Update Terakhir: Aug 10th, 2005 - 00:06:43
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Gerilya
Dukungan Dunia
Usaha Diplomasi
Dialog Politik
Demo/ Protes
Petisi/ Surat
Gugat Pepera 69
Penegakan Hukum
Kisah Perjuangan
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Dialog Politik

DAP Inginkan Ada Pengakuan, Dari Peringatan Hari Pribumi Sedunia di Pendopo Alm.Theys
By Cepos
Aug 10, 2005, 00:03

 
SENTANI-Peringatan Hari Pribumi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 9/8, kemarin dipusatkan di Pendopo Kediaman Alm Theys H Uluay. Acara yang sempat diindikasikan berkaitan isu pengembalian Otsus tanggal 15/8 nanti ternyata salah besar.

Acara peringatan Hari Pribumi sedunia yang rencananya akan dilangsungkan di Lapangan Trikora Abepura, kemarin terpaksa dirubah secara mendadak dikarenakan lapangan tersebut dikatakan oleh Kepala Distrik Abepura akan dilakukan latihan Paskibra menjelang HUT RI.

Kemudian acara dialihkan ke Pendopo kediaman Alm.Theys H Eluay di Jl Bis tir Pos Sentani. Peringatan hari Pribumi sedunia dimulai pukul 10.00 wit diisi ibadah bersama yang dihadiri Ketua LMA Mandpa Korkorus Yaboi Senbut sekaligus sebagai penanggung jawab acara, Sekertaris DAP Frans Imbiri, Ketua Pemerintah Adat Sentani, juga Tokoh dan masyarakat Adat se-Jayapura.

Dalam mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan Polres Jayapura menurunkan sekitar 400 personel gabungan.

Dalam ceramahnya Sekretaris Dewan Adat Papua (DAP) Leonard Imbiri mengatakan, bahwa selama ini masyarakat kita (Papua) dalam menyalurkan aspirasinya telah dibatasi oleh pemerintah, baik lokal maupun pusat. Bahkan menurut catatan, negara luar pun turut andil di dalamnya. "Sehingga tujuan kami berkumpul disini adalah selain memperingati Hari Pribumi Sedunia, kami ingin membangun solidaritas bersama, menyatukan visi untuk memperjuangkan hak-hak yang selama ini belum diakui," jelasnya.

"Bahkan dalam satu dekade dari tahun 1999 hingga 2004 Undang-undang mengenai pelanggaran HAM di atas Tanah Papua masih belum diratifikasi. Kami selaku Dewan Adat Papua akan terus memeperjuangkan hak-hak kami yang selama ini ditindas.

Kami juga meminta harus ada pengakuan dari NKRI, Belanda, AS, dan juga dari PBB bahwa dalam kurun waktu 40 tahun di atas Tanah Papua ini telah terjadi teror, intimidasi, dan juga pembantaian. Disini kami ingin mempertanyakan pertanggung jawaban hal tersebut kepada Pemerintah pusat dan juga Negara luar yang ikut terlibat," tegasnya.

Disamping itu lanjutnya, pihaknya juga akan terus memperjuangkan dan meneriakkan hak atas tanah, hak berpolitik, dan hak untuk hidup yang selama ini selah-olah ditiadakan. "Saya mewakili DAP juga meminta kepada Pemerintah Pusat maupun Daerah untuk secara aktif memberi ruang yang cukup dan tidak membatasi upaya-upaya dari rakyat dalam menyalurkan aspirasi dan hak-haknya yang diwujudkan tidak secara konferensi akan tetapi perilaku dari aparat TNI dan Polri,"katanya.

Di akhir acara Sekertaris DAP menghimbau kepada masyarakat Papua untuk terus memperjuangkan apa yang menjadi aspirasi dan keinginan masyarakat secara damai. Selain itu, berpesan kepada masyarakat Papua agar berhati-hati terhadap orang yang ingin memecah belah dan menghancurkan apa yang menjadi tujuan masyarakat selama ini. Acara ini kemudian ditutup dengan penaburan bunga serta doa bersama pukul 13.41wit di makam Almarhum Theys H.Eluay.(cr-138)

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
UN Expert Says Action Needed to Prevent Genocide in Several African Countries
Interview du réalisateur Stéphane Breton
The hellish truth behind Papua's paradise
LAPORAN PERTEMUAN DI KANTOR PBB
Pemeriksaan Tersangka Bintang Kejora Dihentikan
Perang Terorisme
Dandrem Asiswanto: Prajurit TNI jangan takut HAM
Yance Demetouw Bantah Latih TPN/OPM
TPN/OPM Masih Perlu Diwaspadai
Warga Papua Mengaku Disiksa
Danrem: Untuk Pastikan Penembak Moses Douw Perlu Uji Balestik
Eko Terorisme
TEMUAN SPESIES BARU DI PAPUA MENDAPAT PERHATIAN DI AS
PAPUA DAN IRJA BARAT MILIKI 56 DAERAH KONSERVASI SDA
LIPI UMUMKAN SPESIES BARU DARI MEMBRAMO PAPUA
Wapres Inginkan Bagi Hasil Freeport 300%
Wamang Mengaku Menembak Dengan Senjata SS1 dan M16, Pelurunya Dibeli dari Jakarta Seharga Rp 6 Juta
Politik Indonesia
MRP Perlu Fasilitasi Rekonsiliasi Papua Soal Irjabar
Otsus di Luar Aceh dan Papua Ancaman bagi NKRI
Agus Alua: MRP Dilematis,Ibarat Keluar dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Singa
BAP Penembakan di Wagete Sudah Dilimpahkan ke Odmil
John Ibo: NKRI Adalah Awal dan Akhir
Editorial & Opini
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah
2006: Aceh Damai, Papua Cemas
2006, Suhu Politik di Papua Diprediksi Memanas!
Pemimpin Papua Barat, Belajarlah dari Evo Morales
Fokus Isu
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Pemerintah Didesak Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Timor Leste
Pelanggaran HAM Timor Leste RI Tak Direkomendasi ke Pengadilan Internasional
Xanana Akan Bawa Laporan Soal Kekejaman Indonesia ke PBB
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece