Update Terakhir: Feb 6th, 2006 - 21:12:30
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Otonomi Khusus
Kebijakan Penjajah
Hubungan LN
Hukum & Demokrasi
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Hukum & Demokrasi

FAM DATANGI KODIM NABIRE
By AMP Nabire Report
Feb 6, 2006, 20:48

 
NABIRE – Hari Jumat (3/2) kemarin, massa yang tergabung dalam Front Anti Militerisme (FAM) Nabire, kembali turun memadati sepanjang ruas jalan di kota Nabire. Aksi diikuti dengan meneriakan kebrutalan aparat NKRI dan skenario yang dimainkannya terkait kasus Waghete berdarah, serta kekesalan atas pengusiran pasca kedua korban (Yunike Kotouki dan Petrus Pekey) di RSUD Nabire oleh POM, Kasdim berserta dokter yang merawat kedua pasien.

Aksi diawali di Taman Gizi, kemudian melakukan long-march menuju Kodim. Dalam aksi itu, massa membawa beberapa baliho, spanduk dan pamflet dengan tulisan yang beragam.
Dalam orasinya pendemo mengungkapkan rasa kekesalan adanya skenario yang dimainkan ketika evakuasi pertama hingga pengusiran (31/1) lalu di RSUD Nabire. Ada sejumlah kejanggalan yang diungkapkan massa. Selama 11 hari perawatan kedua korban itu di RSUD Nabire, dimana nampak upaya militer mengelabui kejahatannya.

Kejanggalan pertama, menurut FAM Nabire, ketika evakuasi awal ke RSUD Nabire, peluru yang berada didalam paha Yunike di keluarkan oleh dokter Agung dengan pengamanan ketat aparat hingga keluarga korban pun tak diijinkan masuk melihatnya. Herannya, hasil operasi dr. Agung itu dikatakan tidak ada peluruh tapi ditembak dengan panah.

Kedua, tanggal 27 Januari POM menawarkan korban untuk menandatangani surat BAP yang tidak begitu jelas hingga tanggal 31 Januari pasien menolak menandatanganinya. Ketiga, pengusiran korban dari RSUD Nabire. Pengusiran dilakukan oleh dr. Agung yang pada tanggal 30 Januari mendesak kedua korban untuk diberangkatkan ke Waghete dengan jaminan tanggung jawab pengobatan oleh dr. Agung. Atas kerja sama yang baik antara dr Agung bersama TNI, POM, Kasdim menjemput kedua pasien yang terbaring lemah untuk diberangkatkan.

Saat itu, keluarga korban menuntut untuk dibawah ke rumah (di Nabire, Red) untuk rawat jalan. Tapi, hak keluarga korban pun tak terelakan. dr. Agung bersama Kasdim malah bersikeras. Oleh pihak LSM dan Gereja pun sepakat agar korban tetap rawat jalan dari Nabire berhubung kondisi kesehatan yang tak menentu dengan kondisi Waghete.

Upaya-upaya ini pun diancam dengan mengatakan “jika kedua pasien tidak dibawah, maka dokter melepas tanggung jawab perawatan. Tapi, jika berobat di Nabire berarti pasien dijaga ketat.” Hal ini juga menjadi pertanyaan besar.

Model persuasive yang dilakukan anggota POM Nabire dengan berdasar kata-kata Alkitabiah bahwa “Hidup kita dikuasai Tuhan dan Hak Tuhan, maka kita hanya berpasrah padanya karena manusia sebagai patung yang harus berpasrah padanya.”
Tawaran ini berlanjut hingga kedua koban berhasil diterbangkan secara paksa setelah dr. Agung menanda tangani surat pernyataan tanggung jawab kesehatan kedua korban.

Massa yang diperkirakan 1000 lebih dan dikawali ketat oleh Polres yang diturunkan ini pun terus bergerak menguasai seluruh ruas jalan hingga lalu lintas menjadi macet total.
Orasi-orasi pun dilancarkan didepan KODIM 753 di Nabire dengan sesekali mengangkat yel-yel “TNI teroris” , “Papua Harga Mati.”

Aksi berakhir di kantor DPRD Nabire. Massa disambut Ketua DPRD dan menuntut ketiga oknum yang terkait dalam pengusiran itu dipanggil untuk dimintai klarifikasi.
Setelah beberapa saat kemudian, dokter terkait itu akhirnya didatangkan dan rakyat menyampaikan umpatan bernada kesal atas tindakan-tindakan tidak manusiawi yang dilakukan dr. Agung. Komunikasi antara kedua pihak pun berlanjut cukup lama hingga massa menyimpulkan posisi dokter dalam kasus penembakan.

Para pendemo menuntut agar korban dikembalikan dengan alasan perawatan dan keselamatan korban dari pihak yang berkepentingan menipis kejahatannya. Massa kemudian membubarkan diri seusai membacakan pernyataan sikap bersama yang berisi 9 poin.

Pertama: korban penembakan Waghete adalah pelanggaran HAM terberat dengan bukti dan pelaku yang falid. Maka, segera Komisi HAM PBB turun dan investigasi serta menyatakan kasus ini sebagai kejahatan negara.

Kedua, tolak segala bentuk persuasif dan manipulasi data oleh aparat NKRI sebagai pelaku korban Waghete berdarah.

Ketiga, skenario militer dan dokter dengan mengusir paksa korban penembakan adalah pelanggaran dengan upaya menipis kejahatan militer, maka tuntut klarifikasi pihak dokter dan aparat militer yang secara paksa mengusir kedua pasien korban dari RSUD Nabire ke Waghete.

Keempat, Badan Dunia WHO segera ke Nabire untuk menyelidiki peristiwa pengusiran oleh dokter atas kepentingan aparat NKRI dari RSUD Nabire.

Kelima, kembalikan korban pasien demi keselamatan jiwa dan perlindungan nyawa.

Keenam, tolak segala bentuk militerisme dan segera de-militerisasi dari daerah rawan konflik: Nabire, Paniai, Punjak Jaya dan dari seluruh Papua. Ketujuh, tolak produk konflik dan pemusnahan yang terbungkus dalam paket PILKADA.

Kedelapan: mendesak pemerintah RI melakukan dialog terbuka guna mencari solusi penyelesaian status integrasi Papua Barat. Kesembilan: Reverendum adalah ukuran demokrasi rakyat Papua Barat.

“Kami menuntut jika kesembilan poin ini tidak ditanggapi pihak terkait yang kami tujukan, maka kami akan terus menyuarakan kembali dengan aksi-aksi berikutnya. Dan kami akan melakukan mogok sipil di kota Nabire ini,” tegas koordiantor aksi.

Tembusan dari pernyataan tersebut disampaikan juga kepada Sekjen PBB di New York, Komisi HAM PBB di New York, Badan WHO di New York, Presiden RI di Jakarta, Menkopolkam di Jakarta, Menhankam di Jakarta, Perwakilan PBB di Jakarta, Pjs. Gubernur Papua di Jayapura, DPRP dan MRP di Jayapura, Kapolda Papua di Jayapura, dan Pangdam XVII/Trikora di Jayapura. (^Q)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece