|
||||||
Update
Terakhir: Jan 28th, 2006 - 13:43:13
|
|
Ancaman/ Terror
SETELAH melakukan investigasi selama kurang lebih satu minggu di Wagete Kabupaten Paniai terkait kasus penembakan warga sipil, Komandan Korem 173/PVB Kolonel Inf.H.Erfi Triassunu yang ditunjuk sebagai Ketua Tim Investigasi TNI, Kamis kemarin telah kembali ke Biak. Berikut penuturannya? Saat ditemui di ruang kerjanya Jumat kemarin, Kolonel Inf.H.Erfi Triassunu yang menggunakan stelan pakaian olahraga mengaku sedang menyusun laporan yang akan disampaikan ke Pangdam XVII/Trikora. Meskipun disibukkan dengan penysunan laporan investigasi yang dilakukan di Wegate, Kabupaten Paniai itu, Danrem yang baru saja menunaikan ibadah haji tersebut, dengan ramah menerima dan melayani pertanyaan Cenderawasih Pos seputar hasil investigasinya. Berikut petikan wawancara Cenderawasih Pos dengan Danrem Kolonel Inf.H.Erfi Triassunu di ruang kerjanya *Bisa diceritakan kronologis penembakan di Wagete? Berdasarkan hasil investigasi yang kami lakukan selama kurang lebih satu minggu di Wagete, kasus penembakan tersebut bermula saat adanya keributan antara pemuda Wagete dengan anggota Polri yang bertugas di Wagete. Keributan yang terjadi pada Jumat sekitar pukul 08.00 WIT, disebabkan adanya kesalapahaman mengenai rencana pemungutan retribusi untuk kendaraan yang akan lewat. Rupanya sudah disepakati oleh kepala desa di sana dengan pemuda untuk melakukan perbaikan jalan agar dapat dilalui kendaraan. Dengan persetujuan kepala desa pemuda berencana meminta bantuan sumbangan bagi setiap kendaraan yang lewat dan rencana tersebut dibawa ke Kapolsek dan Danramil untuk diketahui. *Apa yang menyebabkan terjadinya pertengkaran? Pertengkaran muncul karena besarnya pungutan yang diajukan yaitu truk sebesar Rp.100.000, Innova sebesar Rp 75.000, kijang Rp 50.000 dan ojek Rp 25.000, oleh dua orang anggota Polsek yang bertugas saat itu cukup besar. Maka terjadilah pertengkaran dan kedua pemuda tersebut kemudian melakukan pemukulan terhadap anggota Polsek yang ada pada saat itu dan salah satu pelaku pemukulan adalah korban luka tembak yaitu Petrus Pikey (22 tahun) yang saat ini masih dirawat di Nabire. *Setelah pemukulan itu apa yang terjadi selanjutnya? Saat perkelahian tersebut yang terjadi salah seorang anggota Timsus Yonif 753/AVT yang melihat kejadian tersebut karena posnya berhadapan dengan Polsek langsung memberikan laporan kepada komandannya Letda Inf Situmeang yang saat itu sedang mandi. Perkelahian itu sendiri sudah merembet sampai ke arah pasar yang kebutulan merupakan hari pasar. Mendapat laporan, Dantimsus kemudian mendekati lokasi dan menanyakan Apa yang terjadi. Tetapi belum sempat mendapat jawaban Dantimsus kemudian dipukul oleh oknum pemuda yang ada saat itu. Karena dipukul, dia berusaha mundur ke ara perumahan guru. Saat terdesak dan terus mendapat pukulan, dia langsung mengeluarkan tembakan peringatan satu kali. Setelah kita lakukan rekonstruksi arah tembakan ternyata tidak ke atas tetapi ke arah pinggir jalan karena pada saat itu Dantimsus terjatuh setelah mendapatkan pukulan. *Apa yang terjadi setelah terdengar suara letusan? Mendengar suara tembakan, para pemuda yang melakukan pengejaran dan pemukulan mundur. Setelah mundur ada perempuan yang berteriak mengatakan ada orang kena tembak. Mendengar teriakan tersebut, Dantimsus mengosongkan senjata lalu mendekati perempuan yang diketahui bernama Yulike Katoki (18 tahun) yang berendam di air. Dantimsus lalu memerintahkan agar korban dibawa ke Puskesmas. Meskipun demikian, massa terus melakukan penyerangan. Melihat situasi yang kurang kondusif Dantimsus bersama dua anggotanya yang pulang dari pasar mengambil keputusan untuk mundur ke pos. Saat mundur, mereka masih terus dikejar oleh massa yang jumlahnya cukup besar. Saat itu secara bersamaan ada informasi ada satu lagi yang terkena tembakan seorang pria yang bernama Petrus Pikey. Massa yang marah kemudian semakin beringas dan menyerang Pos Timsus di Wagete. Selain diserang dengan batu, juga ditemukan sejumlah anak panah dan 2 botol bom molotof yang tidak sempat meledak. *Apa langkah yang diambil Dantmsus saat itu? Saat dikepung dan diserang oleh massa, Dantimsus memberikan laporan via radio ke Komandan Kompi dan Wadan Batalyon. Saat itu saya baru mendarat di Bandar Udara Frans Kaisiepo dari Jakarta, kemudian mendapat laporan dari Wadanyon. Dengan laporan itu, saya perintahkan untuk tidak melakukan penyerangan. Tetapi kalau masyarakat brutal dan sudah masuk, saya perintahkan segera beri tembakan peringatan ke atas. Itu perintah dari saya. Dengan adanya tembakan peringatan massa mundur, namun tetap berada di jalan dan melakukan pelemparan. Setelah mundur, massa kemudian menuju Polsek yang tidak jauh dari Pos Timsus. Di sana massa menumpahkan kemarahannya dan menyerang kantor Polsek. Beberapa saat kemudian massa kembali serang Pos Timsus dan diberi tembakan peringatan lagi. *Bisa diceritakan kronologi penembakan terhadap korban? Korban yang ketiga yang meninggal, kami belum ketahui apakah tertembak saat serangan pertama atau kedua yang dilakukan oleh massa. Karena setelah serangan kedua, ada yang melihat korban tergelatak di depan Polsek yang telah mengeluarkan darah dari hidung. Saksi mata yang melihat korban itu yaitu Kapolsek sendiri dengan kepala distrik. Setelah diketahui korban akhirnya dibawa ke Puskesmas, namun peralatan yang tidak lengkap akhirnya dibawa ke Enarotali. Korban diperkirakan meninggal di rumah sakit. Setelah evakuasi tidak adalagi penyerangan massa hanya kumpul-kumpul. *Dari hasil investigasi yang dilakukan siapa pelaku penembakan? Sementara ini untuk dua orang korban luka yaitu Petrus Pikey dan Yulike Katoki di depan masyarakat saya akui pelakunya adalah anggota saya yaitu Dantimsus Letda Inf.Situmeang. Karena tembakan tidak ada yang lain hanya itu saja. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan dokter korban Petrus Pikey memang terkena tembakan yang masuk dari belakang yaitu pinggang sebelah kanan kemudian menembus ke depan. Sedangkan korban Yulike Katoki menurut hasil visum terdapat beberapa luka di bagian paha. Tetapi setelah diperiksa dokter, lukanya bukan karena tembakan. Diduga luka tersebut karena benda tajam. *Bagaimana dengan korban Moses Douw yang meninggal dunia? Untuk korban Moses Douw dari hasil investigasi yang kami lakukan jelas kena peluru aparat keamanan. Namun belum bisa dipastikan apakah dari oknum TNI atau oknum anggota Polri. Untuk memastikan perlu pemeriksaan dari tim ahli balestik. Sementara yang saya jawab kemarin kepada masyarakat berdasarkan pengalaman, kejadian terjadi di depan Polsek. Saat itu seluruh anggota Timsus yang menggunakan senjata M 16 kaliber SS 1.5,56 mm berada di dalam pos. Berdasarkan pengalaman dengan jarak antara pos dengan lokasi korban dengan senjata M 16 dengan jarak tembak 75 meter korban bisa jebol. Sementara dari hasil pemeriksaan korban mengalami luka di punggung yang jebol di belakang dengan perbandingan luka 1 cm di depan dan belakangnya sekitar 2 cm. Saat itu ada juga beberapa saksi yang mengatakan mendengar suara tembakan dari Polsek. Di depan masyarakat di Wagete secara gentlemen saya akui korban luka tembak berasal dari anggota saya dan saya mohon maaf. Tetapi kalau yang gugur saya belum akui sampai sekarang. Sebab belum ada investigasi yang lengkap. Namun yang jelas peluru itu dari aparat keamanan. *Bagaiamana penanganan terhadap anggota Timsus saat ini? Dantimsus Letda Inf Situmeang sudah kami amankan di Enarotali dan sudah diperiksa. Termasuk personelnya yang kemungkinan terlibat kita periksa dan kami sudah meyiapkan 8 orang personel dari Pomdam untuk melakukan pemeriksaan. *Apa tanggapan Anda mengenai pemberitaan media luar negeri yang mengaitkan kasus ini dengan 43 warga Papua yang mencari suaka di Australia ? Kasus yang terjadi di Wagete saya jamin 100 persen tidak ada hubungannya dengan warga yang mencari suaka. Sebab korban yang meninggal terkena peluru nyasar. Jadi saya tegaskan lagi kasus ini tidak ada kaitannya dengan 43 warga yang mencari suaka di Australia itu hanya dikait-kaitkan saja.(yonathan) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|