Update Terakhir: Feb 11th, 2006 - 02:27:26
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Freeport MacMoRan
LNG BP Bintuni
Kegiatan Logging
Pembangunan
Alam Berbicara
Ekologi/ Ekosistem
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Freeport MacMoRan

Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
By Cepos
Feb 11, 2006, 02:19

 
JAKARTA-Pemerintah membentuk tim gabungan lintas departemen guna mengevaluasi kinerja pertambangan PT Freeport Indonesia. Tim tersebut akan menilai kembali bagi hasil pertambangan dalam kontrak karya perusahaan tambang asal Amerika Serikat tersebut.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, dengan harga emas dan tembaga di pasaran dunia yang tinggi saat ini Indonesia dinilai layak mendapatkan bagi hasil yang lebih adil. "Dengan harga emas dan tembaga yang mahal saat ini, mestinya bagi hasil untuk Indonesia bisa dua sampai tiga kali lipat dari sekarang," kata Kalla di Istana Wakil Presiden, kemarin.

Tim itu akan mengevaluasi patokan harga emas dan tembaga yang dijual Freeport, hasil tambang yang diproduksi, kinerja keuangan, serta aspek pengelolaan lingkungan Freeport. Dengan demikian, dapat diketahui potensi pajak dan pengelolaan lingkungan pertambangan di Tembagapura.

Pemerintah, kata Kalla, tidak menginginkan bagi hasilnya kecil dan ada penyelewengan harga emas yang menurunkan pendapatan pajak pemerintah. Dicontohkan, harga emas di pasar internasional saat ini mencapai USD 600 per ons, akan diteliti apakah harga itu dilaporkan sebagai mana mestinya dalam laporan keuangan Freeport. "Jika ditemukan penyelewengan, tentu ada sanksi aturan hukum atau pajak dan sebagainya," tegas Kalla.

Penilaian kontrak karya oleh Departemen ESDM, Departemen Keuangan, dan Kementrian Lingkungan Hidup itu bukan hal yang aneh karena telah lazim dilakukan setiap lima tahun sekali. Pemeriksaan terakhir dilakukan pada tahun 2000 ketika Kwik Kian Gie menjabat Menko Perekonomian. "Persoalan bagi hasil ini sangat penting bagi rakyat Papua, karena 70 persen bagi hasil masuk ke pemerintah daerah. Kita tidak ingin otonomi khusus jalan tapi bagi hasilnya kecil," katanya. (noe)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece