|
||||||
Update
Terakhir: Jan 21st, 2006 - 19:03:00
|
|
Operasi Militer
Hanya saja, siapa nama pelaku, hingga tadi malam belum diperoleh informasi secara pasti, karena saat kejadian ada anggota TNI dan Polri, sementara saksi mata (Saksi Korban yang Hidup) belum bisa diwawancarai akibat luka-luka yang dialami dan dirawat di rumah sakit. Sementara yang menjadi korban penembakan tersebut masing-masing Moses Douw (23) meninggal dunia. Dua lagi luka-luka masing-masing Yonike Kotouki (18) dan Petrus Pekey (22). Korban Moses Douw meninggal dunia di Rumah Sakit Enarotali dan kemarin langsung dibawa ke kampung halaman untuk selanjutnya akan dimakamkan. Sedang kan kedua korban luka lainnya telah dirujuk ke RSUD Nabire untuk mendapatkan perawatan intensif. Dari hasil pantauan Cenderawasih Pos di lapangan, sesampainya di RSUD Nabire, kedua korban tersebut langsung dirongsen oleh dr Aron dari Enarotali dan disaksikan langsung Dandim 1705 Paniai, Letkol Inf Sumaidi dan jajarannya serta keluarga korban. Dari hasil rongsen yang dijelaskan oleh dr. Aron didampingi dr.Lettu Dini dari Yonif 753 Arga Vira Tama kepada keluarga korban, dikatakan tidak ada tanda-tanda peluru bersarang di dalam tubuh kedua akorban ataupun patah tulang. Namun untuk meyakinkan hal itu, maka kedua korban akan dioperasi. Meski peristiwa terjadi di tengah masyarakat, namun soal sebab musababnya mencul beberapa cerita yang berbeda. Pihak Polri yang dikonfirmasi, menyebutkan bahwa pelakunya diduga kuat anggota TNI, namun pihak TNI belum bisa memastikan akalau pelakunya anggota TNI. Termasuk awal kejadian, juga memunculkan cerita yang berbeda di antara TNI dan Polri. VERSI POLISI Kapolres Paniai yang coba dihubungi Cenderawasih Pos, tidak bisa nyambung. Sementara itu dari Jayapura, Kapolda Papua, Irjen Pol. Drs. Tommy Trider Jacobus, membenarkan adanya kejadian penembakan tersebut. Tentang kronologinya, Kapolda menjelaskan, awalnya tiga orang masyarakat yang sedang memperbaiki jalan datang ke pos polisi untuk minta surat keterangan atau sumbangan. Surat keterangan ini dimaksudkan sebagai dasar untuk menarik uang kepada setiap kendaraan yang melewati jalan yang sedang diperbaiki oleh mereka tersebut. Dimisalkan, bahwa surat yang dimaksud adalah semisal untuk setiap kendaraan bermotor yang melewati di jalan yang sedang diperbaiki itu ditarik (Dipajak) uang sebeasr Rp 20 ribu dan untuk kendaraan roda empat tarifnya lebih tinggi lagi. Karena dimintai surat keterangan seperti itu, maka dua anggota polisi yang piket di pos polisi saat itu tidak mau memberikan surat keterangan seperti yang diinginkan tiga orang anggota masyarakat itu. "Karena tidak diberi, maka ketiga orang tersebut marah, lalu melakukan pemukulan terhadap salah seorang anggota polisi yang bernama Bripda Ronald T," terang Kapolda. Melihat kejadian ini, lanjut Kapolda, maka anggota TNI kemudian datang untuk mencoba melerai. Namun lagi-lagi, tiga masyarakat itu juga hendak melakukan pemukulan terhadap para anggota TNI yang mencoba melerai tersebut. Pada saat itu pula, seraya melakukan pemukulan, tiga anggota masyarakat itu juga berteriak memanggil massa yang lain. Mungkin karena situasinya sudah sedikit tegang, maka kemudian keluar tembakan dari anggota TNI tersebut. Akibat tembakan itu, dua orang warga masyarakat mengalami luka-luka dan satu orang meninggal dunia. Saat didesak pertanyaaan apakah benar pelakunya (Yang Mengeluarkan Tembakan itu) bukan anggota polisi, Kapolda menegaskan, sudah jelas kalau yang melakukan tembakan adalah dari TNI. Karena menurut kapolda, dua anggota polisi yang sedang bertugas itu tidak dilengkapi senjata. VERSI TNI Di tempat berbeda (Di Nabire), Dandim 1705 Pania, Letkol Inf. Drs.Sumaidi ketika dikonfirmasi Cenderawasih Pos menuturkan, bahwa pagi itu Jumat (20/1) sekitar pukul 07.30 Wit, ada dua pemuda mendatangi Polsek Wagete minta bantuan dana. Namun menurut Kapolsek, lanjut Dandim, dana yang diminta cukup besar, maka kedua warga tersebut keluar dengan marah-marah. Karena kedua warga itu marah-marah, sehingga dengan terpaksa aparat Polsek Wagete tersebut mengeluarkan tembakan peringatan. Dan karena Jumat kemarin merupakan hari pasar, maka dengan tidak sengaja mengundang emosi dari masyarakat yang ada dan terjadilah insiden. Karena situasinya makin panas, maka setelah tembakan dari anggota Polsek Wagete itu disusul tembakan lagi dari anggota Pos Yonif 753 Arga Vira Tama. Akibatnya, membuat situasi semakin tegang, sehingga mengakibatkan dua orang luka-luka dan 1 meninggal. Yang meninggal adalah Moses Douw. Sedangkan yang luka-luka Yonike Katouki dan Petrus Pekey. Atas peristiwa itu, Dandim 1705 Pania ini berharap agar masyarakat jangan salah persepsi. ''Kami minta maaf kepada keluarga korban sekaligus turut berbelasungkawa dan untuk langkah-langkah antisipasi, kami akan terbang ke Wegete untuk menemui keluarga korban,''katanya. Sementara itu terkait dengan peristiwa tertembak 3 warga di Wagete itu, langsung mengundang perhatian pihak Kodam XVII/Trikora. Kapendam XVII/Trikora Mayor Caj GT. Situmorang menyatakan penyesalan yang sangat mendalam. Sehingga Kodam akan segera mengusut kasus tersebut sesuai prosedur yang ada. Menurut Situmorang, pengusutan terhadap peristiwa itu perlu dilakukan untuk memastikan apakah benar ada keterlibatan anggota TNI dalam kejadian tersebut. Kodam akan tetap melihat kejadian itu secara jernih dan tidak akan membiarkan begitu saja. "Kalau ternyata nanti ada anggota TNI yang terbukti salah yang menyebabkan kematian maupun luka-luka bagi warga, sudah pasti yang bersangkutan akan dikenakan tindakan hukum sesuai dengan kadar kesalahannya," jelas Situmorang. Ditambahkan Kapendam, atas peristiwa itu, pihak Kodam telah mengambil langkah-langkah awal yang diantaranya adalah mendampingi pihak kepolisian. Aparat Kodim 1705/Paniai telah melakukan pendekatan kepada keluarga korban dan masyarakat. Pihak Kodim juga telah berkoordinasi dengan unsur Muspida Paniai, dengan maksud agar kejadian ini tidak meluas. "Saat ini jenazah warga yang tewas Moses Douw masih disemayamkan di Markas Koramil Enarotali. Sedangkan dua warga yang luka-luka masih dirawat secara intensif di RSUD Nabire," imbuhnya. Menurut Kapendam, peristiwa itu bermula dari tindakan dua pemuda Desa Gakokebo yang meminta tanda tangan anggota Tri Pimpinan Kecamatan untuk menarik retribusi ilegal. Para pemuda itu mengatakan, retribusi itu ditujukan untuk membiayai perbaikan jalan raya setempat. Besarnya retribusi sangat bervariasi. Truk dikenakan Rp 100 ribu, mobil lain dikenakan Rp 75 ribu dan Rp 50 ribu serta motor dikenakan Rp 25 ribu. Tidak berhasil mendapatkan tanda tangan, pemuda itu melakukan pemukulan kepada aparat polisi. Setelah melakukan pemukulan, keduanya lari ke pasar, namum dikejar dan berhasil ditangkap. Ketika dibawa ke Polsek, sekelompok masyarakat mengikutinya dari belakang. Dalam perjalanan itu, ada warga yang kembali memukul anggota Polsek. Pada saat itu, ada seorang anggota Yonif 753/Arga Vira Tama sedang berjalan menuju pasar dan melihat kejadian. Mengira anggota Yonif 753 itu bukan tentara, sekelompok orang tersebut juga bermaksud mengeroyoknya. Ia kemudian berlari menyelamatkan diri ke markasnya. Pada saat yang sulit itu, terdengar letusan senjata api dari aparat dan belum jelas dari mana asal tembakan itu. Dalam peristiwa ini, Moses Douw tewas. Sedangkan dua warga lainnya Petrus Pikey mengalami luka rusuk kanan dan Delima luka pada paha kananya. (jon/and/mud/fud) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|