Update Terakhir: Mar 8th, 2006 - 22:29:48
SPM Berandah 
Papua Merdeka
Perang Terorisme
Eko Terorisme
Politik Indonesia
Otonomi Khusus
Kebijakan Penjajah
Hubungan LN
Hukum & Demokrasi
Editorial & Opini
Fokus Isu
Publikasi



WPNews Versi Iinggris
Kabar VFWPA, Port Vila
Kirim Artikel Lewat Email
Baca Article di-Email
Kabar WPPRO Port Vila

Pilih/ Lihat Polling
Daftar/Lihat Buku Tamu


Alamat Surat:
euroPress Desk
c/o 54 Evora Park, Howth, Dublin,
Rep. of Ireland
     
Kebijakan Penjajah

Pemerintah Pusat Dinilai ”Cuci Tangan” soal Papua
By Daniel Duka Tagukawi/Odeodata H Julia
Aug 18, 2005, 04:55

 
Jakarta – Sekretaris Dewan Adat Papua (DAP), Fadhal Al-Hamid sangat menyesalkan sikap pemerintah dalam menyikapi persoalan Papua. Sebab, pemerintah pusat terkesan hendak melempar persoalan ke Papua. Padahal, persoalan Papua dipicu berbagai kebijakan dari pusat.

”Pemerintah tidak pernah sadar diri, tidak pernah merasa bersalah, meski tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakan Otsus Papua. Seolah masalah hanya ada di DPRP (Dewan Perwakilan Rakyat Papua) dan eksekutif di Papua. Pemerintah pusat hanya mau ‘cuci tangan’ dalam persoalan Papua,” jelas Fadhal ketika dihubungi SH dari Jakarta, Selasa (16/8). Dia mengatakan, berbagai persoalan yang muncul berkaitan dengan Otsus Papua sesungguhnya disebabkan kebijakan pemerintah pusat, misalnya intervensi dalam pemekaran wilayah dan keterlambatan pembentukan MRP.

”Misalnya, penggunaan dana Otsus itu harus melalui MRP. Tapi, pemerintah tidak mengeluarkan PP MRP, tapi mengucurkan dana Otsus. Ini kan kesalahan pemerintah pusat. Begitu juga dengan pemekaran Irjabar,” tegasnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal (Dirjen) Kesatuan Kebangsaan dan Politik (Kesbangpol) Departemen Dalam Negeri (Depdagri), Sudarsono, mengatakan, keinginan DAP untuk mengembalikan UU Otonomi Khusus (Otsus) Papua merupakan bentuk kritik terhadap pelaksanaan Otsus Papua yang dilaksanakan Pemerintah Daerah dan DPR Papua.

Dia menegaskan, sejak permberlakuan Otsus Papua, pemerintah sudah mengalokasikan dana Otsus dari Rp 1,1 triliun pada tahun 2002 dan tahun 2005 ini menjadi Rp 1,7 triliun. Kalau mengacu ketentuan UU, maka 30 persen dana Otsus itu harus ditujukan untuk pendidikan.

Mengenai adanya pengembalian UU Otsus, Sudarsono mengatakan, tidak ada mekanisme seperti itu dalam sistem hukum di Indonesia. Namun, karena sikap itu bentuk kritik terhadap pelaksanaan Otsus, maka perlu ada dialog antara berbagai komponen di Papua.

Ia menambahkan, keinginan mengembalikan Otsus oleh DAP dan persoalan pilkada merupakan dua hal yang berbeda. Mengenai pelaksanaan Pilkada, tambahnya, pemerintah sedang mencari jalan terbaik, karena Irjabar ingin menggelar pilkada Irjabar tanpa Majelis Rakyat Papua (MRP), sementara ada keinginan dari Papua, agar pilkada Irjabar digelar setelah adanya MRP.

Aspirasi Merdeka
Secara terpisah, Gubernur Papua JP Solossa mensinyalir adanya kepentingan di balik demo pengembalian otonomi khusus Papua, termasuk penyaluran aspirasi Papua Merdeka.
Dikatakannya, dari awal semua aspirasi yang ada di Papua selalu berbicara soal ketidakkonsistenan pemerintah pusat dalam menjalankan otonomi khusus.

Kemudian isu itu mengemuka dalam satu dua bulan terakhir ini mulai dari soal pendapat Kongres Senat Amerika kemudian belakangan ini santer dikatakan Otsus Papua tidak berhasil. ”Ujungnya dari katakan Otsus tidak berhasil dan suruh kembalikan Otsus kemudian suruh periksa dan sebut nama saya,” ujarnya.

Aksi damai pengembalian Otsus yang dilakukan oleh DAP memang menyebut nama Solossa sebagai salah satu pihak yang ikut terlibat dalam penyalahgunaan dana Otsus. Tudingan ini membuat Solossa berang.

Source: Sinar Harapan

© Copyright 2003-2005 by watchPAPUA

Top of Page Email this article 
Printer friendly page

 

     
Latest Headlines
Papua Merdeka
LAPORKAN HASIL KONGRES NASIONAL I TPN-PB CREW SPMNews DIPECAT
SANGKUR YIKWA BUKAN ANGGOTA TPN/OPM
Polisi Usut Perusakan Monumen Mandala
Press Release Front Pepera PB : Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan James Bob Moffet Segera Tutup PT Freeport Indonesia!
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
Perang Terorisme
Senator AS Pertanyakan Keamanan Warga Papua
Terdakwa Kasus Wagete Dituntut 5 Bulan Penjara
Demo FRPAM ke DPRP Nyaris Ricuh
KUTUKAN KP- AMP ATAS INSIDEN FREEPORT DI TIMIKA PAPUA BARAT
Ruben Edoway Bantah Pernyataan GT Situmorang
Eko Terorisme
Desak, Renegosiasi Kontrak Kerja Freeport
AKSI TUJUH ELEMEN PERGERAKAN MHS DAN PRODEM TUNTUT TOLAK TDL DAN TUTUP FREEPORT
PERNYATAAN SIKAP TUJUH SUKU DI PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA
MRP Turunkan Tim untuk Temui Tujuh Suku
SERUAN AKSI DI TIMIKA PAPUA BARAT
Politik Indonesia
Pro-Kontra Irjabar: MRP Menyimpang dari Komitmen
Penyelesaian Politik Papua Harus Sesuai UU Otsus
Empat Kabupaten Tetap Tolak Pilkada Irjabar
Menhan: Masalah Papua Persoalan Multidimensional
MRP Sesalkan Jakarta Dorong Pilkada Irjabar
Editorial & Opini
KAPAN PAPUA MERDEKA?
PAPUA DIANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN GENOCIDE
PT Freeport-Rio Tinto: Lambang Kejahatan Kemanusiaan atas Papua Barat
PESAN BURUK DARI PAPUA
SURAT DARI OPM MALMO KEPADA JHON IBO DI TANAH PAPUA BARAT
Fokus Isu
ALLAH PAPUA BUKAN BERAGAMA TETAPI KOMUNIS
Green Piece: Di Papua tak Perlu Ada HPH
Islam, Otonomi dan Papua Merdeka
RUU PA Dinilai Bahayakan NKRI
Gus Dur: Negara Kita Sudah Jadi Tertawaan Orang
Publikasi
TERJEMAHAN SINGKAT BUKU P. J DROOGLEVER
BUKU BARU: BERBURU KEADILAN DI PAPUA
Laporan Khusus: Luka Setelah Pepera
Buku Drogleever Sebatas Kebutuhan Akademis ?
Temuan Prof Drooglever: Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah”


Content Management System

   2003-2005 watchPAPUA. All rights reserved. WPNews Group of the Diary of Online Papua Mouthpiece