Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Freeport MacMoRan
LNG BP Bintuni
Kegiatan Logging
Pembangunan
Alam Berbicara
Ekologi/ Ekosistem
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Kegiatan Logging

Terapkan Prinsip Hutan Produksi Lestari di Papua
By Kompas
Jul 7, 2005, 20:15

 
Sentani, Kompas - Prinsip pengelolaan hutan berbasis produksi lestari sudah saatnya ditegakkan untuk mencegah penebangan liar (illegal logging) di berbagai wilayah di Papua. Sistem ini lebih mengutamakan pelestarian hutan dan memberdayakan masyarakat pemilik hak ulayat. Sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) dalam praktiknya cenderung tidak diterapkan pada semua kondisi hutan yang sangat beragam di Papua.

Direktur WWF Bioregion Sahul Papua Benja Viktor Mambay di sela-sela Semiloka Hutan Produksi Berbasis Masyarakat Adat, di Sentani, Rabu (7/6), mengatakan, persoalan penebangan liar di Papua tidak harus diatasi dengan penghentian seluruh kegiatan pengelolaan hutan sebagaimana dilakukan saat Operasi Hutan Lestari (OHL) II di Papua selama sekitar dua bulan terakhir. Sebab, itu tidak menyelesaikan semua persoalan sekitar hutan.

Semiloka yang diikuti hampir seluruh komponen masyarakat itu bertujuan memantapkan program pelestarian hutan berbasis hutan produksi lestari.

Menurut Mambay, masyarakat tak boleh dilarang mengelola hutan di tanah kelahirannya, tetapi mereka juga tak boleh dibiarkan melakukan penebangan secara tidak teratur. Sistem TPTI yang dikeluarkan pemerintah tidak cocok diterapkan di lapangan karena kondisi biofisik hutan sangat variasi, seperti tipe hutan Australasia di Papua.

Kepala Dinas kehutanan Papua Ir Marthen Kayoi mengemukakan, luas hutan di Papua 40,5 juta hektar, 20,9 juta hektar di antaranya hutan produksi. Kawasan hutan yang rusak mencapai 3,7 juta hektar. (kor)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece