Update Terakhir: Jan 16th, 2006 - 15:30:10
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Gerilya
Dukungan Dunia
Usaha Diplomasi
Dialog Politik
Demo/ Protes
Petisi/ Surat
Gugat Pepera 69
Penegakan Hukum
Kisah Perjuangan
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Demo/ Protes

MASSA FRONT PEPERA BLOKIR JALAN 2, 45 JAM
By WPNews
Jan 16, 2006, 15:22

 
SEMENTARA ITU, pemindahan terhadap delapan orang tersangka 'Kasus Timika' ke Jakarta sempat menemui rintangan. Massa yang tergabung dalam Front Pepera PB (Papua Barat) itu sempat memalang (Memblokir) Jalan Raya Abepura-Sentani (Tepatnya di Depan Kampus Uncen Abepura) kurang lebih 2 jam 45 menit (2,45 Jam).

Karena yang diblokir ini merupakan satu-satunya jalan dari Jayapura ke Bandara Sentani (yang letaknya kurang lebih 35 km), maka pemindahan tersangka yang seharusnya dilakukan pagi sempat molor hingga siang hari.

Massa memblokir jalan karena merasa tidak puas atas penangkapan terhadap 12 warga sipil pada 12 Janurai lalu. Dua belas tersangka tersebut diduga melakukan penembakan di Mile 62-63 Timika pada 31 Agustus 2002 lalu.

Aksi tersebut berlangsung mulai pukul 10.30 WIT hingga 13.10 WIT. Tak ayal, karena jalan tersebut merupakan satu-satunya jalan Jayapura/Abepura-Sentani arus lalu lintas macet total. Tak satu pun kendaraan yang bisa melintasi blokade.

Pemblokiran jalan utama ini antara lain dengan kayu, membakar ban bekas, batu-batu dan puing-puing tembok/dinding. Bahkan botol-botolpun ikut dipecahkan dan ditaruh di tengah jalan raya tersebut.

Negosiasi yang cukup panjang dilakukan oleh Kapolresta Jayapura, AKBP Drs Paulus Waterpauw, dengan massa. Apalagi sempat diwarnai beda pendapat dari para pemalang jalan itu. Negosiasi pun berlanjut dengan ketegangan, karena atas perbedaan pendapat itu ada sebagian massa yang tetap bersikukuh tidak mau membuka jalan, tapi ada juga yang siap membuka jalan.

Koordinator Lapangan Front Pepera Papua Barat, Selfius Bobi dan Penanggung Jawab Aksi Hans Gebse yang melakukan negosiasi, mendapat desakan dari massa supaya menawarkan beberapa opsi yang berpihak kepada 12 tersangka.
Pihak massa menilai, bahwa penangkapan yang dilakukan polisi terhadap 12 orang tersangka tersebut tidak sesuai prosedur, karena menurut mereka dilakukan secara mendadak. Mereka juga meminta supaya pemeriksaannya dilakukan di Jayapura, bukan Jakarta.

Setelah melalui negosiasi, akhirnya disepakati ada 10 orang dari massa yang akan menemui Kapolda Papua. Akhirnya massa bersedia untuk membuka jalan secara tertib dan aman.

Dalam aksi yang mendapat pengawalan ketat dari Satuan Brimobda Papua dan aparat Poresta Jayapura ini, juga tampak Dandim 1701 Jayapura, Letkol Viktor Tobing, Ketua Els-HAM Papua Alosius Rewarin SH. Alosius Rewarin hadir sebagai mediator dari keluarga para tersangka) dan ia juga merupakan Ketua Tim Advokasi para tersangka tersebut.

"Aksi yang kami lakukan ini merupakan aksi damai atas ketidakpuasan terhadap penangkapan ke 12 warga sipil. Dan sebenarnya minta dialog dengan Kapolda, kami minta supaya mereka diadili di Jayapura atau Pengadilan Timika, bukan di Jakarta," kata Sekjen Fron Pepera PB yang bertindak sebagai Koodinator Lapangan, Selfius Bobi kepada wartawan pada konperensi pers yang digelar di Kantor Els-HAM Papua, Sabtu (15/1).

Hal yang sama dikatakan oleh Ketua Umum Front Pepera PB, Hans Gebze yang bertindak sebagai panggung jawab aksi. Hans Gebze mengatakan, kalau aksi yang dilakukan itu sebagai aksi protes terhadap pihak kepolisian dalam hal ini Polda Papua terhadap pemeriksaan tersangka yang akan dilakukan di Jakarta.

"Kami minta supaya pemeriksaan 12 warga sipil yang dikatakan Polda Papua sebagai tersangka itu, jangan dilakukan di Jakarta. Kalau terjadi di Papua, kenapa harus diperiksa di Jakarta. Ini tidak benar dan terkesan pemerintah terus melakukan pembodohan kepada masyarakat. Sekarang era demokrasi, semuanya harus transparan. Jangan ada yang ditutup-tutupi," ujarnya kecewa.

BERLANJUT HARI INI
Sementara itu hingga tadi malam, kembali terbetik kabar, kalau pemblokiran jalan akan berlanjut hari ini. Sama dengan yang digelar sabtu lalu, aksi pemblokiran jalan akan kembali digelar di depan Kampus Uncen Abepura Senin (16/1) hari ini. Aksi yang dilakukan ini sebagai wujud kekecewaan dan protes terhadap kepolisian yang membawa tersangka Kasus Timika ke Jakarta secara diam-diam.

"Kami tetap akan melakukan aksi damai dengan memblokir jalan karena polisi telah bohong. Dalam aksi ini kami tetap akan memperhatiakn upaya-upaya damai, tapi soal minta izin tidak perlu karena minta izin juga tetap sama saja," kata Sekjen Front Pepera, Selfius Bobi, dalam konferensi pers di Kantor Els-HAM Papua.

Menurut Bobi, rencana pemblokiran jalan itu tidak hanya untuk melakukan aksi protes terhadap pemindahan 8 tersangka, tapi melakukan protes terhadap penegakan hukum dan demokrasi di Papua yang terkesan tidak ada dan dipolitisir untuk kepentingan-kepentingan tertentu tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat kecil.

"Ini sebenarnya bukan pembohongan pertama dilakukan Pemerintah Indonesia melalui Polda Papua, namun sudah untuk kesekian kalinya. Kami mau keadilan dan demokrasi di tanah ini, jangan karena kepentingan, maka semuanya dilakukan tidak sesuai dengan prosedur dan hukum yang dibuat pemerintah sendiri," tandasnya.(ito)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece