Update Terakhir: Jan 24th, 2006 - 07:00:57
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Kekejaman Negara
Operasi Militer
Ancaman/ Terror
Militerisme
Kerjasama Militer
Terorisme Dunia
Mati Misterius
Kejahatan Milisi
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Kekejaman Negara

Kapendam: TNI Tak Mungkin Ditarik
By Cepos
Jan 24, 2006, 06:57

 
SEMENTARA itu ditempat terpisah, Kapendam XVII/Trikora Mayor Caj G.T Situmorang ketika menanggapi sejumlah aspirasi yang disampaikan para pendemo mengungkapkan, pihaknya sangat menghargai aspirasi tersebut. Sebab sebagai negara demokrasi, maka siapa saja boleh menyampaikan aspirasi dan hal itu akan selalu mendapatkan tempat.

Dijelaskan Situmorang, terkait dengan materi aspirasi itu, maka perlu disikapi secara proporsional. Sehingga dalam melihat suatu peristiwa, masyarakat seyogyanya harus mampu berpikir secara rasional dan tahu menempatkan kejadian maupun segala ihwal tentang kasus itu secara proporsional.

" Sejak peristiwa di Wahgete itu terjadi, pihak Kodam telah mengambil langkah-langkah awal dan signifikan yakni akan segera mengusut kasus tersebut. Bahkan pimpinan kodam telah mengeluarkan sikap yakni akan segera dan secepatnya memproses hukum anggotanya bila terbukti melakukan penembakan terhadap warga," ujar Kapendam saat dihubungi via telepon, kemarin.

Menurut Situmorang, selain akan segera mengusut kasus tersebut, pihak Kodam juga telah melakukan pendekatan-pendekatan baik kepada masyarakat maupun dengan pihak keluarga. Apa yang dilakukan Kodam ini sebagai bentuk tanggung jawab. Yang pasti Kodam tidak tidak tinggal diam atas peristiwa itu, bahkan Kodam telah menurunkan tim ke lokasi kejadian untuk kepentingan investigasi.

" Pada prinsipnya Kodam bisa memahami aspirasi yang disampaikan masyarakat, namun dalam menyampaikan aspirasi itu tidak dengan cara emosional," cetusnya.

Disinggung tuntutan pendemo agar pasukan TNI ditarik dari Papua, Situmorang menjelaskan, keberadaan TNI di Papua ini ibarat sebuah rumah ada pagarnya sebagai pelindung. Demikian halnya berdirinya Negara, maka ada tentara yang menjaganya. Jadi Tentara itu lahir dari rakyat, untuk rakyat dibesarkan oleh rakyat yang bertugas untuk melindungi seluruh tumpah darah dari ancaman musuh negara. Sehingga tidak mungkin kalau TNI ditarik dari Papua.

Juga ditegaskan Kapendam, Papua adalah bagian dari wilayah NKRI yang bertugas dan bertanggungjawab menjaga keamanan, asset negara, kekayaan daerah, tanah dan warganya. Dan hal itu sudah sangat jelas terkamtub dalam UUD. Karena itu, warga negara yang baik, pasti menginginkan agar semua hal itu dijaga dengan baik.

" Saya pikir bukan tugas Kodam saja untuk menjaga keamanan di Papua, tapi menjadi seluruh komponen bangsa. Apalagi ancaman separatis di daerah ini tidak dipungkiri masih ada dan harus tetap diwaspadai, meski skalanya tidak terlalu besar," ungkapnya.

Terkait dengan kasus penembakan di Wahgete lanjut Situmorang, kalaupun dalam proses investigasi atau dalam penyelidikan nanti ada oknum anggota TNI terbukti terlibat, itu bukan kehendak institusi TNI, termasuk perintah satuan maupun pimpinan. Untuk itu, pimpinan Kodam sudah sangat tegas, bila ada oknum anggota TNI terlibat, proses hukum akan segera dilakukan.

" Dalam kasus ini masyarakat harus bisa berpikir jernih dan rasional, sehingga dalam menyikapi setiap peristiwa tidak semudah itu mengaitkan dengan institusi TNI. Sebab, kalaupun ada anggota TNI terbukti bersalah, ini hanyalah oknum semata dan bukan TNI," jelasnya. (mud)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece