Update Terakhir: Jan 21st, 2006 - 01:36:34
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Kekejaman Negara
Operasi Militer
Ancaman/ Terror
Militerisme
Kerjasama Militer
Terorisme Dunia
Mati Misterius
Kejahatan Milisi
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Ancaman/ Terror

Bertemu TPN/OPM di Kaki Gunung Cycloop
By Odeodata H Julia (Sinar Sarapan)
Jan 21, 2006, 01:34

 
JAYAPURA—Sebuah pesan layanan singkat (SMS) diperlihatkan oleh seorang rekan jurnalis kepada saya. Isi SMS itu ternyata meminta kesediaan dari kami untuk mengikuti acara konferensi pers dengan Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM), tapi belum jelas dari kelompok mana yang akan meminta jumpa pers bersama kami.

Sebenarnya, isi jumpa pers tersebut meminta kesediaan kami hari Senin (16/1), namun entah dengan alasan apa acara itu diundur menjadi Selasa (18/1). Sesudah sepakat akan tempat pertemuan, akhirnya saya dan kedua rekan dari TV Global dan Trans TV menuju ke arah Sentani, Kabupaten Jayapura, sesuai kesepakatan di mana kami akan bertemu, setelah seorang kurir yang biasanya berhubungan dengan mereka mengirimkan pesan itu dan menentukan tempatnya, setelah beberapa kali mengalami perubahan tempat.

Rasa takut dan cemas menyertai kami, apalagi kami bertiga, kami dua orang wartawan perempuan dan hanya seorang wartawan pria dari Trans TV. Pikiran jelek sempat melintas, bagaimana seandainya kami diculik oleh mereka dan dibawa masuk lebih dalam lagi sampai ke dalam hutan belukar, apalagi kepergian kami ini tidak diketahui oleh seorang pun.

Dari Jayapura menuju Sentani, perjalanan kami tempuh selama 45 menit. Di sebuah pangkalan ojek di daerah Sentani Kota, kami bertemu dengan juru bicara TPN/OPM, Maxi Tabuni. Bersama Maxi kami menuju sebuah tempat yang telah ditentukan, dan lewat jalur jalan menuju Pos 7. Namun lagi-lagi, kami harus melewati jalan lain, karena jalur jalan yang akan kami tempuh tersebut agak rusak.

Akhirnya, kami memasuki sebuah ruas jalan, yang terus terang saja, walaupun saya lahir di Jayapura, tetapi baru pertama kalinya ini saya masuki dan kalau disuruh balik lagi ke tempat ini, saya pasti sudah lupa sama sekali karena berkelok-kelok dan dipenuhi semak.

Perjalanan kami sekitar 20 menit menuju ke lokasi. Sebenarnya kami akan masuk lebih dalam lagi ke lokasi, namun karena kami tidak ada persiapan yang memadai dan hari sudah siang, akhirnya kami sepakat bertemu di sebuah lokasi dekat kaki Gunung Cycloop.

Setelah menunggu di lokasi yang ditentukan, muncullah Panglima TPN/OPM Komando Daerah Operasi (Kodap) X A Omawi Wenda dan Koordinator TPN/OPM Dalam Negeri Muli Dongga. Omawi didampingi beberapa anak buahnya. Mereka menyambut kedatangan kami dengan senyum ramah, salah seorang anak buahnya langsung menjabat tangan saya.

Perasaan takut dan cemas langsung hilang begitu melihat penyambutan mereka yang ramah, meski mereka tetap membawa senjata tradisional jubi dan anak panahnya.
Setelah berbincang-bincang sejenak, karena waktu yang mulai beranjak sore, Omawi mengeluarkan sebuah kertas putih tulisan tangan Mathias Wenda dan membacakannya di hadapan kami.

”Panglima TPN/OPM Komando Daerah Operasi (Kodap) X A Omawi Wenda TPN/ OPM Papua Barat menyatakan bahwa TPN/OPM sama sekali tidak terlibat terhadap aksi penembakan di Mile 62-62 Tembagapura, Timika, Papua yang menewaskan tiga orang guru International School, yakni dua warga asing dan seorang warga Indonesia pada 31 Agustus 2002,” demikian bunyi pernyataan sikap itu.

Meminta juga meminta agar oknum-oknum yang terlibat langsung penembakan di Timika segera ditangkap dan diproses sesuai dengan hukum Republik Indonesia. Selain itu, Tom Beanal, Willy Mandowen, FBI, dan Paula Makabory bertanggung jawab atas penangkapan delapan orang tahanan yang dievakuasi ke Jakarta.

Koordinator TPN/OPM Dalam Negeri Muli Donnga menegaskan, ”Itu orang yang tidak bertanggung jawab. Entah TNI yang main atau peliharaan OPM yang ada di Timika. Sebagai Koordinator X Kodap atas nama Mathias Wenda, kami kutuk,” katanya.

Usai membacakan surat tersebut, salah seorang pengawal Omawi Wenda langsung mengatakan. ”Ade tolong tulis yang baik dan benar, sesuai dengan apa yang bapak tadi bacakan. Karena selama ini pengalaman kami, kami bicara lain, ada teman-teman wartawan yang tulis lain lagi. Jadi tolong tulis yang bagus e kalo bukan kami yang tembak orang asing itu,” ujarnya. Akhirnya dengan diantar juru bicara, kami kembali lagi ke Sentani.

Ada Kelompok Lain?
Sebelumnya, Albert Rumbekwan yang juga anggota tim kuasa hukum kedelapan tersangka itu kepada wartawan mengungkapkan dari hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terhadap tersangka pelaku utama penembakan Timika, Anthonius Wamang, terungkap bahwa tahun 2001 Anthonius Wamang pergi ke Jakarta dan tinggal di Hotel Jody, Jl. Jaksa.

Kemudian ia dikenalkan dengan Serma Puji oleh Agustinus Anggaibak (tersangka lainnya-red). ”Kemudian Serma Puji menawarkan kepada dia (Anthonius Wamang-red) magazine peluru sebanyak enam magazine,” kata Albert menirukan keterangan Anthonius Wamang di hadapan penyidik.

Enam magazine tersebut dibawa ke Jayapura dengan menggunakan KM Kalimutu. Pada akhir tahun 2001, barulah Anthonius Wamang kembali ke Timika. Anthonius mengatakan bahwa senjata M 16 dan SSI adalah senjata rampasan. Kemudian, Anthonius menceritakan kronologi kejadian pada 31 Agustur 2002 itu.

Menurutnya, pada waktu penyerangan, ada mobil pertama yang lewat, yakni mobil tentara. Karena belum mengambil posisi, mereka tidak jadi menembak. Saat mobil kedua lewat, dikira mobil tentara, Anthonius dkk melakukan penembakan sampai satu magazine habis. Ternyata ada tembakan lain yang datang dari arah depan. ”Dia (Anthonius-red) tembakan itu kena sasaran dan mobil pada posisi miring,” ujarnya.

Begitu pula saat mobil ketiga lewat, teman Anthonius melakukan penembakan dan keluar delapan butir, tetapi senjatanya rusak sehingga tidak jadi menembak. Ternyata ada tembakan lain lagi dari arah depan. Sewaktu ditengok, ternyata ada kelompok lain lagi. n




© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece