|
||||||
Update
Terakhir: Jan 24th, 2006 - 07:24:32
|
|
Demo/ Protes
Mereka menggelar aksi unjuk rasa untuk menuntut pembebasan tanpa syarat bagi delapan warga sipil yang ditahan pada tragedi di Timika, Papua, yang dianggap itu hanya sebagai rekayasa pemerintah Indonesia. Elyas, koordinator lapangan aksi tersebut, mengatakan tuntutan pembebasan itu dilakukan karena mereka menganggap warga sipil yang ditangkap itu tidak tahu masalah yang sebenarnya. "Kami melakukan aksi ini karena delapan warga sipil yang ditangkap awal Januari ini tidak mengetahui kronologis masalah sehingga mereka harus ditangkap. Selain itu dari delapan tahanan ada dua di antaranya masih di bawah umur, di mana kedua anak tersebut masih berumur 14 tahun dan dalam hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia disebutkan bahwa hukum hanyalah berlaku terhadap warga di atas usia 16 tahun," kata Elyas. Ia juga mempertanyakan mengapa peangkapan itu baru dilakukan sekarang padahal masalah itu terjadi pada 2001 lalu. "Kejadian ini bermula ketika terjadi penembakan terhadap dua warga Amerika Serikat yang kemudian memunculkan praktik operasi pembantaian, pemerkosaan dan pembunuhan oleh aparat Indonesia dengan dukungan logitistik dari PT Freeport, yang juga terbukti melancarkan pembantaian secara sistematis," lanjut Elyas. Dalam aksi tersebut, para pengunjuk rasa juga membacakan pernyatakan sikap dan meminta kepada pemerintah agar menarik pasukan TNI dari tanah Papua sekarang juga, menghentikan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua, mengutuk keras penembakan warga sipil di Wageta Kabupaten Pania Papua, mengutuk rekayasa politik SBY-JK dalam kasus Timika, menyerukan seluruh rakyat Papua untuk menolak semua pelanggaran HAM di Papua, dan segera menutup PT Freeport Indonesia di Indonesia. Selain melakukan aksi unjuk rasa, mereka juga berteriak-teriak sambil bernyayi dan meneriakkan kata "Hidup Papua". © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|