebih nyaman dan lega sehingga pantas untuk penerbangan jarak jauh," katanya.

Membuka papua

Misi dasar dari maskapai baru itu, kata Frank, disamping bisnis juga untuk membuka dan membantu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Papua agar tidak tertinggal dengan pulau lain di Indonesia.

"Karena itu, fokus kami Papua bukan kota-kota lain. Kata "Efata" sendiri berasal dari salah satu bahasa daerah di pulau itu yang berarti 'terbukalah'. Karena itu target kami, mulai Juni 2006, penerbangan pengumpan (feeder) dari kota-kota lain di Papua segera dibuka misalnya dari Sorong, Nabire, Manokwari atau lainnya," katanya.

Hanya saja untuk beberapa kota feeder tersebut, Air Efata harus mengoperasikan pesawat jet lebih kecil atau propeler (berbaling-baling). "Rencana pengadaan pesawat kami tahun ini menjadi sembilan unit yang merupakan campuran dari pesawat jet besar, lebih kecil dan propeler," katanya.

Efata Air adalah perusahaan swasta yang sahamnya dimiliki mayoritas oleh Grup PT Taira Markas, dan sisanya Grup PT Arpeni dan mantan Gubernur Papua Barnabas Suebu.


© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece