Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Kekejaman Negara
Operasi Militer
Ancaman/ Terror
Militerisme
Kerjasama Militer
Terorisme Dunia
Mati Misterius
Kejahatan Milisi
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Kerjasama Militer

Ketua Komisi A DPRD Papua: Potensi Kekerasan di Papua Besar
By Sinar Harapan, Selasa, 02 Agustus 2005
Aug 2, 2005, 03:58

 
Jakarta - Yance Kayame, Ketua Komisi A DPRD Papua yang membidangi politik dan hukum, dalam percakapan melalui telepon dengan SH, Senin (1/8) mengatakan bila Pemerintah RI tidak tegas dalam masalah Papua ini, maka akan muncul berbagai gerakan di tanah Papua, di Jakarta dan di luar negeri.

“Potensi kekerasan ini akan besar selama tidak ada ketegasan sikap,” katanya. Dan bila hal itu berkembang, maka Pemerintah akan berhadapan dengan pihak-pihak di Amerika Serikat, Eropa, Australia atau Selandia Baru, apakah itu LSM atau parlemen, yang memanfaatkan isu tidak diaksanakannya UU Otonomi Khusus secara baik.

“Masyarakat di Papua sangat mudah dibangkitkan. Bahkan berbagai surat dari anggota DPR AS dan lain-lain sudah banyak beredar di masyarakat dan mereka anggap hal itu sebagai dukungan merdeka, walau hal ini sebenarnya baru wacana,” kata Yance.

Dalam kaitan ini, dia menegaskan bahwa DPRD Papua sangat mendukung pelaksanaan Otonomi Khusus di seluruh wilayah Papua, termasuk di eks Irian Jaya Barat.

Dalam pandangannya, penundaan pilkada di Irian Jaya Barat yang sedianya 28 Juli lalu ternyata juga tidak menimbulkan gejolak apa-apa di lapangan, itu artinya masyarakat di sana mendukung Otonomi Khusus.

Sebagai solusinya dia menganjurkan: dalam satu atau dua hari ini batalkan Inpres No 1/2003, jalankan keputusan MK dan batalkan Provinsi Irian Jaya Barat; agendakan pilkada di seluruh kabupaten/kota di Irian Jaya Barat; dorong pembentukan Majelis Rakyat Papua, yang akan disahkan pada September mendatang; pemilihan gubernur Papua di seluruh eks Irian Jaya yang meliputi 29 kabupaten/kota.

Yance sendiri, yang sudah berada di Jakarta selama tiga minggu dan berusaha menemui Mendagri, Menko Polhukam dan Presiden, namun selalu gagal, mengatakan bila dirinya dan para anggota DPRD Papua lainnya tetap ditolak, maka mereka tidak akan mau bertemu lagi dengan para pejabat dari Jakarta meski diundang sekalipun.

Garda Terdepan

Dalam percakapan dengan SH, Sabtu (30/7), Ketua DPRD Irian Jaya Barat, Jimmy Ijie, mengatakan bahwa Provinsi Irjabar adalah garda terdepan untuk mempertahankan wilayah Papua agar tidak terlepas dari Republik Indonesia. Karenanya, dia sangat menyesalkan sikap Depdagri yang menunda pelaksanaan Pilkada di Irjabar hingga batas waktu yang tak ditentukan.

“Ini adalah bentuk tiadanya penghargaan Pemerintah di Jakarta terhadap mereka yang berjuang agar Papua tetap berada dalam wilayah RI,” kata Jimmy.
Peraturan Presiden (Perpres) yang menjadi pedoman pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) di Irjabar saat ini sudah ada di meja Sekretariat Negara (Setneg) dan tinggal menunggu tanda tangan Presiden. Hal ini dikatakan Kepala Pusat Penerangan Departemen Dalam Negeri (Depdagri) Ujang Sudirman kepada SH, Senin (1/8).
“Tinggal tunggu Presiden, itu yang kita tidak tahu sampai kapan,” kata Ujang.

Di dalamnya juga diatur soal kemungkinan pemberian status otonomi khusus di sana.

Keberadaan Perpres ini merupakan langkah pemerintah dalam menindaklanjuti putusan dan fatwa Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan UU No.45/1999 tentang Pembentukan Provinsi Irjabar, Kabupaten Paniai, Mimika, Puncak Jaya, dan Kota Sorong.

Kodam Siap

Pangdam XVII Trikora Mayjen TNI George Toisutta kepada wartawan usai menjadi Inspektur Upacara HUT ke-53 Kodam XVII Trikora di Jayapura, Senin (1/8) menegaskan Kodam XVII Trikora pada dasarnya siap membantu kepolisian dan pihaknya sudah menyiapkan pasukan untuk membantu aparat kepolisian guna mengantisipasi aksi 15 Agustus. “Saya dari Angkatan Darat akan tegas untuk tetap menjaga keutuhan wilayah negara ini,” katanya lagi.

Pangdam juga menegaskan tanggal 15 Agustus mendatang tidak ada perayaan apa-apa di Papua. Ini merupakan tanggapannya mengenai kabar akan adanya 3.000 warga pedalaman yang akan turun untuk merayakan tanggal 15 Agustus. “Yang ada hanya HUT RI pada 17 Agustus,” tegasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Dewan Adat Papua (DAP) Fadhal Al Hamid didampingi Ketua Dewan Adat Byak Manawir Yan Pieter Yarangga, dan Ketua Adat Wilayah Mamta, Forkorus Yaboisembut, kepada wartawan, Jumat (29/7) di Jayapura, bahwa masyarakat adat Papua memberi waktu bagi pelaksanaan otsus Papua sampai tanggal 15 Agustus 2005.

Setelah batas waktu tersebut, masyarakat adat Papua akan mendesak eksekutif Provinsi Papua untuk mengembalikan UU No 21/2001 kepada Pemerintah RI. Tanggal 15 Agustus dipilih karena berkaitan tak dilibatkan rakyat Papua dalam New York Agreement 15 Agustus 1962. Aksi damai yang akan digelar pada tanggal 15 Agustus 2005 di halaman kantor DPRP dan semua kantor DPRD Kabupaten/Kota setanah Papua.
(Odeodata H Julia/Jayapura, Kristanto Hartadi, Fransisca R Susanti/Jakarta)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece