Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Freeport MacMoRan
LNG BP Bintuni
Kegiatan Logging
Pembangunan
Alam Berbicara
Ekologi/ Ekosistem
Konservasi
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Konservasi

Taman Nasional Teluk Cendrawasih Terancam Rusak
By WPNews
Mar 10, 2005, 10:10

 
Manokwari, Kamis

Keindahan Taman Nasional bisa rusak bila tidak dijaga

Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) di Kabupaten Biak Numfor, Papua, kini terancam rusak dan kondisinya semakin memprihatinkan. Pimpinan proyek TNTC, Robert Mandosir, kepada wartawan di Manokwari, Kamis (10/3), mengatakan ancaman muncul karena dalam 10 tahun terakhir sering terjadi kegiatan penangkapan ikan ilegal yang dilakukan nelayan setempat maupun pendatang.

Para nelayan itu kebanyakan menangkap ikan dengan cara yang tidak ramah lingkungan, seperti menggunakan bahan peledak yang daya ledaknya cukup tinggi dan racun. "Akibatnya ekosistem laut dan ikan besar kecil ikut musnah, sedangkan populasi terumbu karang yang merupakan andalan panorama laut kawasan Teluk Cenderawasih terancam punah," kata Mandosir.

Kekhawatiran itu makin besar karena masyarakat nelayan di sekitar kawasan TNTC kebanyakan masih hidup dengan tingkat ekonomi dan pengetahuan rendah, sehingga cukup sulit meyakinkan pentingnya pelestarian alam pada mereka.

Menurut Mandosir, lima tahun lalu terumbu karang di TNTC dianggap sebagai yang terbaik kedua di dunia setelah Great Barrier Reef di Australia. Namun, belakangan ini peringkat itu turun menjadi kelima. "Ini karena tingkat perusakan lingkungan di TNTC makin tinggi. Kalau perusakan tidak dihentikan, sepuluh tahun ke depan wilayah ini akan rusak total," tegasnya.

Adapun para nelayan makin sering menggunakan bom karena bahan tersebut mudah didapat. Menurut warga setempat, mereka bahkan menggunakan bom peninggalan perang dunia kedua yang banyak ditemukan di Biak, karena daerah itu dulu merupakan basis tentara Amerika dan Jepang.

Alasan penggunaan bom adalah karena gampang dan hasilnya melimpah., Selain itu tidak ada aparat yang bertugas di wilayah tersebut sehingga pengeboman ikan itu berlangsung dengan bebas. Padahal, kawasan TNTC sejak dulu ditetapkan pemerintah pusat sebagai obyek wisata Bahari Nasional yang seharusnya tertutup dari kegiatan yang tidak sesuai dengan Undang-Undang Konservasi No.5 Tahun 1990.

Taman Nasional Teluk Cenderawasih seluas 2.500 hektar yang terbentang antara Kabupaten Manokwari, Nabire, Biak Numfor, dan Yapen Waropen, kaya akan berbagai jenis biota laut. Taman ini memiliki berbagai jenis ikan. Tercatat kurang lebih 209 jenis ikan penghuni kawasan ini diantaranya butterflyfish, angelfish, damselfish, parrotfish, rabbitfish, dan anemonefish.

Jenis moluska antara lain keong cowries (Cypraea spp.), keong strombidae (Lambis spp.), keong kerucut (Conus spp.), triton terompet (Charonia tritonis), dan kima raksasa (Tridacna gigas).

Selain itu ada empat jenis penyu yang sering mendarat di taman nasional ini yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Duyung (Dugong dugon), paus biru (Balaenoptera musculus), ketam kelapa (Birgus latro), serta berbagai jenis lumba-lumba, dan hiu sering pula terlihat di perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih. (Ant/dephut.go.id/wsn)


© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece