|
||||||
Update
Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
|
|
Badai/ Gelombang
"Masyarakat di Simeulue kini masih trauma dan khawatir terjadinya bencana tsunami karena air laut sudah surut sejauh sekitar 300 meter pasca gempa bumi yang menguncang wilayah itu, akhir Maret lalu," kata Wakil Bupati Simeulue, Ibnu Aban GT Ulma, ketika di hubungi di Sinabang, ibu kota kabupaten itu, Jumat. Ia menjelaskan karena diliputi rasa kekhawatiran terhadap isu dihembuskan orang tak bertanggung jawab yang menyebutkan bakal ada gempa susulan yang lebih keras dan tsunami, membuat puluhan ribu warga kepulauan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia itu mengungsi ke dataran yang lebih tinggi dan pengunungan. Ibnu Aban, menambahkan masyarakat di daerahnya kini mulai mengalami krisis air bersih menyusul keringnya sumur penduduk di kepulauan tersebut pasca bencana alam gempa bumi itu. "Untuk mendapatkan sumber air tawar yang layak konsumsi, penduduk harus menggali sumur-sumur yang lebih dalam dari biasanya," ujarnya. Puluhan ribu warga Simeulue kini sangat membutuhkan tenda-tenda yang layak huni karena kondisi tenda yang mereka gunakan di pengungsian saat ini sangat tidak memungkinkan untuk tinggal sementara. "Apalagi, cuaca di Pulau Simeulue saat ini sedang turun hujan, sehingga sangat mengkhawatirkan terhadap kesehatan masyarakat pengungsi," kata Wakil Bupati Simeulue. Sementara itu, seorang warga Sinabang, Fitrah M Nasir, menjelaskan bahwa puluhan ribu warga pengungsi yang berdiam di atas bukit dan gunung sangat memprihatinkan, terutama anak-anak dan orang tua. "Kesehatan dan logistik masyarakat pengungsi kini memprihatinkan, apalagi dengan kondisi cuaca saat ini sedang berlangsung hujan. Tenda-tenda yang mereka gunakan sebagian tidak layak huni," katanya. Ia menyebutkan, kondisi kesehatan masyarakat Simeulu pasca gempa bumi itu kini mulai terserang penyakit, seperti gatal-gatal, malaria dan diare. "Saya melihat banyak masyarakat yang mendatangi rumah sakit dan Puskesmas dengan keluhan sakit gatal-gatal, malaria dan diare," katanya. Di Sinabang, tambah dia, suasana pada malam hari masih mencekam, hanya terlihat satu dua orang yang berdiam di sana meski aliran listrik sudah nyala. "Sebagian besar rumah penduduk yang rusak ringan karena gempa tidak berpenghuni termasuk di masjid-masjid, katanya. (Ant/O-1) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|