Update Terakhir: Feb 6th, 2006 - 20:57:50
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Kekejaman Negara
Operasi Militer
Ancaman/ Terror
Militerisme
Kerjasama Militer
Terorisme Dunia
Mati Misterius
Kejahatan Milisi
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Ancaman/ Terror

Warga Papua Mengaku Disiksa
By SP Daily
Feb 6, 2006, 20:56

 

SYDNEY - Sebanyak 43 warga Papua yang mencari suaka ke Australia mulai "bernyanyi." Mereka mengaku pernah dipenjara dan disiksa selama tinggal di Indonesia.

Pengakuan itu disampaikan kepada seorang anggota Parlemen Australia, Jumat (3/2), setelah Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Australia Teuku Mohammad Hamzah Thayeb mengancam negara Kanguru itu jika ke-43 warga Papua diberi status suaka.

Sementara itu, Dinas Bea-Cukai Australia mengatakan, enam nelayan Indonesia yang berhasil ditolong di lepas pantai Australia Utara, Jumat kemarin, akan diterbangkan pulang karena kapal mereka sudah tenggelam.

Keenam nelayan Indonesia dan kapal penangkap ikan hiu ditemukan di tengah amukan gelombang di lepas pantai Pulau Elcho kemarin. Menurut kapal patroli bea-cukai Australia, nelayan Indonesia itu ditemukan dalam keadaan bahaya dan salah satu mesin kapal tersebut macet.

Radio Australia, ABC, Jumat, melaporkan, sampai tadi malam, keenam nelayan tersebut masih berada di kapal penyelamat Australia, Roebuck Bay, sambil menunggu cuaca membaik untuk dibawa ke darat dan kemudian diterbangkan pulang ke Indonesia.

Mereka tidak akan dikenai tuduhan menangkap ikan secara gelap, dan kalau pun ada persoalan, maka menurut pihak berwenang itu adalah persoalan imigrasi.

Barnaby Joyce, anggota Parlemen Australia dari partai pemerintah yang berkuasa saat ini, mengatakan, ke-43 warga Papua mengaku ingin mendapat status suaka karena selama di Indonesia mereka sering disiksa dan dipenjara.

"Ada beberapa dokumen dimana sejumlah anggota keluarga mereka ditembak," kata Joyce kepada wartawan setelah bertemu para pengungsi itu di Pulau Christmas.

"Ada banyak pengalaman bahwa mereka pernah dipenjara dan disiksa, sehingga saya pikir mereka akan mendapat risiko besar ketika kembali ke Indonesia." tambah dia.

Dubes Thayeb mengatakan, pemberian suaka kepada 43 warga Papua akan berdampak pada ketegangan hubungan kedua negara. "Saya yakin akan ada dampaknya. Karena itulah mengapa kami meminta mengatasi masalah ini bersama-sama dan mencari jalan keluarnya," kata Thayeb.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia terus mempertanyakan sikap Pemerintah Australia lantaran mempertimbangkan pemberian suaka terhadap 43 WNI asal Papua. "Kami mempertanyakan sikap Australia karena akan memberikan suaka terhadap warga kita," kata Juru Bicara Deplu Yuri Thamrin di Jakarta, Jumat (3/2).

Yuri juga mempertanyakan sikap Australia karena sampai saat ini Indonesia tidak bisa menggunakan hak konsulernya untuk mempertanyakan motivasi terhadap 43 WNI.

Sumber di Deplu yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan, kasus yang diduga mengakibatkan 43 warga Papua ke Australia sebenarnya bukan semata karena persoalan pencarian suaka. Mereka hanya mencari perhatian publik dunia.

"Insiden penembakan yang terjadi di Papua sebenarnya hanyalah tindak pidana murni, ternyata dipolitisir oleh orang-orang atau organisasi tertentu yang menginginkan adanya polemik di Papua," katanya. (AP/W-12/L-8)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece