Update Terakhir: Apr 13th, 2005 - 16:24:10
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Isu Kesehatan
Isu Perempuan
Isu Kesukuan
Hukum Adat
Tanah Adat
Kesenian
Isu Terkait
Duka/ Belasungkawa
Isu Umum
Isu Melanesia
Isu Keagamaan
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Isu Kesukuan

Disusun, Perda tentang Buah Merah dari Jayawijaya
By KCM
Apr 13, 2005, 16:21

 
Jayapura, Kompas - Mengantisipasi pengambilan buah merah dalam jumlah besar di Kabupaten Jayawijaya, pemerintah daerah setempat kini sedang menyusun rancangan peraturan daerah mengenai larangan pengambilan buah merah secara tidak bertanggung jawab. Buah merah hanya dapat dibawa keluar dari Jayawijaya dalam bentuk sari atau minyak buah merah. Keberadaan buah merah selama ini telah mengangkat kesejahteraan masyarakat setempat.

Wakil Bupati Jayawijaya Nicolas Jigibalom di Jayapura, Selasa (12/4), mengatakan, ketika sari buah merah dipopulerkan oleh Made Budi, staf pengajar Universitas Cenderawasih, Jayapura, sebagai suplemen yang dapat menyembuhkan kanker, menghambat virus HIV, menyembuhkan sakit TB paru, sakit jantung, diabetes, dan beberapa penyakit lain, perburuan terhadap buah merah semakin gencar.

Sejumlah perusahaan pembuat sari buah merah di Jakarta sangat bergantung pada buah merah di Jayawijaya. Mereka mengambil buah merah untuk diproses menjadi sari buah merah di Jakarta.

Perda tersebut antara lain akan menetapkan larangan membawa buah merah ke luar Jayawijaya. Proses pengolahan sari buah merah harus dilakukan di Jayawijaya sehingga bisa membuka lapangan kerja dan peluang usaha bagi masyarakat lokal.

"Kami sedang menyusun rancangan perda ke DPRD mengenai pelarangan pengambilan buah merah ini, dan dalam waktu dekat diajukan ke DPRD untuk dibahas," kata Jigibalom.

Dia mengakui, buah merah telah mengangkat kehidupan masyarakat setempat. Harga buah merah Rp 20.000-Rp 120.000 per buah, tergantung ukurannya, sementara harga sari buah merah Rp 300.000 per botol ukuran 200 ml.

"Di beberapa tempat, proses pengambilan buah merah itu dengan cara menebang sehingga populasi buah merah makin berkurang. Saat ini para pengusaha sari buah merah mulai merambah ke Kabupaten Tolikara dan Yahokimo karena kedua daerah ini termasuk penghasil buah merah," ujarnya lebih lanjut.

Mengantisipasi kepunahan buah merah, menurut Jigibalom, akan dilakukan budidaya buah merah di sejumlah distrik seperti Kelila dan Bokondini.

Anggota DPRD Kabupaten Tolikara, Bastian Pagawak, mengatakan, sebenarnya pusat buah merah di daerah Pegunungan Tengah ada di Tolikara. Namun, karena Jayawijaya lebih mudah dijangkau peneliti dan konsumen, maka buah merah lebih dikenal di Jayawijaya.

Pagawak khawatir, jika pemda Jayawijaya mengeluarkan perda, para konsumen dan pedagang buah merah akan beralih ke Tolikara. Apalagi harga buah merah di Tolikara lebih murah, yakni Rp 10.000-Rp 50.000 per buah. (KOR)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece