Update Terakhir: Feb 14th, 2005 - 14:47:07
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Freeport MacMoRan
LNG BP Bintuni
Kegiatan Logging
Pembangunan
Alam Berbicara
Ekologi/ Ekosistem
Konservasi
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Konservasi

LORENTZ PARK ATAU NDUGU-NDUGU ITU MILIK SIAPA : NKRI, WWF, BKSDA, DAP, DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN, DPRD, FREEPORT ATAU ORANG KOTEKA ?
By Es Lau Kapore
Feb 14, 2005, 14:30

 
Pertanyaan yang saya jadikan judul uraian singkat ini sebenarnya muncul ketika saya membaca berita Jaringan Advokasi Tambang Edisi Online 18 Januari 2005, berita Kompas Edisi 19 Januari 2005, Press Reference Yayasan YP3-ABP Tanggal 19 Januari 2005 dan Berita Kompas 2 Februari 2005. Pertanyaan ini begitu mengganggu benak saya sehingga saya terpaksa harus memberitahukannya kepada siapa saja lewat Millis Amalupa, Simpa, WestPac Revolution, Pemebasan Papua, Tribal Melanesia dan melalui sejumlah e-mail pribadi maupun Organisasi. Tujuan saya, persoalan ini bisa kita diskusikan agar kita tahu dengan pasti, siapa pemilik Lorentz Park atau Ndugu-Ndugu sejak dulu kala.

Menurut teman-teman dekat saya, pemberitaan Jaringan Advokasi Tambang, Kompas dan Press Reference Yayasan YP3-ABP (Yayasan yang dikelola oleh Anak-Anak Koteka sendiri) Januari lalau telah mengingatkan Orang Koteka akan milik pusaka warisan leluhur mereka yang selama ini sedang disantap oleh Orang Lain, walaupun berhasil disembunyikan dengan alasan Konservasi, Pelestarian Kawasan, Plestarian Lingkungan, dlsbnya. Mereka pun menuntut pengembalian pengelolaan Lorentz Park ke tangan mereka sendiri.

Mereka juga menuntut penempatan kembali ke Kawasan Lorentz karena mereka telah digusur dari sana oleh Penguasa NKRI dan antek-anteknya yang tergiur dengan kekayaan Situs Internasional itu.

Tetapi saya kaget setengah mati ketika membaca Berita Kompas Edisi 2 Februari 2005. Disana disebutkan bahwa desakan Orang Koteka itu tidak sejalan dengan program pengembangan kawasan Lorentz. Counter ini datang dari Benja Mambay , Direktur World Wildlife Fund (WWF) Bioregion Sahul – Papua.

Yang lebih mengherankan saya adalah pernyataan Counter Benja Mambay ini adalah rekomendasi dari Diskusi Terbatas yang diselenggarakan oleh WWF Papua di Timika belum lama ini dengan melibatkan Pemkab Mimika, Bapa Tom Beanal dari Dewan Adat Papua (DAP), Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Benny Saroy, Anggota DPRD Mimika Adam Yocku, Wakil PT Freeport Indonesia Pratta Puradiyatmika serta Dinas Kehutanan dan Perkebunan Mimika Syarial.

Pertanyaan yang segera muncul dalam kepala saya adalah : Lorentz atau Ndugu-Ndugu ini sebenarnya milik siapa? Apakah milik NKRI, WWF, BKSDA, DAP, DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN, DPRD, FREEPORT ATAU ORANG KOTEKA ?

Kalau milik NKRI, WWF, BKSDA, DAP, DINAS KEHUTANAN, DPRD dan FREEPORT, mengapa Orang Koteka dan Yayasan YP3-ABP bisa nekad berupaya untuk mengambil hak milik Orang atau Kelompok lain? Atau sebaliknya, kalau Lorentz itu milik Orang Koteka, kenapa NKRI, WWF, BKSDA, DAP, DINAS KEHUTANAN, DPRD, dan FREEPORT masih bersikeras mempertahankan milik Orang Koteka yang berhasil mereka rampas melalui Undang-Undang dan segala Peraturan yang dibuat lengkap dengan 1001 macam alasan yang irasional untuk membenarkan kejahatan mereka?

Untuk mengetahui siapa pemilik sah atas Lorentz Park atau Ndugu-Ndugu sejak jaman baheula, kita perlu cek sama-sama dengan menggunakan akal sehat, bukan akal-akalan yang selama ini dipakai untuk mencuri.

Karena lokasi Lorentz Park berada di beberapa Kabupaten, maka kepemilikannya juga lintas Kabupaten. Kabupaten-kabupaten dimaksud adalah Mimika, Puncak Jaya, Asmat, Yahukimo dan Jayawijaya.

Kalau kita cek setiap suku di lima Kabupaten itu, kita tidak akan ketemu suku NKRI, WWF, BKSDA, DAP, DINAS KEHUTANAN, DPRD, FREEPORT dengan marga-marga seperti Mambay, Saroy, Yocku, apalagi Puradiyatmika dan Syarial. Kalau suku Amungme memang ada dengan salah satu marganya : Beanal.

Bangsa Papua memiliki ratusan suku pribumi dan setiap suku punya marga yang jelas, dusun yang jelas, sungai yang jelas, hutan yang jelas, gunung yang jelas, danau yang jelas, adat istiadat yang jelas, system politik, hukum, ekonomi, religius dlsbnya yang jelas. Lorentz atau Ndugu-Ndugu terletak di dusun yang jelas dimiliki oleh Suku-suku Papua di Lima Kabupaten.

Pengalaman dan kenyataan memberitahu kita bahwa Lorentz dikelola oleh Penguasa NKRI dan perkakasnya seperti Pemkab, Dinas Kehutanan dan Pertanian, BKSDA maupun Kapitalisme Intenasional yang dikenal dengan WWF. WWF dikendalikan oleh Gerombolan Orang Pantura (Pantai Utara) Papua yakni Mambay Cs, yang terbukti telah memutuskan hubungan sacral antara Orang Koteka dengan Ndug-Ndugu. Pemutusan hubungan ini adalah kejahatan terbesar di zaman kita, sama artinya dengan memisahkan seorang bayi dengan ibu kandungnya.

Ada semacam pandangan Rasisme Internal yang selalu ada dalam kepala saudara-saudara Pantura Papua, yakni pandangan tentang kebodohan, keterbelakangan, kanibalisme, manusia telanjang dan pandangan Apartheid lainnya yang identik dengan Orang Koteka. Pemahaman dasar kolonialis, rasis, fasis dan kapitalis inilah yang mendorong Benja Mambay untuk membujuk Bapa Tom Beanal, Nagawan yang paling dihormati dan disegani oleh Orang Koteka untuk duduk bicara sama dan menyatakan dukungannya terhadap perampokan kekayaan Lorentz atau Ndugu-Ndugu. Dewan Adat Papua itu untuk urus Papua Merdeka, jadi jangan fungsikan dia untuk memberi restu kepada para perampok untuk curi kekayaan alam yang ada.

Status Nagawan yang ada pada Bapa Tom Beanal direndahkan oleh Mambay, sama seperti Willy Mandowen yang berhasil mempengaruhi Bapa Tom untuk berjuang Papua Merdeka menurut resep domestik dari BIN, BAKIN, BAIS, Kopasus, TNI/POLRI, Departemen Pertahanan Rep. Indo., mapun resep Internasional dari James Moffet, David Rockefeller dan Kapitalis lainnya.

Lorentz atau Ndugu-Ndugu itu bukan milik NKRI, WWF, BKSDA, DAP, DINAS KEHUTANAN, DPRD, FREEPORT, Mambay, Saroy, Yocku, apalagi Puradiyatmika dan Syarial.

Untuk Mambay dan Saroy, kamorang berhenti sudah dengan Manajemen Pemakan Bangkai itu! Paling baik urus dusunmu yang tandus itu. Bawa WWF atau BKSDA ke kampungmu dan bicara dengan Tokoh Adat disana untuk lepas dusun bagi kepentingan Konservasi dan Pelestarian Lingkungan! Jadikanlan dusunmu sebagai Situs Internasioanl, supaya kalian benar-benar kenyang dari warisan nenek moyang sendiri! Orang Koteka sudah mati banyak, hanya karena keingingan NKRI dan Kapitalis Internasional untuk bunuh habis manusianya baru ambil kekayaannya. Lorentz masuk dalam target mereka!

Orang Koteka harus bersatu untuk merebut Ndugu-Ndugu dan Martabatnya yang diinjak-injak saat ini. LAWAN ! Mereka Agen Penjajah ! Ini Cuma Wacana untuk diskusi lebih lanjut , bukan provokasi pecah belah. . . . . . . .

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece