Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Kekejaman Negara
Operasi Militer
Ancaman/ Terror
Militerisme
Kerjasama Militer
Terorisme Dunia
Mati Misterius
Kejahatan Milisi
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Militerisme

DALAM SIDANG LANJUTAN KARMA-PAKAGE PH TRA HADIR, MASSA BENTROK DENG POLISI
By WPNews Groups Correspondent
May 11, 2005, 16:30

 
* 22 Orang Luka Parah dan Ditahan di Mapolres Jayapura

Ratusan Ribu Rakyat Papua yang memadati Halaman Kantor Pengadilan Negeri Jayapura, pada hari Selasa (10/4) tadi siang, berakhir dengan bentrokan.

Menurut pantauan WPNews, bentrokan berawal ketika Penasehat Hukum-nya (PH) Yusak Pakage dan Fillep Karma batal mendampingi kedua kliennya. Alasan yang dipakai Hakim, katanya karna PH terlambat memasuki ruang persidangan. Sidang tetap berjalan sebagaimana diatur jadual persidangan, kendati kedua terdakwa tra didampingi PH.

Ironisnya, hukuman yang dijatuhkan kepada kedua terdakwa pun tak berdasar hukum yang jelas. Pasal-pasal yang dipakai hakim pun ternyata hanyalah "pasal karet" saja.

Padahal, Filep dan Yusak adalah dua insan dari sekian ratusan ribu massa yang sempat menghadiri perayaan 1 Desember lalu. Mereka berdua hanya menjadi tumbal dari kesewenang-wenangan dan ketidakadilan serta rekayasa yang dilakukan aparat keamanan bersama penegak hukum negera ini yang masih menjajah Tanah Papua.

Tepat pukul 11 siang, massa terlibat bentrok lantaran aparat keamanan menciptakan situasi yang memang disetting sedemikian rupa. Situasi tersebut mengundang massa emosi. Terlihat jelas segelintir orang yang dipasang untuk memprovokasi keadaaan, sehingga kenyamanan dan keamanan selama massa berorasi dan bernyanyi-nyanyi di depan Kantor PN Jayapura pun tak terkontrol. Akhirnya, bentrokan pun tak terhindarkan.

Aparat mengejar massa hingga keluar pagar PN Jayapura, bahkan "baku-kejar" di sepanjang jalan raya Kotaraja Abepura. Sejumlah toko, Saga Mall, Bank BRI, Bank Papua, warung-warung, ditutup seketika.

Sekilas seperti disaksikan WPNews, aparat kepolisian mengejar massa, bahkan tidak sedikit "Anak Papua" juga yang turut kejar "Anak Papua". Saat itu sangat nampak tidak sedikit "Yudas Papua" yang turut mengejar massa.

Moment tersebut berhasil diabadikan WPNews, hanya sayangnya kamera yang sedang ditangan itu dirusakan aparat. Bahkan, Reporter WPNews juga ikut ditahan dan dibawa ke Mapolres Jayapura bersama 21 orang lainnya.

WPNews menyaksikan hampir semua yang ditahan telah mengalami luka-luka yang cukup parah, baik di kepala, pelipis, tangan, kaki, lutut, dahi, punggung. Bahkan, menurut salah satu korban, Raga Kogoya, ia ketika digiring masuk ke dalam truk Mapolres, sempat disuntik oknum polisi. Entah suntikan apa? Hingga berita ini ditulis, Raga bersama Jefta Kalakmabin dan beberapa lainnya melakukan tes darah di RS Dian Harapan Waena.

Berikut nama-nama yang ditahan, diperiksa dan melakukan sidik jari di Mapolres Jayapura:
1. Marthen Mote
2. Decky Yobee
3. Jefta Kalakmabin
4. Kane Pahabol
5. Athen Mote
6. Yermia Kayame
7. Alli Boma
8. Yan Kayame
9. Petrus Tenouye
10. Amos Pigome
11. Pilius Wenda
12. Rumer Wanimbo
13. Nellius Kogoya
14. Alfius Muyapa
15. Mama Lince Woof
16. Neles Elokpore
17. Yotam Kosay
18. Debora Penggu
19. Eny Lani
20. Raga Kogoya
21. Milka Siep
22. Markus You

Setelah dijemur di halaman Mapolres, ke-22 orang ini diminta identitas berkali-kali sekaligus difoto wajah dan badan korban. Kemudian digiring ke ruang Reskrim (tahanan) sambil diinterogasi oleh pihak Reskrim di ruang terpisah.

Reporter WPNews yang diinterogasi oleh penyidik Reskrim bernama Yuli Satrio Wijayanto di ruangnya dengan 25 pertanyaan berhasil dijawab dengan menyakinkan tanpa keragu-raguan. Selama interogasi suasana cukup akrab kendati dijebak dengan dua pertanyaan yang boleh dikatakan "pertanyaan bodoh".

Pak Polisi tanya: "Apakah Markus mau Papua Merdeka atau Indonesia? Sa jawab: "Tentunya Bapak Yuli tra usah kas pernyataan begini. Karna sa sebagai orang Papua, bapak sendiri su tau apa suara hati kecil saya saat ini. Sa orang Papua, ya sa mo Merdeka. Titik".

Kemudian Pak Yuli, tanya lebi lanjut, "Ade Markus ko harus ingat orang tua yang susah payah di pedalaman Paniai. Apalagi ade pergi sekolah jauh-jauh di Jawa. Ade puaskan orang tua dulu. Nanti mo jadi apa tanah ini, kita ikuti saja. Kaka juga hanya jalankan tugas diatas Tanah Papua ini," demikian nasihatnya seraya mengaku diri lahir-besar di Jayapura walaupun orang tua asli Jawa tapi cukup berjasa karena berjuang membebaskan Irian Jaya waktu itu.

Untuk pertanyaan lainnya berkisar soal keterlibatan dalam aksi demonstrasi hingga dibawa ke Mapolres Jayapura, semua dijawab tuntas. Dan, Rupanya interogasi serupa juga dialami teman-teman lain di masing-masing ruangan. Akhirnya, proses interogasi hingga sidik jari dan perawatan luka-luka itu berakhir sekitar pukul 8 malam WPB.

Sebagai jaminan adalah beberapa anggota DPRD Papua: Dokter John Manangsan, Drs. Alberth Yogi, Drs. Derek Pakage dan Diaz Gwijangge. Mereka berkali-kali datang ke hadapan para korban di ruang tahanan, dan mereka menemui Kapolres Jayapura untuk membereskan surat jaminan keamanan bagi korban ke depan.

Sekitar pukul 20.25, massa bersama para korban dibawa dengan truk Mapolres Jayapura menuju ke Abepura. Sedangkan, Eny, Raga, Jefta, Milka, Mama Lince, dan Debora diantar oleh Albert Yogi ke RS Dian Harapan untuk perawatan lebih lanjut serta tes darah akibat kena "suntikan misterius" itu. Selebihnya, menuju ke RSUD Abepura untuk perawatan luka-luka.
Saya sendiri tra ikut rombongan berobat dan lebih mengutamakan mengirim berita ini agar segera disebarluaskan ke publik. *****

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece