Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Kekejaman Negara
Terorisme Dunia
Mati Misterius
Kejahatan Milisi
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Kejahatan Milisi

"Domba" Berusaha Menghilangkan Nyawa "Gembala" : Upaya Pembunuhan Sdr. Selpius Bobii Oleh Frans Abbar (Kepala Kampung Pir Vb - Arso) Melalui Peracunan Minuman
By B.J.Kwila
Jul 22, 2005, 02:49

 
"Peracunan Makanan dan Minuman Merupakan Sebuah Siasat Pembantaian Yang Diterapkan Oleh NKRI Terhadap Orang Papua, Secara Khusus Bagi Para Pembela Kebenaran dan Keadilan. Kini Pemerintah Republik Indonesia Memanfaatkan Orang Papua Untuk Membunuh Saudara-Saudarinya, Lebih Khusus Pembela Kebenaran dan Keadilan. Orang Papua Dipakai Menjadi Intel. Berarti orang Papua Kini Menjadi Yudas–Yudas Baru Untuk Menjual Saudara/I-nya. Jika Orang Papua Membunuh Salah Seorang Pejuang, Berarti Secara Tidak Langsung Menjual Dirinya, Sesamanya, Tanah dan Bangsa Papua".


B. J. Kwila

BIASANYA pada bulan Juli dan Juli setiap tahun, mahasiswa STFT-Fajar Timur Padang Bulan Abepura-Papua, baik tingkat I sampai dengan tingkat IV menjalani stage. Mahasiswa/I semester II menjalani masa stage kemasyarakatan. Tujuannya turut bergabung dengan masyarakat untuk merasakan suka dan duka yang dialami oleh masyarakat. Bagi mahasiswa semester IV menjalani stage penelitian. Tujuannya bergabung dengan masyarakat dan meneliti dan mengangkat permasalahan yang dialami oleh masyarakat setempat. Sedangkan bagi masiswa semester VI pada bulan Juni dan Juli menjalani masa stage pengabdian. Tujuannya adalah melayani umat di wilayah tertentu atau lain kata menjadi "pastor kecil" di suatu stase atau kring.

Saudara Selpius Bobii (Ketua Senat Mahasiswa STFT-Fajar Timur, yang akan berakhir masa baktinya pada bulan Agustus 2005) juga sebagai aktivis pro-demokrasi keadilan dan kebenaran yang kini bergerak dalam wadah "Koalisi Perjuangan Hak-Hak Asasi Rakyat Sipil Papua", berada pada semester VI, maka suka atu tidak suka, mau atau tidak mau harus menjalani stage pengabdian di suatu wilayah. Wilayah yang ditentukan oleh pihak Akademik adalah Pir Vb dan Wambes Kampung dekat perbatasan PNG. Stage Wambes dan Pir V termasuk dalam Paroki Arso.

Pada tanggal 6 Juni Bobii meninggalkan STFT-Fajar Timur, berangkat menuju ke tempat stage. Sampai di Pir Vb Wambes, ia disambut oleh umat setempat. Sebagai Mahasiswa Calon Petugas Gereja di Papua, ia harus menjalankan beberapa tugas yang telah dipercayakan oleh Pastor Paroki dan juga ketua stase. Pekerjaan yang dilakukan selama stage adalah pembinaan ibu-ibu Wanita Katolik, pembinaan Mudika (Muda-Mudi Katolik), pembinaan para pewarta, pembinaan calon permandian, komuni pertama, pembinaan calon pernikahan, memimpin perayaan-perayaan, yakni Ibadat Pada hari minggu, doa keluarga dan doa Wanita Katolik serta kunjungan ke keluarga setempat.

Pembinaan-pembinaan berjalan dengan baik. Namun, selama pembinaan, khususnya pembinaan calon permandian, ada satu keluarga, yakni kelurga Frans Abbar (Kepala Kampung Pir Vb) yang telah mendaftarkan nama anaknya untuk dibabtis, tidak mengikuti pembinaan persiapan calon permandian. Karena itu, Bobii mendatangi rumah mereka pada tanggal 5 Juli 2005. Namun, yang ada di rumah hanyalah anak perempuannya. Oleh karena itu, Bobii hanya menitipkan pesan untuk diberitahukan kepada bapaknya bahwa pada tanggal 6 Juli 2005 pagi dan sore hari ada pembinaan anankya di Gereja. Pada esok paginya, tanggal 6 Juli 2005, pak Frans (juga istrinya) tidak muncul, akhirnya sesudah pembinaan dengan calon babtis lain, Bobii mengunjungi keluarga tersebut untuk mencari tahu mengapa mereka tidak datang mengikuti pembinaan persiapan anaknya.

