Update Terakhir: Aug 6th, 2005 - 13:08:19
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Isu Kesehatan
Isu Perempuan
Isu Kesukuan
Hukum Adat
Tanah Adat
Kesenian
Isu Terkait
Duka/ Belasungkawa
Isu Umum
Isu Melanesia
Isu Keagamaan
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Isu Kesukuan

Masyarakat Pedalaman Papua Bentuk Polisi Adat
By Tempo
Aug 6, 2005, 13:02

 
TEMPO Interaktif, Jayapura:Kepala Polda Papua, Irjen Pol Doddy Sumantyawan H.S. mengakui telah ada pengerahan massa dari masyarakat pedalaman Jayapura, seperti di wilayah Bonggo, Nimbokrang, dan Kemtuk Gresik.

Selain itu telah ada perekrutan ratusan warga sipil orang di wilayah Kabupaten Jayapura, Keerom dan Serui untuk menjadi Polisi Adat menjelang 15 Agustus. “Saya harap semua itu dihentikan,” katanya kepada wartawan, Sabtu (6/8).

Rencananya pada 15 Agustus akan terjadi pengerahan massa secara besar-besaran dari masyarakat Papua itu untuk mengembalikan otonomi khusus kepada pemerintah pusat. Para pemimpin kempok agama, seperti Uskup Jayapura, Leo L Labaladjar OFM, Ketua MUI Papua H. Hussein Dg. Zubeir, Ketua Sinode GKI di tanah Papua Herman Saud, Sekretaris Budhayana Indonesia Provinsi Papua Pandita Arya Bodhi Jasmani, Ketua Parisadha Hindu Dharma Provinsi Papua I Wayan Sudha, menyerukan kepada seluruh umat di Papua agar tidak terpengaruh dengan isu yang berkembang dan tetap menjadikan Papua sebagai zona damai.

“Jangan terprovokasi dengan isu pengerahan massa secara besar-besaran pada 15 Agustus nanti,” kata Direktur Sekretariat Keadilan Sejahtera (SKP) Keuskupan Jayapura.

Mereka menilai aspirasi pengembalian Otsus oleh Dewan Adat Papua, dan konsentrasi massa di Jayapura hanya aspirasi biasa yang merupakan kebebasan berpendapat di muka umum yang juga telah diatur dalam UUD 1945.

“Isu tentang 15 Agustus masyarakat Papua ingin merdeka adalah salah besar. Jangan terpancing,” kata Herman Saud menambahkan. Masyarakat Papua, lanjutnya, harus memakai hati nurani dan akal sehat untuk menilai kabar burung yang banyak beredar saat ini. Lita Oetomo



© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece