|
||||||
Update
Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
|
|
Militerisme
Ratusan Ribu Rakyat Papua yang memadati Halaman Kantor Pengadilan Negeri Jayapura, pada hari Selasa (10/4) tadi siang, berakhir dengan bentrokan. Menurut pantauan WPNews, bentrokan berawal ketika Penasehat Hukum-nya (PH) Yusak Pakage dan Fillep Karma batal mendampingi kedua kliennya. Alasan yang dipakai Hakim, katanya karna PH terlambat memasuki ruang persidangan. Sidang tetap berjalan sebagaimana diatur jadual persidangan, kendati kedua terdakwa tra didampingi PH. Ironisnya, hukuman yang dijatuhkan kepada kedua terdakwa pun tak berdasar hukum yang jelas. Pasal-pasal yang dipakai hakim pun ternyata hanyalah "pasal karet" saja. Padahal, Filep dan Yusak adalah dua insan dari sekian ratusan ribu massa yang sempat menghadiri perayaan 1 Desember lalu. Mereka berdua hanya menjadi tumbal dari kesewenang-wenangan dan ketidakadilan serta rekayasa yang dilakukan aparat keamanan bersama penegak hukum negera ini yang masih menjajah Tanah Papua. Tepat pukul 11 siang, massa terlibat bentrok lantaran aparat keamanan menciptakan situasi yang memang disetting sedemikian rupa. Situasi tersebut mengundang massa emosi. Terlihat jelas segelintir orang yang dipasang untuk memprovokasi keadaaan, sehingga kenyamanan dan keamanan selama massa berorasi dan bernyanyi-nyanyi di depan Kantor PN Jayapura pun tak terkontrol. Akhirnya, bentrokan pun tak terhindarkan. Aparat mengejar massa hingga keluar pagar PN Jayapura, bahkan "baku-kejar" di sepanjang jalan raya Kotaraja Abepura. Sejumlah toko, Saga Mall, Bank BRI, Bank Papua, warung-warung, ditutup seketika. Sekilas seperti disaksikan WPNews, aparat kepolisian mengejar massa, bahkan tidak sedikit "Anak Papua" juga yang turut kejar "Anak Papua". Saat itu sangat nampak tidak sedikit "Yudas Papua" yang turut mengejar massa. Moment tersebut berhasil diabadikan WPNews, hanya sayangnya kamera yang sedang ditangan itu dirusakan aparat. Bahkan, Reporter WPNews juga ikut ditahan dan dibawa ke Mapolres Jayapura bersama 21 orang lainnya. WPNews menyaksikan hampir semua yang ditahan telah mengalami luka-luka yang cukup parah, baik di kepala, pelipis, tangan, kaki, lutut, dahi, punggung. Bahkan, menurut salah satu korban, Raga Kogoya, ia ketika digiring masuk ke dalam truk Mapolres, sempat disuntik oknum polisi. Entah suntikan apa? Hingga berita ini ditulis, Raga bersama Jefta Kalakmabin dan beberapa lainnya melakukan tes darah di RS Dian Harapan Waena. Berikut nama-nama yang ditahan, diperiksa dan melakukan sidik jari di Mapolres Jayapura: 1. Marthen Mote 2. Decky Yobee 3. Jefta Kalakmabin 4. Kane Pahabol 5. Athen Mote 6. Yermia Kayame 7. Alli Boma 8. Yan Kayame 9. Petrus Tenouye 10. Amos Pigome 11. Pilius Wenda 12. Rumer Wanimbo 13. Nellius Kogoya 14. Alfius Muyapa 15. Mama Lince Woof 16. Neles Elokpore 17. Yotam Kosay 18. Debora Penggu 19. Eny Lani 20. Raga Kogoya 21. Milka Siep 22. Markus You Setelah dijemur di halaman Mapolres, ke-22 orang ini diminta identitas berkali-kali sekaligus difoto wajah dan badan korban. Kemudian digiring ke ruang Reskrim (tahanan) sambil diinterogasi oleh pihak Reskrim di ruang terpisah. Reporter WPNews yang diinterogasi oleh penyidik Reskrim bernama Yuli Satrio Wijayanto di ruangnya dengan 25 pertanyaan berhasil dijawab dengan menyakinkan tanpa keragu-raguan. Selama interogasi suasana cukup akrab kendati dijebak dengan dua pertanyaan yang boleh dikatakan "pertanyaan bodoh". Pak Polisi tanya: "Apakah Markus mau Papua Merdeka atau Indonesia? Sa jawab: "Tentunya Bapak Yuli tra usah kas pernyataan begini. Karna sa sebagai orang Papua, bapak sendiri su tau apa suara hati kecil saya saat ini. Sa orang Papua, ya sa mo Merdeka. Titik". Kemudian Pak Yuli, tanya lebi lanjut, "Ade Markus ko harus ingat orang tua yang susah payah di pedalaman Paniai. Apalagi ade pergi sekolah jauh-jauh di Jawa. Ade puaskan orang tua dulu. Nanti mo jadi apa tanah ini, kita ikuti saja. Kaka juga hanya jalankan tugas diatas Tanah Papua ini," demikian nasihatnya seraya mengaku diri lahir-besar di Jayapura walaupun orang tua asli Jawa tapi cukup berjasa karena berjuang membebaskan Irian Jaya waktu itu. Untuk pertanyaan lainnya berkisar soal keterlibatan dalam aksi demonstrasi hingga dibawa ke Mapolres Jayapura, semua dijawab tuntas. Dan, Rupanya interogasi serupa juga dialami teman-teman lain di masing-masing ruangan. Akhirnya, proses interogasi hingga sidik jari dan perawatan luka-luka itu berakhir sekitar pukul 8 malam WPB. Sebagai jaminan adalah beberapa anggota DPRD Papua: Dokter John Manangsan, Drs. Alberth Yogi, Drs. Derek Pakage dan Diaz Gwijangge. Mereka berkali-kali datang ke hadapan para korban di ruang tahanan, dan mereka menemui Kapolres Jayapura untuk membereskan surat jaminan keamanan bagi korban ke depan. Sekitar pukul 20.25, massa bersama para korban dibawa dengan truk Mapolres Jayapura menuju ke Abepura. Sedangkan, Eny, Raga, Jefta, Milka, Mama Lince, dan Debora diantar oleh Albert Yogi ke RS Dian Harapan untuk perawatan lebih lanjut serta tes darah akibat kena "suntikan misterius" itu. Selebihnya, menuju ke RSUD Abepura untuk perawatan luka-luka. Saya sendiri tra ikut rombongan berobat dan lebih mengutamakan mengirim berita ini agar segera disebarluaskan ke publik. ***** © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|