Sesampainya di rumah keluarga Frans Abbar, ia disambut baik oleh tuan rumah, yakni Frans. Pak Frans kemudian memberitahukan alasannya, mengapa ia tidak datang mengikuti pembinaan. Alasanya adalah karena keluarga Frans menghendaki Sdr. Bobii harus datang ke rumah mereka untuk menjalankan pembinaan. Pak Frans juga mengatakan bahwa selama pembinaan di rumahnya, ia akan menyiapkan makanan dan minuman buat Sdr. Bobii. Pak Frans selanjtunya menuju ke dapur sambil mengatakan sesuatu kepada anaknya (anak ke 2) dengan menggunakan bahasa daerah (bahasa ibu) setempat, sehingga Sdr. Bobii tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Ketika itu, salah seorang pewarta Muda bernama Yoseph Povai datang untuk mendampingi Sdr. Bobii.

Tak lama kemudian, Frans kembali ke kamar tamu dan memberitahukan kepada Sdr. Bobii dan rekannya bahwa ia telah menyuruh anaknya membuat Teh. Ketika mendengar ungkapan tersebut, Sdr. Bobii merasa keberatan dan langsung mengatakan bahwa dirinya telah minum teh. Sdr. Bobii menolak tawaran tersebut. 10 menit kemudian anaknya membawa minuman teh sebanyak 2 gelas yang berisi dalam gelas berwarna biru. Satu untuk sdr. Selpius dan satu untuk buat rekan pendampingnya. Ketika menyodorkan minuman tersebut, Sdr. Bobii menolak untuk kedua kalinya, namun Frans mendesak agar ia meminum teh yang telah dihidangkan. Di dalam teh tersebut ada buih-buih, atau gelembung-gelembung kecil. Karena didesak oleh tuan rumah, Sdr. Bobii terpaksa meminum minuman tersebut.

Tak lama kemudian (beberapa menit setelah minun Teh), badannya berkeringat seperti ketika sedang berjalan kaki pada siang bolong. Keringat itu disertai dengan kepala pening (pusing-pusing) dan sakit perut. Gejala tersebut membuat matanya seperti melihat banyak kunang-kunang. Karena tidak tahan mengalami gejala tersebut, Sdr. Bobii bersama rekannya berpamitan pulang. Sebelum meninggalkan tempat tersebut, Sdr. Bobii memberitahu bahwa pada tanggal 7 Juli 2005 ada pembinaan persiapan calon baptis di Gereja. Tuan rumah menyatakan bahwa ia akan berusaha hadir untuk ikut pembinaan. Mereka meninggalkan tempat tersebut, dan ditengah jalan Sdr. Bobii bertanya kepada rekannya, bagaimana kondisi badannya sesudah minum teh tersebut. Rekanya mengatakan ia tak mengalami apa-apa. Sdr. Bobii menyampaikan apa yang dialaminya. Sdr. Bobii kemudian membeli susu di sebuah kios terdekat. Sesampai di tempat transit, Susu tersebut diminumnya, tetapi karena hampir muntah, ia tidak menghabiskan susu tersebut. Susu yang masih tersisa itu dibawa ke rumah tempat ia menginap dan bersama dengan tuan rumah, mereka minum pada sore hari.

Pada sore harinya, walaupun sakit, Sdr. Bobii memimpin doa keluarga. Besoknya, pada tanggal 7 Juli pada pagi Jam 08.00 WPB, Sdr. Bobii menuju ke Gereja untuk mengadakan pembinaan calon persiapan babtis. Calon lain sudah ada di Gereja, sedangkan keluarga Frans Abbar yang kemarinnya memberi minum teh, tidak muncul. Walaupun kepalanya dalam keadaan sakit, menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya, maka Sdr. Bobii dengan terpaksa membina beberapa keluarga. Sesudah pembinaan, ia bersama ketua stage bapak Engel Magai menuju ke Paroki untuk bertemu dengan pastor paroki menyampaikan keadaan kesakitan Sdr. Bobii sekaligus melaporkan kegiatannya pembinaan serta pelayanan yang dilakukannya selama kurang lebih 1 bulan 4 hari. Selama perjalanan menuju ke paroki, anak kepala kampung membuntuti mereka dari belakang. Sampai di Paroki, mereka bertemu dengan Pastor Paroki dan menyampaikan keberadaannya dan pelayanan yang dilaluinya. Mengenai kesehatannya, Pastor Paroki mengingatkan bahwa Sdr. Bobii harus selalu waspada karena orang yang selalu menyuarakan suara rakyat selalu diintai dan dicari untuk dibunuh. Kini banyak orang dipasang untuk menghabisi nyawa para pejuang Papua. Pada pertemuan itu juga Sdr. Bobii memberitahu bahwa jika kondisi badanya semakin memburuk, maka dirnya akan meninggalkan tempat pelayanan dan kembali kampus untuk berusaha mengobati kesakitannya, hanya melalui doa. Setelah bertemu Pastor Paroki, mereka kembali ke Pir Vb. Selama perjanalan pulang, Sdr. Bobii mengalami kesakitan yang luar biasa di kepalanya. Anak Kepala Kampung yang kemarin menyediakan Teh masih tetap membuntuti mereka dari belakang. Sesampai di tempat transit, Sdr. Bobii berpamitan pulang kembali STFT-Fajar Timur untuk menjalani perawatan dengan jalan doa. Anak kepala Kampung tetap membuntuti mereka, sehingga membuat Sdr. Bobii mengambil kesimpulan bahwa dirinya telah diracuni lewat minuman teh oleh kepada kampung (Frans Abbar) bersama anaknya. Sebagai "Gembala", Sdr. Bobii mau dibunuh oleh "Domba-Domba"-nya.

Sdr. Selpius Bobii naik bus kota dan menuju pulang ke STFT-Fajar Timur. Tiba di STFT-FT sekitar jam 16.00 WPB. Pada sore harinya, Sdr. Bobii langsung mencari pendoa untuk mendoakan penderitaannya. Ia dibantu oleh dua orang pendoa, dan kini sedang dalam proses pemulihan. Awal-awalnya merasa kawatir bahwa dirinya akan meninggal dunia, namun, nampaknya masih ada tanda-tanda kehidupan dan masih ada waktu untuk menyuarakan suara dari rakyat tertindas bersama rekan lain.

Sdr. Selpius Bobii mempunyai prinsip, yakni tiada artinya dirinya kuliah di STFT-Fajar Timur, hanya tinggal di Asrama dan makan dan minum, belajar dan tidur, hanya berada dalam dinding-dinding kampus dan asrama, sementara orang Papua mengidungkan kidung ratapan, tangisan dan harapan untuk menuju Papua Baru. Dirinya mempunyai motto: "Servire Ergo Sum", yang artinya : "saya ada di bumi ini untuk melayani sesama yang berteriak minta tolong". Karena dirinya berpikir bahwa tangisan dan jeritan serta harapan rakyat adalah data. Data adalah kebenaran. Suara rakyat tertindas adalah suara Tuhan. Sama seperti pejuang lain, ia mempunyai prinsip, maju menegakkan kebenaran dan keadilan adalah keharusan bagi orang Papua, dan mati dalam medan perjuangan adalah kebanggaan. Satu orang mati dalam medan perjuangan, tumbuh seribu. Neokolonialisme, neo-Imperialisme yang ditopang oleh militerisme akan dipatahkan oleh orang-orang yang maju dengan berani dan melawan. Selama ada anak negeri yang berani mengatakan yang benar kepada NKRI dan melawan penindasan, maka nasionalisme Papua tak akan pernah padam dan pudar. Kalaupun banyak siasat yang dilakukan oleh Indonesia untuk mematahkan nasionalisme Papua, namun sia-sia juga. Percuma saja Indoenssia membuang-buang materi, tenaga dan pikiran untuk mengintai para pejuang kebenaran dan keadilan. Karena usaha mereka sudah, sedang dan akan gagal total. Akhir dari penderitaan dan perjuangan, orang Papua pasti akan meraih kemangan, yakni Papua Pasti akan Merdeka. Karena kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka itu hak bangsa Papua juga. Kini agenda rakyat telah ambang pintu, yakni tanggal 15 Agustus 2005, rakyat Papua akan kembalikan OTSUS. Maka itu, kini tiba saatnya untuk orang Papua bersatu, kibarkan panji-panji, siaplah tenaga, pikiran dan materi untuk maju dan melawan penindasan. Inilah prinsip-prinsip yang ditanamkannya dalam menyuarakan suara akar rumput Papua.

Pada tanggal 11 Juli 2005 jam 10.30 WPB, kala berada dalam pembaringan meratapi penderitaannya, ia bermimpi. Ada tiga hal yang ditayangkan dalam mimpinya, yakni 1) ORANG PAPUA HARUS MENGOLAH ISU; hal ini jelas sekali kini banyak isu yang disebarkan oleh BIN (Badan Intelejen Negara, dan isu tersebut membingungkan massa rakyat; 2) ORANG PAPUA HARUS BERSATU; nampaklah bahwa kini orang Papua terpecah-belah; ada ungkapan yang selalu dilontarkan, kami dari kepala burung, kamu dari ekor, kami dari pantai, kamu dari pedalaman, kami dari kelompok perjuangan ini, kamu dari perjuangan itu. Bahkan ada orang yang sedang membangun pembusukan untuk menjatuhak elemen pergerakan atau secara person; jika hal inilah yang terjadi perjuangan kita akan gagal, maka orang Papua harus bersatu, karena kita telah mengikuti dukungan luar negeri sudah meningkat, maka kini tiba saatnya orang Papua harus bersatu; 3) ORANG PAPUA HARUS MENYIAPKAN MAKANAN, karena masalah Papua tak lama lagi akan menghagat dan barangkali toko-toko akan tutup.

Jika disimak lebih jauh mimpi tersebut, nampaknya betul juga. Maka, sebaiknya orang Papua memperhatikan ketiga hal yang ditayangkan dalam mimpi tersebut di atas.

"Kebenaran tetaplah kebenaran, kebenaran dapat disalahkan, akan tetapi tak pernah dikalahkan; kebenaran adalah tetaplah kebenaran; dan kebenaran pada hakekatnya adalah suatu ke-mutlak-an yang tak dapat dipatahkan dan dikalahkan oleh siapapun dan dengan kekuatan apapun". *****

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece