|
||||||
Update
Terakhir: Feb 2nd, 2006 - 12:19:38
|
|
Freeport MacMoRan
Hal itu terungkap dalam rekonstruksi yang dilakukan Mabes Polri Kamis hingga Ahad lalu. Saat itu rekonstruksi hanya menghadirkan tiga tersangka. Yakni, Antonius Wamang (32), Yulianus Deikme (20) dan Agustinus Anggaibak (14). Ketiganya diterbangkan secara diam-diam ke lokasi kejadian demi keselamatan mereka. Petugas keamanan memberikan pengawalan ketat. Sedangkan lima tersangka yang lain -Pendeta Ishak Onawame (42), Hardi Tsugumol( 29), Jairus Kibak (60), Esau Onawame (33) dan Yohanes Kasamol alias Joni (15) tetap ditahan di Bareskrim Mabes Polri. Rekonstruksi itu luput dari perhatian pers. JPNN (Jawa Pos News Network/Grup Cenderawasih Pos) sebenarnya sempat memergoki keberangkatan mereka dari Bareskrim Kamis sore (26/1) pekan lalu. Saat itu wajah tiga tersangka ditutupi kain dan mengenakan wig. Mereka dibawa keluar lewat pintu Puslabfor dan langsung naik mobil Toyota Kijang yang menunggu dengan pengawalan petugas bersenjata laras panjang. Sementara tim Mabes Polri, terdapat Wakabareskrim Irjen Pol Gories Mere yang membawa tim Densus 88/Antiteror serta sejumlah perwira menengah lain, seperti Kombespol Petrus Golose. Dua pengacara tersangka dari PBHI ikut serta, yakni Jhonson Panjaitan dan Reinhard Parapat. "Antonius Wamang memang mengaku ikut menembak," kata Jhonson. Wamang mengaku menembak bersama dua rekannya. Sayangnya, Jhonson lupa nama kedua rekan Wamang itu. Yang jelas, seorang dari mereka tewas dalam baku tembak dengan TNI pada 1 September 2002 dan seorang lainnya tewas digigit ular dua bulan lalu di desanya, Timika. "Jadi, polisi hanya punya petunjuk kesaksian dari Antonius Wamang," tutur Jhonson. Peran Yulianus Deikme dan Agustinus Anggaibak saat itu hanya menemani Antonius dan dua orang lainnya ke lokasi penembakan yang berada di ketinggian sekitar 4.500 meter di atas permukaan laut. Lokasi ini berada di sebelah kanan ruas jalan Timika-Tembagapura. "Anehnya, meski mengaku menembak dari kanan, ditemukan bukti adanya tembakan dari arah kiri depan. Tembakan itulah yang mematikan," terang Jhonson. Artinya, kata dia, sangat mungkin ada kelompok lain. Wamang sempat memergoki kelompok tersebut yang diceritakannya terdiri atas tiga orang dengan mengenakan sebo (penutup kepala) dan berada di bawah posisi mereka. Meski sempat dipergoki, kelompok itu tidak menembak Wamang. "Kita masih mencari siapa mereka. Apakah aparat atau sempalan OPM," lanjutnya. Menurut Jhonson, polisi juga mulai meyakini pengakuan itu. Selain itu, terungkap bahwa Wamang menembak dengan senjata SS1 dan M16 dan juga senjata mosseur. Menurut pengakuannya, magazin dan pelurunya didapatkan di Jakarta. Dia membeli dari seseorang yang mengaku sebagai Sersan Jefry. Pembelian dilakukan di Jl Jaksa, Jakarta Pusat, pada Juni 2001. Magazin dan peluru itu dibeli seharga Rp 6 juta hasil dari penjualan kayu gaharu. "Ada saksi yang tahu soal ini. Namanya Agustinus juga, tapi bukan Agustinus Anggaibak," tambah Jhonson. Asal-usul senjata masih didalami. Juga terungkap bahwa peran Pendeta Ishak Onawame, Hardi Tsugumol, Jairus Kibak, Esau Onawame, dan Yohanes Kasamol alias Joni hanya sebagai penyiap logistik bagi Wamang saat mereka di titik penembakan. Jadi, mereka menyiapkan beras hingga tenda. Oleh polisi, delapan tersangka itu diklasifikasi sebagai penembak langsung (Antonius Wamang), menemani ke lokasi (Yulianus Deikme dan Agustinus), dan membantu logistik (Ishak). Sisanya sekadar mengetahui. Karena itu, pengacara minta polisi jeli menghadapi kasus ini. Yakni, mencari kemungkinan kelompok lain yang menunggangi Wamang dan mempelajari kemungkinan siapa yang menyuplai senjata, magazin, dan peluru. Hal ini akan ditanyakan Jhonson ke Bareskrim Mabes Polri pagi ini. Ditemui di DPR RI Senin lalu, Kombespol Petrus R. Golose, mantan Wakaden 88/Antiteror Polda Metro Jaya yang kini dimutasi ke Bareskrim Mabes Polri, mengakui rekonstruksi tersebut. "Kami berangkat dari Jakarta Kamis, lalu rekonstruksi dilakukan Jumat, dan Sabtu lalu kembali ke Jakarta," katanya. Menurut dia, dari rekonstruksi tersebut, terungkap jelas bahwa Antonius Wamang melakukan penembakan. "Sudah cukup jelas," kata Petrus yang pada 13 Januari 2006 lalu berhasil membawa pulang buron BLBI David Nusa Wijaya dari San Francisco, AS, ke Indonesia. Namun, Petrus tidak menjawab lebih banyak lagi perihal kelompok lain dan senjata Wamang. (naz) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|