|
||||||
Update
Terakhir: Jan 21st, 2006 - 01:36:34
|
|
Ancaman/ Terror
Sebenarnya, isi jumpa pers tersebut meminta kesediaan kami hari Senin (16/1), namun entah dengan alasan apa acara itu diundur menjadi Selasa (18/1). Sesudah sepakat akan tempat pertemuan, akhirnya saya dan kedua rekan dari TV Global dan Trans TV menuju ke arah Sentani, Kabupaten Jayapura, sesuai kesepakatan di mana kami akan bertemu, setelah seorang kurir yang biasanya berhubungan dengan mereka mengirimkan pesan itu dan menentukan tempatnya, setelah beberapa kali mengalami perubahan tempat. Rasa takut dan cemas menyertai kami, apalagi kami bertiga, kami dua orang wartawan perempuan dan hanya seorang wartawan pria dari Trans TV. Pikiran jelek sempat melintas, bagaimana seandainya kami diculik oleh mereka dan dibawa masuk lebih dalam lagi sampai ke dalam hutan belukar, apalagi kepergian kami ini tidak diketahui oleh seorang pun. Dari Jayapura menuju Sentani, perjalanan kami tempuh selama 45 menit. Di sebuah pangkalan ojek di daerah Sentani Kota, kami bertemu dengan juru bicara TPN/OPM, Maxi Tabuni. Bersama Maxi kami menuju sebuah tempat yang telah ditentukan, dan lewat jalur jalan menuju Pos 7. Namun lagi-lagi, kami harus melewati jalan lain, karena jalur jalan yang akan kami tempuh tersebut agak rusak. Akhirnya, kami memasuki sebuah ruas jalan, yang terus terang saja, walaupun saya lahir di Jayapura, tetapi baru pertama kalinya ini saya masuki dan kalau disuruh balik lagi ke tempat ini, saya pasti sudah lupa sama sekali karena berkelok-kelok dan dipenuhi semak. Perjalanan kami sekitar 20 menit menuju ke lokasi. Sebenarnya kami akan masuk lebih dalam lagi ke lokasi, namun karena kami tidak ada persiapan yang memadai dan hari sudah siang, akhirnya kami sepakat bertemu di sebuah lokasi dekat kaki Gunung Cycloop. Setelah menunggu di lokasi yang ditentukan, muncullah Panglima TPN/OPM Komando Daerah Operasi (Kodap) X A Omawi Wenda dan Koordinator TPN/OPM Dalam Negeri Muli Dongga. Omawi didampingi beberapa anak buahnya. Mereka menyambut kedatangan kami dengan senyum ramah, salah seorang anak buahnya langsung menjabat tangan saya. Perasaan takut dan cemas langsung hilang begitu melihat penyambutan mereka yang ramah, meski mereka tetap membawa senjata tradisional jubi dan anak panahnya. Setelah berbincang-bincang sejenak, karena waktu yang mulai beranjak sore, Omawi mengeluarkan sebuah kertas putih tulisan tangan Mathias Wenda dan membacakannya di hadapan kami. ”Panglima TPN/OPM Komando Daerah Operasi (Kodap) X A Omawi Wenda TPN/ OPM Papua Barat menyatakan bahwa TPN/OPM sama sekali tidak terlibat terhadap aksi penembakan di Mile 62-62 Tembagapura, Timika, Papua yang menewaskan tiga orang guru International School, yakni dua warga asing dan seorang warga Indonesia pada 31 Agustus 2002,” demikian bunyi pernyataan sikap itu. Meminta juga meminta agar oknum-oknum yang terlibat langsung penembakan di Timika segera ditangkap dan diproses sesuai dengan hukum Republik Indonesia. Selain itu, Tom Beanal, Willy Mandowen, FBI, dan Paula Makabory bertanggung jawab atas penangkapan delapan orang tahanan yang dievakuasi ke Jakarta. Koordinator TPN/OPM Dalam Negeri Muli Donnga menegaskan, ”Itu orang yang tidak bertanggung jawab. Entah TNI yang main atau peliharaan OPM yang ada di Timika. Sebagai Koordinator X Kodap atas nama Mathias Wenda, kami kutuk,” katanya. Usai membacakan surat tersebut, salah seorang pengawal Omawi Wenda langsung mengatakan. ”Ade tolong tulis yang baik dan benar, sesuai dengan apa yang bapak tadi bacakan. Karena selama ini pengalaman kami, kami bicara lain, ada teman-teman wartawan yang tulis lain lagi. Jadi tolong tulis yang bagus e kalo bukan kami yang tembak orang asing itu,” ujarnya. Akhirnya dengan diantar juru bicara, kami kembali lagi ke Sentani. Ada Kelompok Lain? Sebelumnya, Albert Rumbekwan yang juga anggota tim kuasa hukum kedelapan tersangka itu kepada wartawan mengungkapkan dari hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terhadap tersangka pelaku utama penembakan Timika, Anthonius Wamang, terungkap bahwa tahun 2001 Anthonius Wamang pergi ke Jakarta dan tinggal di Hotel Jody, Jl. Jaksa. Kemudian ia dikenalkan dengan Serma Puji oleh Agustinus Anggaibak (tersangka lainnya-red). ”Kemudian Serma Puji menawarkan kepada dia (Anthonius Wamang-red) magazine peluru sebanyak enam magazine,” kata Albert menirukan keterangan Anthonius Wamang di hadapan penyidik. Enam magazine tersebut dibawa ke Jayapura dengan menggunakan KM Kalimutu. Pada akhir tahun 2001, barulah Anthonius Wamang kembali ke Timika. Anthonius mengatakan bahwa senjata M 16 dan SSI adalah senjata rampasan. Kemudian, Anthonius menceritakan kronologi kejadian pada 31 Agustur 2002 itu. Menurutnya, pada waktu penyerangan, ada mobil pertama yang lewat, yakni mobil tentara. Karena belum mengambil posisi, mereka tidak jadi menembak. Saat mobil kedua lewat, dikira mobil tentara, Anthonius dkk melakukan penembakan sampai satu magazine habis. Ternyata ada tembakan lain yang datang dari arah depan. ”Dia (Anthonius-red) tembakan itu kena sasaran dan mobil pada posisi miring,” ujarnya. Begitu pula saat mobil ketiga lewat, teman Anthonius melakukan penembakan dan keluar delapan butir, tetapi senjatanya rusak sehingga tidak jadi menembak. Ternyata ada tembakan lain lagi dari arah depan. Sewaktu ditengok, ternyata ada kelompok lain lagi. n © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|