|
||||||
Update
Terakhir: Jan 21st, 2006 - 01:50:47
|
|
Demo/ Protes
‘Mestinya ko sadar, sebelum tiba hari-hari penuh tangis dan duka lara, sebab Ia sakit dan punya batas kesabaranan melihat perilakumu. (^Q) ___________________________________________________ WPNews - Adalah jelas-jelas konspirasi politik kuno yang terus dimainkan oleh negeri budak imperialis kawakan dunia ini. Negeri yang tanpa sadar mengorbanakan kepentingan rakyatnya demi keutuhan ‘sang’ majikan kelas kaliber dunia, Amerika Serikat. Diatas riuk pikuk tangisan anak negeri, resim SBY-JK tanpa henti mengobrak-abrikkan tatanan negeri berfalsafa pancasila ini. Tidak ada lagi tempat bagi rakyat untuk menyampaikan jeritan hati. Inikah potret Negara yang menjunjung tinggi hukum di republiknya? Ketika pencaplokan wilayah Papua Barat, duka larah terus dialami. Hutan dan dusun tempat berlindung dikuasai bahkan dikeruk habis. Tak mau tau disana ada masyarakat yang berlindung, mau mengatakan itu milikpun tak sanggup, sebab hanya mengisahkan penangkapan, penculikan, penganiayaan, pemerkosaan dan bentuk kejahatan lainya. Dengan keganasan yang bergelorah, budak NKRI melalui agen-agennya terus bergelirya. Entah mengapa. Rakyat Papua Barat bingung dan terus bertanya-tanya, sempari merenung, adakah kesalahan masa lalu yang dibuat oleh nenek moyang Papua terhadap budak NKRI? Yang kini semua adalah tuwaiyan yang harus diterima bangsa Papua Barat? Kasus penangkapan tanpa kekuatan hukum yang jelas terhadap 14 orang warga terkait penembakan Mil 62, Timika, Papua yang telah menewaskan dua Warga Negara asing merupakan bukti kesetiaan budak NKRI terhadap negeri bertitel neo-kapitalisme, Amerika Serikat. Penangkapan semena-mena pada tanggal, 11 Januari 2006, sangat mengherankan. Persis cerita lama bagi rakyat Papua Barat. Pasalnya, skenario ini dimainkan oleh TNI bersama FBI, pihak keamanan kelas kakap dunia milik Amerika Serikat ini. Sudah pasti Amerika yang hingga kini menyimpan lembaran-lembaran hitam mulai bereaksi menutupi diri dibelakang kebobrokan korban HAM dan ekploitasi emas dan tembaga di Papua barat melalui penjaga setia mereka Aparat NKRI. Pasalnya, catatan di sebuah artikel NewYork Times tanggal 27 Desember, telah membuat wajah Amerika Serikat kebablakan diatas penderitaan badai Kartika di New Orleans, pusat Freeport tersebut. Adalah tidak mungkin melimpahkan kesalahan terhadap budak kesayangannya. Padahal, indikasi penembakan sudah secara jelas terungkap melalui investigasi ELs-HAM Papua Barat yang menunjukan keterlibatan kuat TNI didalam kasus penembakan itu, namun tak banyak ditanggapi oleh Amerika bahkan aparat NKRI yang menjadi anjing penjaga Modal pun membantah dan menuduh TPN OPM sebagai dalang dibalik pembunuhan kedua warga Amerika tersebut. Tak kuasa menahan malu, lagi-lagi warga sipil Papua Barat menjadi incaran kambing hitamnya. Secara semena-mena, kedelapan warga harus digiring dalam tahanan Mabes Polri tanpa kekuatan hukum yang falid. Terlihat kekanak-kanakan memang scenario halus yang terus dimainkan melalui agen-agen milik Amerika, Willy Mandowen dkk, dan budak NKRI. Siapapun akan heran menyaksikannya, sembari angkat punggung dan ‘berteriak tertawa. Mau berekspresi pun tak kuasa, mau mengatakan saya tidak sala pun tak bisa, sebab semuanya tak berpihak. Pers pun di bungkam habis, tak satupun media yang meliput teriakan anak negeri. Semunya ikut membudak sang neoliberal Amerika Serikat. Rakyat harus bangkit melawan ketidakadilan. Bahwa hanya binatang yang bisa membiarkan iduk dan saudara-saudarinya dibunuh, lingkungan hidupnya di sapu rata. Bahwa rakyat Papua Barat adalah Negara yang penuh dengan belas kasihan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilaan, tetapi rakyat Papua Barat punya batas kesabaran, persis manusia lain di muka bumi ini. Hanya untuk sebuah pengharapan penyelesaian masalah-masalah Papua Barat secara logis dengan mengedepankan demokrasi, penegakan hukum dan HAM. Dengan demikian kami Mahasiswa Nabire-Papua yang tergabung didalam Aliansi Mahasiswa Papua Wilayah Nabire bersama nurani rakyat Papua Barat Menyeruhkan bahwa: 1. Bebaskan 8 tawanan warga sipil yang diduga terlibat kasus Mil 63 yang telah ditanggkap tanpa fakta hukum yang jelas. PT. Freeport Indonesia segera menghentikan eksploitasi di Tanah Papua Barat. dan segera mempertanggung jawabkan segala pelanggaran HAM yang telah dilakukan di bumi Amungsa. 2. Segera membangun perlawanan rakyat Papua Barat seutuhnya. 3. Bersama rakyat tertindas di Indonesia, menyesali keberpihakan pers dalam mengungkap dan menutupi fakta berita. 4. Segera Melakukan dialog terbuka dengan melibatkan pihak-pihak yang bermasalah dengan status integrasi bangsa Papua Barat. “ Bersama Kebenaran Sejarah “SANG” Bintang Kejora” © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|