|
||||||
Update
Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
|
|
Gempa
Masing-masing menunjukkan kerja keras yang luar biasa dan kesiagaan di jalanan sepanjang hari. Namun, kurangnya koordinasi di antara lembaga- lembaga tadi membuat kerja keras, kesiagaan, dan komitmen membantu warga yang terkena bencana tidak termanfaatkan dengan baik. Di sisi lain bantuan dari pemerintah, swasta, LSM, dan para relawan tak bisa lancar tiba di lokasi bencana. Ada daerah yang mendapat bantuan cukup optimal, misalnya, beberapa bagian di kota Gunung Sitoli. Namun, banyak daerah yang belum disentuh sama sekali, di antaranya Simeulue dan daerah-daerah pedalaman Kabupaten Nias. Contoh lain, sejumlah warga terlihat sibuk di beberapa dapur umum, seperti yang ada di ujung jalan perbatasan kompleks Pasar Gomo dan beberapa lapangan terbuka di Kabupaten Nias. Hanya saja dapur umum itu ada yang kebanjiran warga dan ada pula yang sepi. Sebagian lainnya bahkan tidak sempat melayani setiap orang yang kelaparan dan terkesan lebih memprioritaskan warga yang dikenalnya. Banyak juga prajurit TNI yang berada di jalan, tetapi terkesan tanpa penugasan yang jelas. Sebagian tampak berjaga- jaga saja pada saat sesama rekan dan relawan mengevakuasi korban bencana dari reruntuhan bangunan. Salah seorang di antara mereka, Sersan Dua Tukiran, mengatakan, hal itu terkait dengan kondisi fisik dan psikis mereka yang telah tiga bulan bertugas di Aceh. Meski demikian, mereka mengaku akan tetap berusaha secara maksimal membantu evakuasi korban di Nias ini. Kemarin evakuasi korban yang tertimbun reruntuhan bangunan akibat gempa yang berlangsung Senin tengah malam lalu tetap berjalan lamban. Hal ini bukan saja karena kurangnya alat-alat berat, tetapi juga karena koordinasi yang kurang mulus. Evakuasi korban gempa tampak masih dititikberatkan pada usaha manual para relawan, warga setempat, dan aparat keamanan. Alat berat yang dibutuhkan untuk menyingkirkan reruntuhan sangat kurang. Minimnya peralatan menyebabkan proses evakuasi berjalan lamban sehingga ratusan korban yang tertimbun di reruntuhan di Gunung Sitoli, misalnya, belum dapat dikeluarkan. Tak ayal bau busuk menyebar di mana-mana. Di pendopo Kabupaten Nias, yang sejak hari pertama gempa ditetapkan sebagai posko utama, penanganan bencana ternyata belum optimal. Informasi mengenai perkembangan posko pengungsi, bahan pokok dan pendistribusiannya, dan ketersediaan alat berat untuk evakuasi tidak tersedia. Drama Perjuangan mengeluarkan korban dari reruntuhan selalu berisi drama yang menyentuh. Debi (20), warga Jalan Sirou, Gunung Sitoli, misalnya. Ia tertutup reruntuhan tembok rumahnya selama tiga hari. Dengan ketabahan luar biasa Debi dapat bertahan hidup dan akhirnya diselamatkan warga. Di rumahnya itu Debi tinggal bersama orangtua, dua saudara, dan dua pembantu rumah tangga. Akibat gempa dahsyat tersebut, hanya tinggal dia dan sang ayah yang masih hidup. Kamis pagi kemarin sejumlah relawan yang berdatangan sejak hari pertama pascagempa tetap aktif membongkar reruntuhan bangunan guna mengevakuasi korban. Para relawan yang sejak Kamis dibantu sekitar 450 anggota TNI kesulitan mengevakuasi karena kurangnya kerja sama dengan warga. Warga terlihat bingung dan trauma. Mereka tidak dapat berpikir taktis dalam upaya penyelamatan korban yang masih hidup maupun terluka. Orangtua Debi, Daniel (60), mengaku dirinya sudah berusaha melaporkan kondisi dirinya dan keluarga serta kondisi parah akibat gempa di lingkungannya kepada pemerintah setempat sejak hari pertama pascagempa. Tidak ada respons positif yang diperoleh. Hingga hari ketiga pascagempa, Kamis sore, bantuan bahan makanan serta air bersih tak kunjung datang. Hal senada diungkapkan Kepala Paroki Santa Maria Mikhael To Pr. Menurut dia, kemarin persediaan makanan di Paroki Santa Maria hanya cukup untuk satu-dua hari. Itu pun merupakan pengumpulan bahan makanan dari tiga asrama di lingkungan paroki. Padahal, ia harus mengelola dapur umum yang menampung maksimal 500 orang per hari. 296 korban tewas Kemarin Menteri Sosial (Mensos) Bachtiar Chamsyah mengungkapkan, jumlah korban meninggal akibat gempa bumi kali ini hingga hari Kamis tercatat 296 orang. Di Kabupaten Nias 236 jiwa, Kabupaten Nias Selatan 43 orang, dan Kabupaten Simeulue 17 orang. Mensos memperkirakan jumlah korban akan bertambah karena masih banyak yang belum terevakuasi. Menurut pemantauan sepanjang Kamis, daerah-daerah di pinggiran di Kabupaten Nias, selain Gunung Sitoli, tampak belum tersentuh. Padahal, di samping Gunung Sitoli sedikitnya terdapat 13 kecamatan yang rusak. Walaupun tingkat kerusakannya tidak separah yang terjadi di Gunung Sitoli, warga di daerah pinggiran kini terancam kelaparan karena mereka bergantung pada suplai bahan pokok dari Gunung Sitoli, yang merupakan pusat ekonomi Kabupaten Nias. Pemandangan mengenaskan juga tampak kemarin pagi ketika ratusan warga pedalaman turun gunung mencari makanan akibat persediaan makanan mereka habis. Mereka harus berjalan kaki menembus hutan dan perkebunan sampai 10 kilometer untuk mencari makanan di kota. Namun, sesampai di kota mereka harus pulang dengan tangan hampa. "Sudah dua hari ini beras habis sehingga kami harus membakar pisang dan mencari buah-buahan. Hari ini saya turun ke kota untuk mencari beras di kota," kata Inayaman Zebua, warga Desa Boyo, sekitar lima kilometer dari Gunung Sitoli. Menurut Inayaman, selama ini warga desa di pedalaman, yang umumnya adalah petani karet, harus ke kota dua minggu sekali untuk membeli bahan pokok. Namun, hancurnya perekonomian Gunung Sitoli menyebabkan ribuan warga di Nias kini menderita kelaparan. Nias Selatan dan Simeulue Dari Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Kompas juga menerima informasi bahwa kawasan itu sampai kemarin belum tersentuh karena akses darat yang terputus. Padahal, di kawasan itu kerusakan akibat bencana kali ini juga parah. Menurut ER Halawa, warga Teluk Dalam yang berhasil menembus jalan darat ke Gunung Sitoli, Rabu malam lalu mengatakan, kerusakan di Teluk Dalam sebanding dengan kerusakan di Gunung Sitoli. "Tetapi, di sana belum ada bantuan sama sekali. Masyarakat harus mengevakuasi sendiri korban dan bantuan bahan makanan serta minuman juga tidak ada. Mayat-mayat mulai membusuk karena tidak segera diambil," katanya. Untuk menuju Gunung Sitoli, dari Teluk Dalam, Halawa harus berganti angkutan sepeda motor dan membayar ongkos total Rp 200.000. Menurut dia, ada tiga titik yang terputus, yaitu di kawasan Hiliganewe, Hilinameniha, dan Gide. "Medan yang dilalui sangat berat dan berbahaya," ujarnya. Secara terpisah, Bupati Simeulue Darmili mengungkapkan, proses evakuasi di wilayah kabupaten pulau di pesisir Nanggroe Aceh Darussalam itu terhambat. Langkanya bahan bakar minyak (BBM) di Sinabang dan sekitarnya menyebabkan peralatan berat milik Pemerintah Kabupaten Simeulue tidak bisa dioperasikan. Dievakuasi ke Medan Proses evakuasi korban gempa bumi dengan menggunakan helikopter Chinook milik Singapura dan pesawat angkut Hercules C-130 milik TNI Angkatan Udara dari Nias ke Medan terus berlangsung. Sampai kemarin sedikitnya 55 korban patah tulang dan luka robek sudah dievakuasi ke Pangkalan Udara TNI AU Kelapa Sawit, Medan. "Untuk korban dengan luka robek kami rujuk ke Rumah Sakit Umum Pirngadi, sedangkan yang mengalami patah tulang dan memerlukan operasi segera dirujuk ke Rumah Sakit Adam Malik, Medan," kata dr Ferry Adhibrata, petugas Pos Komando (Posko) Kesehatan di Pangkalan Udara Kelapa Sawit, Medan. Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto mengatakan, sejumlah negara juga akan memberikan bantuan. Beberapa negara yang sudah menyanggupi membantu antara lain Singapura (tiga pesawat Chinook), Amerika Serikat (USNS Mercy), Australia (rumah sakit terapung serta dua pesawat Hercules), dan Spanyol yang akan memindahkan tenaga kesehatan militer dari NAD ke Nias. Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan, infrastruktur penting adalah air bersih. Masalah air minum hingga sekarang belum bisa dideteksi. Di Gunung Sitoli alat berat yang tersedia dan siap digunakan saat ini hanya empat unit. Sejumlah buldoser, grader, ekskavator, dan mobil yang disiapkan untuk penanggulangan bencana ini masih tertahan di tiga kapal perang milik TNI Angkatan Laut. Untuk mengatasi kesulitan angkutan, Menteri Perhubungan Hatta Rajasa mengatakan, pihaknya akan menambah empat kapal feri dari semula hanya satu kapal, yang melayani Sibolga-Gunung Sitoli. Di samping itu, akan dikirim kapal feri besar, Jatra, untuk mengangkut alat-alat berat. Kemarin kembali terjadi gempa susulan yang dirasakan warga yang berada di Bandara Ferdinand Lumbantobing hingga Sibolga dan sekitarnya. Setelah kejadian itu telepon seluler sempat tidak bisa digunakan, hingga pukul 16.00. (NEL/AIK/DNU/MAR/HAM/NIC/ZUL) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|