|
||||||
Update
Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
|
|
Kejahatan Milisi
Suara Papua Merdeka Wilayah Merauke
Banyaknya Umat Katolik Non Papua yang berpartisipasi dapat dibuktikan dengan barisan Pawai yang memanjang sejauh 4 km. Uskup Emeritus Mgr Jacobus Duivenvoorde, MSC yang mencanangkan Tanah Marind sebagai Tanah Damai saat itu melepas 2 ekor burung merpati ke udara sambil mengklaim bahwa Tuhan menjanjikan Tanah Marind sebagai Tanah Damai, seolah-olah Tuhan Allah merestui kejahatan Gereja Katolik terhadap Masyarakat Adat Marind Imbuti. "Ini sebagai tanda bahwa Tanah Marind sungguh-sungguh sebagai Tanah Damai. Karena Tuhan sudah memperjanjikan tanah ini sebagai Tanah Damai," ujar Duivenvoorde saat melepaskan 2 ekor Burung Merpati ke udara sebagai simbol perdamaian. Kebutuhan Migran Pendatang Konsep Tanah Damai yang dicanangkan oleh Gereja Katolik itu merupakan wujud dari sebuah konspirasi antara Gereja, Penguasa NKRI dan Migran Pendatang yang intisarinya disesuaikan dengan kebutuhan Migran Pendatang. Kebutuhan Migran Pendatang yang utama adalah kedamaian di Papua, supaya mereka dapat menguasai tanah dan berkembangbiak sebanyak mungkin. Langkah ini merupakan strategi Keuskupan Agung Merauke untuk menetralisir kegiatan 15 Agustus 2005. "Kita Orang Marind Imbuti jadi korban karena tanah kita dikuasai oleh Puanim (Pendatang - red). Anak bisa lihat, kita tergusur ke pinggir pantai, sementara pusat kota dikuasai oleh Puanim. Alam ini saksi bisu, bahwa tanah kita jatuh ke tangan puanim setelah kita dijebak masuk agama katolik oleh misionaris kulit putih, " ungkap seorang Tokoh Adat Imbuti kepada SPMNews Maro. Dikatakan, Tanah Damai yang dicanangkan oleh Uskup Duivenvoorde dan Gereja Katolik adalah murni untuk migran pendatang, karena Konsep Damai bikin Orang Papua lemah dan biarkan tanah mereka dikuasai cuma-cuma. "Paitua Putih dia canangkan Tanah Marind sebagai Tanah Damai itu hanya untuk puanim. Tujuannya supaya kita jadi loyo dan mereka basmi kita sesuai aturan main yang Indonesia sudah patok. Lebih dari itu, Keuskupan sedang kerja sama dengan semua elemen Penjajah untuk menggagalkan 15 Agustus 2005", ujarnya menjelaskan. Teror Milisi Katolik Non Papua Pro Jakarta & Vatikan Umat Katolik Papua yang sebagian besar tidak mengambil bagian dalam kegiatan tersebut menilai bahwa Pawai Iman tidak lain adalah Aksi Unjuk Kekuatan atau Show Force yang didemonstrasikan oleh Milisi Katolik Non Papua yang pro Jakarta dan Vatikan. Tujuan jelas, untuk teror Umat Katolik Papua supaya tanggal 14 Agustus nanti tidak boleh ada protes besar-besaran terhadap Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke sebagai Basis Apartheid di Papua Selatan. Mereka juga menilai bahwa Bendera Indonesia dan Vatikan yang dibawa bersama Salib Besar menunjukan kepentingan asing yang besar atas Tanah dan Manusia Papua. "Milisi Katolik Non Papua unjuk gigi supaya kita takut mereka dan biarkan kejahatan mereka yang selalu dibungkus dengan Jubah Katolik dapat terus berlangsung. Bendera Indonesia dan Vatikan yang diarak selama Pawai menunjukan dengan jelas bahwa mereka berkepentingan atas tanah dan manusia Papua. Kita tidak sadar bahwa dua negara asing sedang mengobrak-abrik Alam dan tatanan adat kita". Ungkap seorang Umat Katolik Papua yang minta namanya dirahasiakan. Pawai itu sendiri dimulai pukul 12.00 siang (WIT) hingga pukul 17.00 WIT, dengan Start awal dari Pantai Mbuti menyusuri Jalan Arafura-Jalan Noari-Jl Raya Mandala-Jalan Ahmad Yani-Jalan Brawijaya dan berakhir di Lapangan Pemda. Perpecahan Umat Katolik Papua dan Non Papua akibat manipulasi berbau rasisme dalam pencalonan dan pentahbisan Uskup Agung Merauke tahun lalu sedang menjadi "PR" bagi Gereja Katolik saat ini. Uskup Emeritus Mgr Jacobus Duivenvoorde, MSC sebagai tokoh yang bertanggungjawab dalam manipulasi itu sedang berjuang keras agar perpecahan itu dapat berakhir. Kembali kepada Umat Katolik Papua : Mau bersatu supaya terus dihancurkan atau melawan supaya selamat. Memang sulit juga kalau tokoh-tokoh Katolik Papua dan Mahasiswa Papua Merauke masih gemar menjilat pantat migran pendatang dan Uskup mereka, Mgr. Nico Adisaputra, MSC.(imbuti) © Copyright 2003-2005 by watchPAPUA
|
|