Update Terakhir: Jan 23rd, 2006 - 13:14:10
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Gerilya
Dukungan Dunia
Usaha Diplomasi
Dialog Politik
Demo/ Protes
Petisi/ Surat
Gugat Pepera 69
Penegakan Hukum
Kisah Perjuangan
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Dialog Politik

Aksi Massa Kasus Waghete Dibawah Pengawalan Aparat Kepolisian
By AMP Nabire Report
Jan 23, 2006, 13:10

 
Front Anti Militerisme Nabire, hari ini, Senen 23 Januari, sekitar 2000 ribuan masa aksi dari seluruh Lapisan Masyarakat sekota Nabire turun kejalan menutupi seluruh ruas jalan.

Aksi tuntutan palaku penembakan Waghete berdarah awalnya, sekitar pukul 9.00 WPB telah mendapat larangan keras dari Polsek Nabire yang menurunkan 1-2 kompi pasukan pengamanan, bahkan ketika poster dan spanduk direntangkan, aparat keamanan langsung mengamankan 12 buah poster.

Perlawanan mulut dilakukan selama kurang lebih 1 jam. Dengan terpaksa polsek mengembalikan ke-12 poster.
Hingga sekitar pukul 11.00 masa mulai berdatangan memenuhi ruas jalan. Hingga masa membludak dan melakukan long marc serayah mengangkat yel-yel dan “waita” (teriakan pembangkit semangat/mee ).

Dengan kawalan yang ketat dari pihak aparat keamanan masa terus berlanjut dan terkendali. Barisan masa yang kurang lebih 100 m lebih, membuat lalu lintas pun macet total.

Koordinator aksi, Sepy Iwepai dan Delius Tabuni memimpin hingga Kodim 753 sambil membagikan selebaran-selebaran.
Amukan masa ditengah emosi dan kesedihan mewarnai Orasi dan pembacaan sikap kepada Kodim 753.

Saatnya rakyat bangkit melawan, sebab rakyat bukan binatang buruan. Itulah kutiapan teriakan anak negeri, sambil sesekali angkat tangan dan mengatakan “Papua Merdeka” adalah harga mati.

Kurang lebih pukul 13.00 dengan masa yang semakin bertambah melanjutkan aksi long Mars melalui jalan raya Merdeka. Hingga titik aksi terakhir didepan Kantor DPRD Nabire yang oleh DPRD sedang melangsungkan RAPERDA.

Pagar tertutup dan di jaga ketat dengan barisan Aparat Keamanan. Aksi dorong mendong dengan aparat pun terjadi ketika tim loby yang hendak masuk ditolan keluar oleh DPRD seraya mengatakan “itu bukan urusan DPRD Nabire. Masa sempat emosi dan sedikit memanas dengan pihak Aparat Keamanan ketika ribuan rakyat diluar tak diijinkan masuk.

Hingga melewati 40 menit lebih, barulah masa mengambil halaman kantor. Orator-orator pun dilancarkan. Kelarga korban terus melontarkan kepedihan hati.

Orator toko Gereja : “Kami menyesali dan ikut menuntut atas penembakan terhadap korban tak bersalah Yonike Kotouki yang hendak menuju ke Ibadah KPPD di Waghete”
Orator toko adat “ selama 44 tahun integrasi Papua kedalam NKRI, rakyat terus menuai korban bebiadapan Militer NKRI, maka selama NKRI masih bercokol di Negeri Papua, jangan harap orang Papau akan hidup”
Orator AMP “ bahwa rakyat bukan binatang buruan, Militerisme terus memberikan citra kebobrokan dan secara tidak langsung citra Indonesia sedang menuju pada titik kehancuran.

Orator Pemuda Satgas! “bahwa, kami juga laki-laki yang terlatik sejak kecil untuk berperang tapi kami tau arti sebuah Jiwa” Orator Biro HAM Gereja “aparat NKRI mustinya dibinahi lebih dulu dengan Pendidikan HAM sebelum menjadi aparat dan kasus tragedi waghete berdarah adalah jelas-jelas pelanggaran HAM Luar biasa” Masa mulai membubarkan diri ketika pernyataan sikap dibacakan dan di sambut oleh Ketua DPRD untuk ditindak lanjuti walau masyarakat tak berharap banyak akan dilanjuti.

Seusai aksi masyarakat masih tak merasa puas dan kurang begitu yakin dengan tim investigasi dan pengadilan Militer yang akan melakukan penyelidikan. Sebab ini adalah kejahatan Militer sehingga tidak mungkin Militer mengadili Militer yang juga adalah pelaku dalam kasus ini (^Q).

“Front Anti Militerisme-Nabire -Kasus Wagthe Berdarah.

JendLap : Victor F. Yeimo
KorLap : Set Iwepai dan Delius Tabuni


PERNYATAAN SIKAP
“ Bahwa bangsa Papua Barat bukan binatang buruan Militer NKRI ”

Sejarah kekerasan militer NKRI di tanah Papua tak kunjung usai dan terus dicetak oleh pemain NKRI adalan ini. Sejak awal intergrasi Papua operasi penumpasan dan pembersihan telah menjadi goresan pedih rakyat Papua Barat. kehadiran militer organic maupun non organik menguasai seluk-beluk kehidupan orang Papua dengan dalih mengamankan daerah papua yang mereka anggap sebagai daerah yang rawan. Namun, tindakan demi tindakan tak pernah menyelesaikan masalah. Sebaliknya, konflik demi konflik terus diciptakan sehingga rakyat menjadi korban. Ekspansi militer terus dilakukan kedalam truktur social budaya masyarakat Papua. Bahkan Di setiap sendi kehidupan militer melalui agen-agen “tukang ojek, pendagang dan lainya terus melancarkan pemusnahan bangsa Papua Barat.. Rakyat terus mengalami berbagai bentuk kekerasan.

Kasus Kebiadapan Militer di waghete adalah sala satunya. 19 Januari 2006, Moses Douw, Pelajar SMP Negeri waghete yang tak tau persoalan, harus menerima rentetan senjata jarak dekat menembusi punggung keluar perut dan menghembuskan nafas terakhir. Petrus Pekey pun tak terhindar dari tembakan membabi buta yang menusuk tulang rusuk dan menembus perut. Sedangkan Yonike Kotouki yang hendak menuju Ibadah pun menjadi korban penembakan.oleh Aparat Militer Satu nyawa yang tak tau menahu harus menerima tembakan membabi buta. Inilah nasip yang harus dialaminya. Kebrutalan Tim Sus di Waghete hanya mengisakan duka lara. Dengan senjata engkau sombong seraya tertawa karena berhasil memburu. Persis kanibal bertopeng TNI/POLRI.

Maksud hati baik, namun peluruh adalah balasannya. Lagi-lagi kehadiran Militer terus membawa malapetaka, duka dan tangis bagi rakyat Papua. Militer dengan senjata terus memburu korban. Persis memburu binatang. Bahwa rakyat Papua bukan binatang. Sekali lagi, rakyat Papua barat bukan binatang buruan.

Adalah murni pelanggaran HAM berat. Sebab militer yang bercokol dibalik sandi “pelindung” berubah menjadi “sang” pemangsa yang mengganaskan. Tindakan membelah diri dengan manipulasi fakta kebobrokan sudah pasti dilakukan, sebab kebrutalan militerisme di NKRI ini telah mencuak hingga di kanca pelanggaraan HAM terbesar dunia.

Kasus penembakan 2 warga Negara Amerika di mil 62 oleh aparat yang kemudian menjadikan warga sebagai kambing hitam dan incaran terhadap aktivis Pro Kemerdekaan Papua yang telah menyebabkan 43 rakyat Papua harus melarikan diri seraya mencari suaka politik di Autralia hingga potret buram pembasmian warga Negara Timur Leste adalah rentetan keburukan wajah Militer Indonesia sekaligus menjadi proses menuju titik-titik kehancuran NKRI di mata dunia.

Bagi rakyat Papua Barat, tak ada kata baik yang terukir di sanubari selama resim berwatak militerisme ini berada di bumi Papua. Yang ada adalah militer dengan kepentingan bisnis, yang ada adalah militer menguasai lahan pendulangan emas, tanpa menyadari ada penghuninya.

Rakyat harus bangkit melawan ketidakadilan, pembunuhan, pembantaian dan bentuk pelanggaran lainnya. bahwa anak-anak kami, orang tua kami, kakak-kakak kami telah menjadi korban kebrutalan militer Indonesia, bahwa kami tidak akan pernah hidup damai selama kami di jajah. Kami manusia yang menghargai dan menjunjung arti jiwa sebagai ciptaan Tuhan tapi kami juga manusia yang punya batas kesabaran, ketika kami semakin ditindas, Kami bangkit melawan. Demi sebuah kata “kami ingin bebas dari penindasan”
Maka, bersama keluarga korban dan selaku bangsa yang terus ditindas di muka bumi menuntut dan menyeruhkan bahwa :

Korban penembakan Waghete adalah pelanggaran HAM terberat dengan bukti dan pelaku yang falid. Maka, Segera memecat dan menghukum jajaran team Pan Sus Satgas Yonif 753 yang melakukan rentetan penembakan dengan hukuman yang seberat-beratnya sesuai pengadilan HAM tanpa syarat.

Tolak segala bentuk persuasif dan manipulasi data oleh aparat NKRI sebagai pelaku korban Mil 62 Timika dan Wagethe berdarah

Tolak segala bentuk militerisme dan segera Tarik Militer organik-maupun non organik yang ada di Waghete dan dari tanah Papua.

Mendesak Pemerintah RI melakukan dialog terbuka guna mencari solusi penyelesaian status integrasi Papua Barat.

Mestinya ko sadar sebelum tiba hari-hari malangmu. Sebab Ia cukup sabar melihat perilakumu diatas tanah Papua Barat.



Nabire, 23 Januari 2006

“Front Anti Militerisme Nabire-Papua Barat”
(Toko Gereja, Toko Adat, Satgas Papua, AMP-Nbr, AMPTI, Panel, Front PEPERA PB, Pemuda/Warga Sipil Nabire-Papua Barat)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece