Update Terakhir: Jul 16th, 2005 - 20:32:25
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Freeport MacMoRan
LNG BP Bintuni
Kegiatan Logging
Pembangunan
Alam Berbicara
Banjir/ Longsor
Gempa
Kecelakaan
Hama / Penyakit
Badai/ Gelombang
Petir/ Hujan
Ekologi/ Ekosistem
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Kecelakaan

MUSIBAH KMP DIGOEL : RATUSAN NYAWA DITELAN LAUT ARAFURA, MAHASISWA/I PAPUA MERAUKE DI SELURUH INDONESIA BUNGKAM TOTAL
By WPRNA NEWS
Jul 16, 2005, 20:22

 

West Papua Revolutionary News Agency

Merauke - (WPRNANews) - ADA yang mengerikan dalam kasus tenggelamnya KMP Digoel di Laut Arafura pada hari Kamis (7/7) lalu. Walaupun musibah tersebut telah merenggut ratusan nyawa Rakyat Papua dan belasan nyawa Migran Pendatang dan saat ini menjadi fokus perhatian media massa lokal mapun nasional, Mahasiswa/I Papua Merauke yang tersebar di seluruh Indonesia lebih memilih bungkam terhadap musibah tersebut.

Para Mahasiswa/I tenggelam dalam aktivitas mereka sebagai budak kurikulum kolonial yang berbau penjinakan, ada yang sibuk mengurus Pilkada Kabupaten/Kota maupun Provinsi, ada yang sibuk berpesta pora dengan Minuman Keras, dlsbnya, sehingga mereka bersikap apatis, pasif, bahkan lupa terhadap musibah tersebut. Tidak terlintas dalam pikiran mereka bahwa musibah tersebut merupakan Kejahatan terhadap Kemanusiaan yang harus dilawan.

Di Merauke dan beberapa Kota Studi seperti Jayapura, Jakarta dan Manado, para pimpinan Ikatan Mahasiswa/I dikabarkan sedang bersembunyi untuk menghindari kemungkinan desakan dari Rakyat atau para Mahasiswa/I sendiri untuk melakukan aksi protes dalam bentuk apa saja terhadap pihak-pihak yang terkait langsung dengan musibah ini.

Sikap Mahasiswa/I yang menunjukkan karakter dasar Intelektual Penjilat Pantat Penjajah ini sangat disesalkan oleh Rakyat Papua Merauke yang sangat mengharapkan bantuan para Mahasiswa/I sebagai kaum intelektual untuk memerangi Kejahatan tersebut.

"Rakyat-lah yang membiayai studi mereka melalui pajak atau kiriman langsung dalam bentuk transferan, tetapi mereka lebih dengar Pejabat dan Orang Pendatang. Mereka lupa bahwa kita sedang dihancurkan karena kemampuan nalar mereka telah dibunuh oleh para Dosen Kolonial sehingga hampir semua anak-anak kita yang Mahasiswa/I bermental Penjilat Pantat Penjajah dan Anti Rakyat sendiri." Tutur seorang Tokoh Masyarakat Muyu di Kelapa V - Merauke kepada Crew WPRNANews.

Tokoh Masyarakat tersebut menyatakan keheranannya atas sikap Mahasiswa/I Papua Merauke yang tidak jelas karena mereka bungkam total. Ia menyatakan bahwa sikap bungkam para Mahasiswa/I Papua Merauke sama artinya dengan sikap gembira atas musibah tersebut.

"Anak-anak kita punya sikap kurang jelas karena mereka bungkam. Kalau bungkam itu artinya senang atas kematian ratusan orang-orang kita itu. Kami Rakyat Jelata yang tidak sekolah ini belum dengar ada Mahasiswa/I yang tampil melawan Kejahatan ini. Mereka semua bersama Pemerintah menyalahkan Alam Laut Arafura dan rencana bikin Misa Requiem sana sini." Tuturnya dengan nada kecewa.

Perlu disadari bahwa sikap bungkam Mahasiswa/I Papua Merauke di seluruh Indonesia dan Misa Requiem yang direncanakan untuk dibuat jelas menunjukkan Impotensi Mahasiswa/I Papua Merauke dalam berhadapan dengan Sistem Barbar Indonesia dan secara khusus tidak akan menyelamatkan nyawa saudara/I kita yang jadi korban.

Langkah ini sesungguhnya merupakan upaya penyelamatan terhadap pihak-pihak yang paling bertanggungjawab atas musibah ini, yaitu Departemen Perhubungan, Pihak Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Merauke dan Kontraktor/Pengusaha yang menitipkan muatan Alat Berat dan Puluhan Ton BBM tujuan Tanah Merah Digoel. Kita akan diarahkan untuk menyalahkan Alam dan menganggap musibah ini sebagai kebodohan para korban.©wprnanews



© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece