|
||||||
Update
Terakhir: Feb 14th, 2005 - 14:47:07
|
|
Konservasi
Menurut teman-teman dekat saya, pemberitaan Jaringan Advokasi Tambang, Kompas dan Press Reference Yayasan YP3-ABP (Yayasan yang dikelola oleh Anak-Anak Koteka sendiri) Januari lalau telah mengingatkan Orang Koteka akan milik pusaka warisan leluhur mereka yang selama ini sedang disantap oleh Orang Lain, walaupun berhasil disembunyikan dengan alasan Konservasi, Pelestarian Kawasan, Plestarian Lingkungan, dlsbnya. Mereka pun menuntut pengembalian pengelolaan Lorentz Park ke tangan mereka sendiri. Mereka juga menuntut penempatan kembali ke Kawasan Lorentz karena mereka telah digusur dari sana oleh Penguasa NKRI dan antek-anteknya yang tergiur dengan kekayaan Situs Internasional itu. Tetapi saya kaget setengah mati ketika membaca Berita Kompas Edisi 2 Februari 2005. Disana disebutkan bahwa desakan Orang Koteka itu tidak sejalan dengan program pengembangan kawasan Lorentz. Counter ini datang dari Benja Mambay , Direktur World Wildlife Fund (WWF) Bioregion Sahul – Papua. Yang lebih mengherankan saya adalah pernyataan Counter Benja Mambay ini adalah rekomendasi dari Diskusi Terbatas yang diselenggarakan oleh WWF Papua di Timika belum lama ini dengan melibatkan Pemkab Mimika, Bapa Tom Beanal dari Dewan Adat Papua (DAP), Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Benny Saroy, Anggota DPRD Mimika Adam Yocku, Wakil PT Freeport Indonesia Pratta Puradiyatmika serta Dinas Kehutanan dan Perkebunan Mimika Syarial. Pertanyaan yang segera muncul dalam kepala saya adalah : Lorentz atau Ndugu-Ndugu ini sebenarnya milik siapa? Apakah milik NKRI, WWF, BKSDA, DAP, DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN, DPRD, FREEPORT ATAU ORANG KOTEKA ? Kalau milik NKRI, WWF, BKSDA, DAP, DINAS KEHUTANAN, DPRD dan FREEPORT, mengapa Orang Koteka dan Yayasan YP3-ABP bisa nekad berupaya untuk mengambil hak milik Orang atau Kelompok lain? Atau sebaliknya, kalau Lorentz itu milik Orang Koteka, kenapa NKRI, WWF, BKSDA, DAP, DINAS KEHUTANAN, DPRD, dan FREEPORT masih bersikeras mempertahankan milik Orang Koteka yang berhasil mereka rampas melalui Undang-Undang dan segala Peraturan yang dibuat lengkap dengan 1001 macam alasan yang irasional untuk membenarkan kejahatan mereka? Untuk mengetahui siapa pemilik sah atas Lorentz Park atau Ndugu-Ndugu sejak jaman baheula, kita perlu cek sama-sama dengan menggunakan akal sehat, bukan akal-akalan yang selama ini dipakai untuk mencuri. Karena lokasi Lorentz Park berada di beberapa Kabupaten, maka kepemilikannya juga lintas Kabupaten. Kabupaten-kabupaten dimaksud adalah Mimika, Puncak Jaya, Asmat, Yahukimo dan Jayawijaya. Kalau kita cek setiap suku di lima Kabupaten itu, kita tidak akan ketemu suku NKRI, WWF, BKSDA, DAP, DINAS KEHUTANAN, DPRD, FREEPORT dengan marga-marga seperti Mambay, Saroy, Yocku, apalagi Puradiyatmika dan Syarial. Kalau suku Amungme memang ada dengan salah satu marganya : Beanal. Bangsa Papua memiliki ratusan suku pribumi dan setiap suku punya marga yang jelas, dusun yang jelas, sungai yang jelas, hutan yang jelas, gunung yang jelas, danau yang jelas, adat istiadat yang jelas, system politik, hukum, ekonomi, religius dlsbnya yang jelas. Lorentz atau Ndugu-Ndugu terletak di dusun yang jelas dimiliki oleh Suku-suku Papua di Lima Kabupaten. Pengalaman dan kenyataan memberitahu kita bahwa Lorentz dikelola oleh Penguasa NKRI dan perkakasnya seperti Pemkab, Dinas Kehutanan dan Pertanian, BKSDA maupun Kapitalisme Intenasional yang dikenal dengan WWF. WWF dikendalikan oleh Gerombolan Orang Pantura (Pantai Utara) Papua yakni Mambay Cs, yang terbukti telah memutuskan hubungan sacral antara Orang Koteka dengan Ndug-Ndugu. Pemutusan hubungan ini adalah kejahatan terbesar di zaman kita, sama artinya dengan memisahkan seorang bayi dengan ibu kandungnya. Ada semacam pandangan Rasisme Internal yang selalu ada dalam kepala saudara-saudara Pantura Papua, yakni pandangan tentang kebodohan, keterbelakangan, kanibalisme, manusia telanjang dan pandangan Apartheid lainnya yang identik dengan Orang Koteka. Pemahaman dasar kolonialis, rasis, fasis dan kapitalis inilah yang mendorong Benja Mambay untuk membujuk Bapa Tom Beanal, Nagawan yang paling dihormati dan disegani oleh Orang Koteka untuk duduk bicara sama dan menyatakan dukungannya terhadap perampokan kekayaan Lorentz atau Ndugu-Ndugu. Dewan Adat Papua itu untuk urus Papua Merdeka, jadi jangan fungsikan dia untuk memberi restu kepada para perampok untuk curi kekayaan alam yang ada. Status Nagawan yang ada pada Bapa Tom Beanal direndahkan oleh Mambay, sama seperti Willy Mandowen yang berhasil mempengaruhi Bapa Tom untuk berjuang Papua Merdeka menurut resep domestik dari BIN, BAKIN, BAIS, Kopasus, TNI/POLRI, Departemen Pertahanan Rep. Indo., mapun resep Internasional dari James Moffet, David Rockefeller dan Kapitalis lainnya. Lorentz atau Ndugu-Ndugu itu bukan milik NKRI, WWF, BKSDA, DAP, DINAS KEHUTANAN, DPRD, FREEPORT, Mambay, Saroy, Yocku, apalagi Puradiyatmika dan Syarial. Untuk Mambay dan Saroy, kamorang berhenti sudah dengan Manajemen Pemakan Bangkai itu! Paling baik urus dusunmu yang tandus itu. Bawa WWF atau BKSDA ke kampungmu dan bicara dengan Tokoh Adat disana untuk lepas dusun bagi kepentingan Konservasi dan Pelestarian Lingkungan! Jadikanlan dusunmu sebagai Situs Internasioanl, supaya kalian benar-benar kenyang dari warisan nenek moyang sendiri! Orang Koteka sudah mati banyak, hanya karena keingingan NKRI dan Kapitalis Internasional untuk bunuh habis manusianya baru ambil kekayaannya. Lorentz masuk dalam target mereka! Orang Koteka harus bersatu untuk merebut Ndugu-Ndugu dan Martabatnya yang diinjak-injak saat ini. LAWAN ! Mereka Agen Penjajah ! Ini Cuma Wacana untuk diskusi lebih lanjut , bukan provokasi pecah belah. . . . . . . . © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|