Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Kekejaman Negara
Terorisme Dunia
Mati Misterius
Kejahatan Milisi
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Kejahatan Milisi

Jacobus Duivenvoorde Lepas Pawai Iman Di Merauke : Kebutuhan Migran Pendatang, Teror Milisi Katolik Non Papua
By SPMNews Maro
Aug 6, 2005, 07:23

 
SPMNews Maro
Suara Papua Merdeka Wilayah Merauke

J. Duivenvoorde
Merauke - (SPMNews) -- RIBUAN Umat Katolik yang sebagian besar adalah Katolik Non Papua mengambil bagian dalam Pawai Iman di Merauke, Senin (1/8) lalu. Uskup Emeritus Mgr Jacobus Duivenvoorde, MSC pada kesempatan itu mencanangkan Tanah Marind sebagai Tanah Damai. Pawai Iman tersebut dilaksanakan sebagai rangkaian kegiatan Keuskupan Agung Merauke dalam menyongsong Perayaan 100 Tahun kehadiran Injil di Papua Selatan tanggal 14 Agustus nanti dan juga untuk mengantisipasi Aksi Mogok Nasional 15 Agustus 2005.

Banyaknya Umat Katolik Non Papua yang berpartisipasi dapat dibuktikan dengan barisan Pawai yang memanjang sejauh 4 km. Uskup Emeritus Mgr Jacobus Duivenvoorde, MSC yang mencanangkan Tanah Marind sebagai Tanah Damai saat itu melepas 2 ekor burung merpati ke udara sambil mengklaim bahwa Tuhan menjanjikan Tanah Marind sebagai Tanah Damai, seolah-olah Tuhan Allah merestui kejahatan Gereja Katolik terhadap Masyarakat Adat Marind Imbuti.

"Ini sebagai tanda bahwa Tanah Marind sungguh-sungguh sebagai Tanah Damai. Karena Tuhan sudah memperjanjikan tanah ini sebagai Tanah Damai," ujar Duivenvoorde saat melepaskan 2 ekor Burung Merpati ke udara sebagai simbol perdamaian.

Kebutuhan Migran Pendatang

Konsep Tanah Damai yang dicanangkan oleh Gereja Katolik itu merupakan wujud dari sebuah konspirasi antara Gereja, Penguasa NKRI dan Migran Pendatang yang intisarinya disesuaikan dengan kebutuhan Migran Pendatang. Kebutuhan Migran Pendatang yang utama adalah kedamaian di Papua, supaya mereka dapat menguasai tanah dan berkembangbiak sebanyak mungkin. Langkah ini merupakan strategi Keuskupan Agung Merauke untuk menetralisir kegiatan 15 Agustus 2005.

"Kita Orang Marind Imbuti jadi korban karena tanah kita dikuasai oleh Puanim (Pendatang - red). Anak bisa lihat, kita tergusur ke pinggir pantai, sementara pusat kota dikuasai oleh Puanim. Alam ini saksi bisu, bahwa tanah kita jatuh ke tangan puanim setelah kita dijebak masuk agama katolik oleh misionaris kulit putih, " ungkap seorang Tokoh Adat Imbuti kepada SPMNews Maro.

Dikatakan, Tanah Damai yang dicanangkan oleh Uskup Duivenvoorde dan Gereja Katolik adalah murni untuk migran pendatang, karena Konsep Damai bikin Orang Papua lemah dan biarkan tanah mereka dikuasai cuma-cuma.

"Paitua Putih dia canangkan Tanah Marind sebagai Tanah Damai itu hanya untuk puanim. Tujuannya supaya kita jadi loyo dan mereka basmi kita sesuai aturan main yang Indonesia sudah patok. Lebih dari itu, Keuskupan sedang kerja sama dengan semua elemen Penjajah untuk menggagalkan 15 Agustus 2005", ujarnya menjelaskan.

Teror Milisi Katolik Non Papua Pro Jakarta & Vatikan

Umat Katolik Papua yang sebagian besar tidak mengambil bagian dalam kegiatan tersebut menilai bahwa Pawai Iman tidak lain adalah Aksi Unjuk Kekuatan atau Show Force yang didemonstrasikan oleh Milisi Katolik Non Papua yang pro Jakarta dan Vatikan. Tujuan jelas, untuk teror Umat Katolik Papua supaya tanggal 14 Agustus nanti tidak boleh ada protes besar-besaran terhadap Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke sebagai Basis Apartheid di Papua Selatan. Mereka juga menilai bahwa Bendera Indonesia dan Vatikan yang dibawa bersama Salib Besar menunjukan kepentingan asing yang besar atas Tanah dan Manusia Papua.

"Milisi Katolik Non Papua unjuk gigi supaya kita takut mereka dan biarkan kejahatan mereka yang selalu dibungkus dengan Jubah Katolik dapat terus berlangsung. Bendera Indonesia dan Vatikan yang diarak selama Pawai menunjukan dengan jelas bahwa mereka berkepentingan atas tanah dan manusia Papua. Kita tidak sadar bahwa dua negara asing sedang mengobrak-abrik Alam dan tatanan adat kita". Ungkap seorang Umat Katolik Papua yang minta namanya dirahasiakan.

Pawai itu sendiri dimulai pukul 12.00 siang (WIT) hingga pukul 17.00 WIT, dengan Start awal dari Pantai Mbuti menyusuri Jalan Arafura-Jalan Noari-Jl Raya Mandala-Jalan Ahmad Yani-Jalan Brawijaya dan berakhir di Lapangan Pemda.

Perpecahan Umat Katolik Papua dan Non Papua akibat manipulasi berbau rasisme dalam pencalonan dan pentahbisan Uskup Agung Merauke tahun lalu sedang menjadi "PR" bagi Gereja Katolik saat ini. Uskup Emeritus Mgr Jacobus Duivenvoorde, MSC sebagai tokoh yang bertanggungjawab dalam manipulasi itu sedang berjuang keras agar perpecahan itu dapat berakhir.

Kembali kepada Umat Katolik Papua : Mau bersatu supaya terus dihancurkan atau melawan supaya selamat. Memang sulit juga kalau tokoh-tokoh Katolik Papua dan Mahasiswa Papua Merauke masih gemar menjilat pantat migran pendatang dan Uskup mereka, Mgr. Nico Adisaputra, MSC.(imbuti)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece