Update Terakhir: May 2nd, 2005 - 02:43:36
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Isu Kesehatan
Isu Perempuan
Isu Kesukuan
Hukum Adat
Tanah Adat
Kesenian
Isu Terkait
Duka/ Belasungkawa
Isu Umum
Isu Melanesia
Isu Keagamaan
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Isu Kesukuan

Peladang TN Gunung Leuser Segera Pindah
By Medan, Kompas -
May 2, 2005, 02:42

 
Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah mengatakan, pemerintah akan segera memindahkan masyarakat yang berladang di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Di samping untuk mencegah terjadinya bencana, pemindahan itu juga dilakukan untuk menanggulangi perusakan hutan Leuser yang dinilai kian parah.

Bachtiar Chamsyah menjelaskan hal ini di sela-sela acara pengukuhan pengurus besar Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia di Langkat, Sumatera Utara, Sabtu (30/4). Persoalan ini tampaknya menjadi perhatian serius pihak Departemen Sosial.

"Kami sudah membicarakan rencana penataan masyarakat yang tinggal dan berladang di sekitar hutan Leuser, terutama di sekitar Gunung Leuser, dengan Menteri Kehutanan. Jika mereka dibiarkan berladang di hutan akan memudahkan terjadinya kerusakan lingkungan," katanya.

Selain itu, menurut Bachtiar, banyaknya kayu yang diambil dari Leuser secara ilegal telah berdampak pada terjadinya bencana alam. Kerusakan lingkungan akan memicu terjadinya bencana alam seperti banjir dan longsor. Dengan demikian, perlu dilakukan pencegahan lebih dini untuk menghindarkan masyarakat dari musibah.

"Masalah penataan ini sebenarnya sudah dibicarakan sejak Presiden Megawati dengan pihak manajemen Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Dan kali ini Menteri Kehutanan terlihat serius untuk menangani hal ini," katanya.

Selanjutnya Bachtiar mengungkapkan langkahnya, di mana pada tahap pertama penataan akan dilakukan di kawasan TNGL yang berada di wilayah Langkat.

"Pengungsi asal Aceh yang tinggal di kawasan tersebut akan dipindahkan dahulu ke tempat lain," kata Bachtiar. Menteri Sosial mengkhawatirkan dengan apa yang telah dilakukan masyarakat, yaitu mengganti hutan dengan jenis tanaman lain.

Namun, Bachtiar mengaku belum tahu persis dana yang dibutuhkan untuk memindahkan masyarakat tersebut. Dia mengatakan akan segera membahas hal tersebut dengan Menteri Kehutanan.

Kerusakan

Kabupaten Langkat memiliki 15 persen dari total kawasan TNGL seluas 2,5 juta hektar. Hampir di setiap perbatasan TNGL di Langkat terdapat tanaman perkebunan, baik yang dimiliki oleh masyarakat atau pihak perusahaan.

Berdasarkan catatan Forum Lembaga Swadaya Masyarakat, kerusakan hutan TNGL di Kabupaten Langkat yang diakibatkan oleh perambahan hutan sudah lebih dari 5.000 hektar.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut mencatat, pada tahun 2002 sekitar 25 persen dari total Kawasan Ekosistem Leuser telah rusak. Bahkan, kawasan hutan TNGL itu telah menjadi perkampungan sederhana.

Seharusnya, lokasi taman nasional harus bebas dari permukiman penduduk. Dengan demikian, upaya konservasi flora maupun fauna bisa maksimal. Dengan adanya penduduk pengawasan menjadi sulit, bukan hanya terhadap pembabatan hutan secara liar, tetapi juga perburuan binatang dilindungi sulit dihindarkan.

Hal ini terjadi setelah para pengungsi asal Aceh yang datang pada saat masih berlakunya darurat militer. Sedikitnya sekitar 200 keluarga pengungsi bermukim di kawasan tersebut.

"Dalam kondisi ekonomi yang sulit mereka melakukan pendudukan terhadap Leuser dan menanaminya dengan kelapa sawit," kata Menteri Sosial. Kelapa sawit maupun jenis tumbuhan ladang lainnya jelas sulit melindungi tanah.

Sementara itu, terkait dengan bencana banjir dan longsor di Aceh Tenggara, Bachtiar mengaku sudah menyampaikannya kepada pejabat Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam. Pejabat gubernur diminta agar bisa menanggulangi bencana itu.

"Gubernur Aceh sudah ke sana dan sudah melaporkan bencana tersebut bisa ditanggulangi. Kita punya sistem, setiap kabupaten atau provinsi punya stok penyangga. Jika ada bupati atau gubernur menyerahkan beras, itu adalah beras Depsos yang dibeli dari Bulog dan kami akan membayar beras dari Bulog," ungkap Bachtiar Chamsyah menjelaskan. (AIK)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece